syubidubidudamdam.. cuap!!

May 2, 2008

Ki Hadjar Dewantoro dan Pendidikan

Filed under: Uncategorized — yuti @ 9:10 pm

Hari Pendidikan Nasional selalu membuat saya terkenang akan jaman SD. Kita selalu diingatkan betapa beruntungnya kita bisa mengenyam pendidikan. Dan itu semua adalah jasa para pahlawan: Ki Hadjar Dewantoro, R.A. Kartini, hingga pahlawan2 tanpa tanda jasa alias guru2 kita.

Tapi semasa sekolah, seingat saya HarDikNas tak ada bedanya dengan hari2 lain, kecuali ada upacara bendera di pagi harinya dan kami menyanyi “terpuuujilaah.. waahaaaiii engkauu.. ibu bapak guruuu..” Berbeda dengan hari Kartini misalnya, dimana murid2 heboh berpakaian nasional dan diadakan lomba membuat tumpeng dan merangkai bunga. Atau malah hari valentine, dimana beberapa teman bagi2 coklat (tentu saja saya tidak ikut2an membagi2 coklat, namun akan menerima dengan tangan terbuka jika ada yang memberi coklat ;p). Hmm.. Buat apa ditetapkan hari peringatan kalau tidak diperingati ya?

HarDikNas ini sekaligus HUT Ki Hadjar Dewantoro. Pahlawan nasional yang digambarkan memakai peci dan kacamata itu. Saya pun punya pengalaman menarik dengan Eyang Dewantoro ini. Tidak, saya tidak setua itu sampai pernah hidup satu masa dengan beliau. Begini ceritanya:

Di ruang tengah rumah nenek saya di Boyolali, dipasang sebuah foto berukuran cukup besar di tempat kehormatan, yaitu di atas pintu gebyog. Mukanya cukup familiar, jadi saya berpikir “Ini pasti Simbah Kakung”. Kakek saya sudah meninggal jauh hari sebelum saya nongol di dunia ini.

Lalu pada suatu hari ketika saya sudah SMP, Papah sibuk mencari foto kuno kakek, mencetak repro-nya, dan memesan pigura.

Buat apa Pah?
Ini mau Papah pasang di rumah Simbah. Di rumah itu kan belum ada foto Simbah Kakung yang dipasang.
Heh..??
Lho Pah, yang di atas gebyog itu foto siapa?
Papah menatap saya, tampak berpikir keras. Lalu beliau segera menyadari kebodohan anaknya tercinta. “Itu kan gambarnya Ki Hadjar Dewantoro!
Oohhh… pantesan familiar.. Tentu saja saya pernah melihatnya di buku sejarah. Jadi selama belasan tahun, saya ber-kakek-kan seorang pahlawan nasional to??

Tapi saya nggak sepenuhnya salah kok. *membela diri* Dari fotonya, kakek saya memang mirip2 Ki Hadjar Dewantoro. Maksud saya peci dan kacamatanya itu lho.. Lagian, kenapa juga keluarga saya memajang fotonya Ki Hadjar Dewantoro instead of foto kakek? Keluarga juga bukan.. Hmm, jangan2 nenek saya dulu ngefans sama Ki Hadjar..

***

Pendidikan. Telah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk mendidik anaknya. Dan orangtua seharusnya menyadari bahwa sekolah itu hanyalah suatu sarana. Sayangnya masih ada orangtua yang kurang peduli dan memasrahkan kebutuhan anaknya begitu saja pada sekolah. Satu contoh yang saya perhatikan di pre-school tempat saya kerja part-time dulu:

Sebut saja Bunga. Ketika masuk sekolah, anak perempuan itu sudah berusia 2 tahun lebih tapi belum juga bisa berjalan. Pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa dirinya baik2 saja. Semua normal. Setelah diamati, ternyata anak itu tidak pernah diajarkan untuk berjalan. Orangtuanya bekerja, dari pagi hingga malam. Baby-sitter selalu menggendongnya. Alhasil, Bunga sendiri tidak merasa perlu untuk berjalan. Setelah dilatih di sekolah, dalam 2 minggu anak itu mampu berjalan sendiri.

Tidak sedikit anak2 dari keluarga yang kedua orangtuanya bekerja menjadi ‘anak pembantu’. Tidak mengherankan jika kemampuan anak2 itu relatif tertinggal dibandingkan dengan anak2 yang mendapat curahan perhatian langsung dari orangtuanya. Biasanya ‘anak pembantu’ ini manja, terkadang sikapnya kurang ajar terhadap orang yang lebih tua, dan pada anak2 yang cerdas: memiliki kosa kata yang luar biasa, seperti karakter dari Sinema Unggulan Indosiar. :D

Tadi di Metro TV ada acara yang membahas tentang plus minus home-schooling. Ternyata jika orangtua supportive & mampu mendidik anaknya, tanpa sekolah formal pun anak2 itu mampu bersaing dengan anak2 lain yang bersekolah formal. Menarik sekali. Sayang urusan ijazah, pengakuan & kesetaraannya masih cukup ribet.

Yah.. dunia pendidikan di Indonesia memang seru dan menarik. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

April 30, 2008

Desa Wisata Jamur

Filed under: Uncategorized — yuti @ 5:17 pm

Dalam perjalanan menuju Samigaluh, di barat Godean, terdapat papan penunjuk ke arah utara bertuliskan Desa Wisata Jamur 3 km. Saya dan teman saya langsung ingin mengunjunginya dalam perjalanan pulang.

Kami pulang pukul 13. Panas, haus, dan lapar. Kami sudah membayangkan makan siang dengan makanan aneka jamur. Dalam perjalanan, mulut saya komat-kamit menyebutkan nama-nama jamur, “Jamur merang, champignon, jamur tiram, jamur kuping, enoki, hmm..” Mungkin kami akan membawa pulang sebagai oleh2 untuk keluarga di rumah.

Kami berbelok sesuai petunjuk. Kami menghitung jarak, 1.. 2.. 3 km. Di mana desa itu? Kanan dan kiri jalan terbentang sawah luas. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju utara.

4 km sudah perjalanan dari perempatan tempat papan penunjuk itu dipasang dan masih tidak ada tanda2 ada desa wisata jamur. Kami bertanya pada seorang gadis penjaga counter HP. Dia tidak tahu. Kami berbalik arah dan bertanya pada serombongan anak SMP yang sedang mengutak-atik motor.

“Itu lho mbak, ada papan penunjuknya.”

“Tapi itu kan budidaya udang galah dik.”

“Iya di situ.”

Maka kami menuju ke arah yang ditunjukkan anak2 SMP itu. Di daerah itu banyak restoran lobster air tawar, rumah dari jaringan restoran Mang Engking. Kami berhenti untuk membaca menu di salah satu pintu masuk restoran. Lobster air tawar, ikan gurameh, ikan nila.. Tidak ada jamur. Bukannya kami tidak doyan makanan itu, tapi harga makanan tersebut benar2 tidak sesuai dengan kondisi dompet kami yang belum mendapat asupan gaji.

Kami menduga jamur itu dibudidayakan di dalam desa yang teduh karena tidak mungkin mereka menumbuhkan jamur di daerah dekat kolam yang panas. Kami pun masuk ke dalam desa.

Setelah berputar2 tanpa hasil, tak melihat tanda2 budidaya jamur dan tak ada orang yang bisa ditanya (desa itu seperti desa hantu), kami memutuskan untuk pulang.

Ketika kami akan keluar dari desa itu, pandangan kami tertumbuk pada sebuah batu besar di mulut jalan. Kami menghampirinya. Ternyata itu adalah batu tanda peresmian, dengan tanda tangan pejabat setempat. Tulisannya:

Peresmian Desa Wisata Kawasan Budidaya Udang Galah
Jamur, Sendang Rejo, Minggir, Sleman

Oalaah.. Jamur itu nama desanya to?

April 23, 2008

Manis (tanpa Manja) Group

Filed under: Tentang Pangan — yuti @ 5:39 pm

*Hasil ndomblong di kantor ^_^*

Beberapa bulan yang lalu beredar pesan yang berisi peringatan untuk tidak mengkonsumsi sejumlah minuman yang tercantum dalam daftar. Alasannya karena minuman tersebut mengandung SIKLOMAT, suatu bahan kimia yang dipercaya dapat menyebabkan penyakit lupus.

Maksud dari pesan itu baik, yaitu agar konsumen di Indonesia lebih cermat dan waspada dalam memilih produk yang akan mereka konsumsi. Namun penyampaian pesan2 semacam itu acap kali mengandung informasi yang kurang tepat dan mungkin malah bisa menyesatkan di kemudian hari.

Pertama, bahan yang dimaksud adalah siklamat (atau cyclamate dalam bahasa Inggris). Bukan siklomat ya.. Kalau Siklomat itu temannya Siklamit. Mereka berdua membantu kerja Dukun.
Contoh kalimat: “Dukun, Klomat, Klamit membaca mantera.”

Siklamat ini bukan barang baru kok. Siklamat dan temannya yang sudah lebih ngartis, sakarin, adalah contoh pemanis buatan yang memiliki intensitas kemanisan lebih tinggi dibandingkan dengan gula sukrosa.

Gula sukrosa adalah gula pasir yang biasa kita konsumsi. Kalau di Indonesia biasanya berasal dari tebu, sedangkan di Eropa banyak diperoleh dari bit (beet, bukan byte). Sukrosa ini biasa dijadikan standar kemanisan pemanis2 lain. Misalnya: fruktosa 1.7x manis sukrosa, stevia 250x manis sukrosa, sorbitol 0.6x manis sukrosa, dst. Sukrosa ini merupakan karbohidrat murni, dengan kandungan energi 3.94 kkal per gram. Jangan banyak2 mengkonsumsi gula ya! Hal itu bisa menyebabkan obesitas dan resistensi terhadap insulin (dengan kata lain = diabetes).

Banyak perusahaan minuman ringan yang kini mengganti pemakaian sukrosa dengan pemanis alternatif. Yang paling banyak digunakan adalah high fructose corn syrup (HFCS) yang selain lebih manis juga memiliki indeks glisemik yang lebih rendah sehingga relatif lebih aman bagi penderita diabetes (meskipun hal ini masih menjadi perdebatan para ahli gizi). HFCS ini bukan murni fruktosa lho, tapi campuran glukosa dan fruktosa. Di Indonesia, terdapat sirup jenis ini dengan merek Rose Brand.

Masih banyak pemanis alternatif lainnya, baik yang alami maupun buatan. Yang alami contohnya adalah stevia (dari daun stevia, banyak dipakai untuk pemanis minuman), sorbitol dan xilitol (dalam permen anti-karies gigi), serta beberapa jenis protein (seperti monelin, pentadin, dan braselin). Sedangkan yang buatan, selain siklamat dan sakarin yang telah disebutkan, adalah asesulfam-K, aspartam, sukralosa, dll.

Para pemanis alternatif itu bisa kita temui di supermarket dengan berbagai merek. Formulasi dari merek2 itu pun bermacam2; ada yang murni satu jenis pemanis buatan, ada yang campuran beberapa pemanis buatan, ada yang campuran gula sukrosa dengan pemanis buatan, dan ada yang murni pemanis alami seperti saya.. *ahee..* ;)

Berikut saya tampilkan tabel para pemanis alternatif, baik yang alami maupun buatan. Nama pemanis kebanyakan tertulis dalam bahasa Inggris karena selain beberapa nama jadi wagu jika di Indonesia-kan (misal: Miraculin jadi Mirakulin, mengaburkan asal katanya yaitu dari miracle fruit), saya khawatir, siapa tahu beberapa nama merupakan nama paten yang tidak boleh di Indonesia-kan.

Pemanis alternatif alami

No. Nama Dibandingkan dengan sukrosa Kode Keterangan lain
Kemanisan terhadap berat Kemanisan terhadap energi Densitas energi
1 Brazzein 800× Protein
2 Curculin 550× Protein
3 Erythritol 0.7× 14× 0.05×
4 Fructose 1.7× 1.7× 1.0×
5 Glycyrrhizin 50×
6 Glycerol 0.6× 0.55× 1.075× E422
7 Hidrolisat pati terhidrogenasi 0.4-0.9× 0.5-1.2× 0.75×
8 Lactitol 0.4× 0.8× 0.5× E966
9 Lo Han Guo 300×
10 Mabinlin 100× Protein
11 Maltitol 0.9× 1.7× 0.525× E965
12 Mannitol 0.5× 1.2× 0.4× E421
13 Miraculin Tidak manis, tapi memodifikasi reseptor rasa sehingga rasa asam terasa manis sementara Protein
14 Monellin 3000× Protein
15 Pentadin 500× Protein
16 Sorbitol 0.6× 0.9× 0.65× E420
17 Stevia 250×
18 Tagatosa 0.92× 2.4× 0.38×
19 Thaumatin 2000× E957 Protein
20 Xylitol 1.0× 1.7× 0.6×

Pemanis buatan

No. Nama Kemanisan dibanding sukrosa (by weight) Kode Status Terdapat dalam produk
1 Acesulfame potassium (acesulfame-K) 200× E950 Ijin FDA 1988 Nutrinova, Tropicana Slim Gula Tebu Rendah Kalori
2 Alitame 2000× Pending ijin FDA Pfizer
3 Aspartame 160-200× E951 Ijin FDA 1981 Equal, NutraSweet, Tropicana Slim (Classic, Lemon C, Antioxidant)
4 Garam aspartame-acesulfame 350× E962 Twinsweet
5 Cyclamate (siklamat) 30× E952 Dilarang FDA 1969, peninjauan kembali
6 Dulcin (dulsin) 250× Dilarang FDA 1950
7 Glucin 300×
8 Neohesperidin dihydrochalcone 1500× E959
9 Neotame 8000× Ijin FDA 2002 NutraSweet
10 P-4000 4000× Dilarang FDA 1950
11 Saccharin 300× E954 Ijin FDA 1958
12 Sucralose 600× E955 Ijin FDA 1998 Splenda, Tate & Lyle, Diabetasol NuLife, Tropicana Slim Zero Calorie
13 Isomalt 0.45-0.65× E953

Ada yang menarik dengan sukralosa. Sukralosa adalah pemanis buatan yang berasal dari sukrosa atau raffinosa, dengan tiga atom Cl menggantikan tiga gugus –OH. Merek terkenal yang menggunaan sukralosa adalah Splenda. Mari kita lihat struktur sukrosa dan sukralosa

Mirip ya? Tapi efek penggantian gugus –OH itu membuat sukralosa 600 kali lebih manis daripada sukrosa. Sukralosa ini menjadi tidak dikenali di dalam tubuh dan tidak masuk dalam jalur metabolisme sehingga tidak dikonversi menjadi energi. Meskipun termasuk senyawa organoklorida, sukralosa tidak larut maupun terakumulasi dalam lemak seperti organoklorida lain sehingga aman digunakan selama dalam batas tertentu, ADI 15mg/kg berat badan/hari. Misal berat saya 50 kg (itu berat sesungguhnya ding..) maka saya bisa mengkonsumsi hingga 750mg sukralosa per hari tanpa efek samping. Jika satu kemasan Splenda beratnya 1g (berat sesungguhnya kurang dari 1g), terdiri dari 95% dekstrin sebagai filler dan kurang dari 1.5% sukralosa (kurang dari 15mg per saji), maka batas penggunaan Splenda untuk saya adalah 50 kemasan per hari. Lumayan kan? Bisa minum 50 gelas teh manis Splenda per hari tanpa takut kena diabetes. Tapi mungkin nanti kandung kemihnya soak karena pipis terus.. hehe..

Nah, yang menjadi masalah adalah marketing Splenda. Tagline Splenda yang berbunyi “Made from sugar, so it tastes like sugar” memancing kontroversi. Merisant, perusahaan yang memproduksi pemanis Equal menuduh McNeil Nutritionals menyesatkan konsumen. McNeil balik menyerang, mengatakan bahwa Merisant ini dendam karena sejak Splenda dikenalkan pada tahun 1999, penjualannya berhasil mengalahkan Equal hingga empat kali lebih tinggi. Selain itu, Merisant kalah di pengadilan Puerto Rico yang mengharuskannya mengganti kemasan Equal yang menyerupai kemasan Splenda. *Oow.. kamu ketahuan.. niru kemasan..*

Tidak hanya Merisant, The U.S. Sugar Association yang mewakili petani tebu dan bit pun ikut protes dengan membuat website The Truth About Splenda, yang kemudian dibalas oleh McNeil dengan website Splenda Truth. Hmm..kalau ada gula ada semut, ada sukralosa ternyata ada kontroversi..

Aduh, saya jadi ngalor-ngidul membahas sukralosa. Siklamat dan teman2nya saya bahas lain waktu ya..

April 22, 2008

Saya dan Otomotif

Filed under: Uncategorized — yuti @ 4:59 pm

SMS Yuti ke Senior:
Mbak, kami nyampe kantor telat, harus ganti ban dalam. Kirain bocor, harus nambalin. Eh, ternyata ban dalamnya dah putus. Jadi harus ganti deh.. Jangan kangen ya..

SMS balasan:
Ih, siapa juga yang kangen.. Oiya, Pak Sis bilang, suruh ganti shog aja.

Nah, saya bingung. Saya pun nanya teman saya (cewek), “Ka, shog itu apa ya? Shockbreaker kan maksudnya?”, sambil nunjukin sms dari senior, “Emang di bagian mana sih? Di dekat ban kan?”

Dia ternyata lebih nggak mudeng. Shog itu kursinya kan?”

Haduh.. Iya saya bodoh dalam hal mesin2an, tapi saya tau lah kalau shockbreaker itu bukan kursi motor. Akhirnya saya kirim SMS:
Mbak, tanyain Pak Sis dong, shockbreakernya di mana? Harus diapakan?

Tapi karena SMS balasannya lama, saya pun langsung bertanya pada Pak Bengkel (PB), “Pak, shocknya perlu diganti ya?”

Bapak itu memandang saya. Lama.

PB: Shock?”

Yuti: “Iya Pak, kata teman saya shockbreakernya perlu diganti.”

PB: “Tapi shockbreakernya gapapa Mbak. Ini cuma ban dalam aja yang putus. Pasti tadi gembos tetep dinaikin ya Mbak?”

Yuti: “Hehe, iya Pak. Habis tanjakan sih. Ya udah Pak kalau shockbreakernya nggak apa2.”

Baru saja saya duduk kembali, SMS balasan masuk:
Hehe..Maksudnya Pak Sis, diganti SHOGUN aja.. :

GYAAAA…!!! Siyal.. Mempertunjukkan kebodohan saya di muka Pak Bengkel.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya baru bisa nyetir mobil, saya diajari bagaimana cara mengecek oli mesin, air karburator, dan aki oleh Om dan supirnya.

Yuti: “Om, kalau mogok gimana Om? Kalau bannya gembos? Cara ganti ban?”

Om saya masuk rumah. Saya sangka beliau akan mengambil peralatan, ternyata beliau mengambil HPnya.

Om: “Kalau mogok, kamu telpon aja bengkel ini suruh datang.”

Supir Om: “Iya Mbak, susah lho..”

Huhuhu… Saya disepelekan.. T.T

***

Ada yang tahu buku tentang mesin kendaraan bermotor yang oke dan gampang dipahami nggak? Saya mau mempelajari istilah2nya biar nggak terlihat bodoh di bengkel ahh.. *semangat Hari Kartini*

April 21, 2008

Hari Kartini 2008

Filed under: Uncategorized — yuti @ 4:44 pm

Wahai para wanita Indonesia.. Selamat hari Kartini!

Kenapa hari Kartini sering kali dirayakan dengan memakai pakaian daerah? Menurut saya, memakai pakaian daerah itu lebih cocok dilaksanakan untuk memperingati Hari Proklamasi atau Hari Sumpah Pemuda, untuk mempertegas suasana Bhinneka Tunggal Ika-nya Indonesia.

Lebih konyol lagi pemilihan Kartini dan Kartono. Who is Kartono? Bukankah dia kakaknya Kartini. Kenapa menjadi tokoh ekuivalen dengan Kartini? Kenapa nggak Ki Hadjar Dewantara saja yang jelas merupakan pejuang pendidikan? Pemilihan Kartini2an semacam itu masih sering dinilai berdasarkan kecantikan dan keluwesan berpakaian nasional, mirip pemilihan Putri Indonesia.

Saya sendiri bersyukur tidak harus memakai busana nasional lagi setiap hari Kartini. Alasannya? Well, sudah pernah mencoba naik motor pakai kain & kebaya? RIBET!

Bukan berarti saya nggak suka kebaya lho! Kebaya Indonesia menurut saya adalah salah satu pakaian tercantik di dunia. Jaman SMA pas centil2nya, saya juga ikut heboh berkebaya Kartini.. Kapan lagi bisa berpakaian seksi ke sekolah dengan ijin dan restu guru2, tanpa khawatir berurusan dengan guru BP? *hehe, niat yang tidak mulia* Ah, saya jadi ingat teman saya yang kejar2an dengan guru BP karena dia memakai kostum India backless, sleeveless & keliatan pusarnya waktu National Day, akhirnya tertangkap dan harus memakai kaos olahraga bau obat yang ada di UKS, yang sangat tidak matching dengan kain sari-nya.

Yah, apapun alasannya, himbauan untuk mengenakan pakaian nasional pada hari Kartini di sekolah2 telah memberi cipratan rejeki bagi para pengusaha persewaan pakaian nasional. Jika dipoles lagi dengan ilmu2 marketing yang sip, tentu saja Hari Kartini bisa menjadi peluang bisnis baru. Just like what people did for Valentine’s Day. ;)

Quote of the day – by Shinchan

Filed under: Uncategorized — yuti @ 3:22 pm

“Hanya orang dewasa yang hatinya ternoda yang tidak mengerti kelucuan ulat bulu.”

Hahahah.. Are you kidding me Shinchan?

April 20, 2008

Emang si sapi..?

Filed under: Uncategorized — yuti @ 8:49 pm

Pernah lihat iklan sabun Lux Magic Spell? Terkisah seorang gadis cantik nan lugu, seperti Putri Aurora atau putri-putri lainnya di dongeng Disney. Suatu hari di hutan, ia menemukan ‘batu wangi’ yang kemudian digunakannya untuk mandi. Tak lama kemudian, gadis itu menjelma menjadi gadis malam pemikat lelaki, memakai rok mini, harum semerbak mewangi, berlenggak di gang berhias lampu neon bar & hotel melati. *meskipun gak penting, saya tambahin ‘melati’ ya, biar berima..*

Sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan oleh Lux? Bahwa sabunnya mampu membuat gadis baik hati menjadi gadis ‘baik, Om!’? Saya jadi penasaran bagaimana hasil penjualan sabun Lux Magic Spell tersebut. Laris manis kah?

Benarkah gambaran iklan tersebut merefleksikan keinginan para perempuan Indonesia? Jika iya, pastilah Ibu kita Kartini menangis di dalam kubur. *Memangnya hanya beranak saja yang bisa dilakukan di dalam kubur?*

Beberapa tahun ini, semakin banyak saja hal gila yang dilakukan atas nama emansipasi. Di majalah Cosmopolitan terbitan Australia 2 tahun yang lalu, ada artikel yang mendebatkan tentang perempuan2 flashing their boobs in public. Yang pro bilang: “Sudah saatnya para wanita berani menunjukkan dada mereka di depan umum. Ini adalah emansipasi. *Mbahe koprol! Emang si sapi?*

Artikel yang sama juga menyebutkan, sementara pakaian wanita cenderung semakin terbuka, pakaian pria justru cenderung semakin tertutup saja. Pantas saja semakin banyak pria yang tidak berminat terhadap wanita. Mereka mungkin sudah kebal melihat aset2 yang pating pethungul itu. Dan mereka pun penasaran dengan apa yang ada di dalam jas2 tertutup itu.. *haiyah.. saya juga melu2 penasaran ahh..*

Sejauh apa sih wanita harus menuntut emansipasi-nya?

April 12, 2008

Is it hard being a MAN?

Filed under: Uncategorized — yuti @ 1:49 am

Baru saja saya berkunjung ke Amplaz dengan tujuan nonton, setelah berbulan2 puasa nonton. Teman saya, Djeng Nett, kebetulan pas pulang dari pengembaraannya di benua Eropa.

Ini kali kedua kami ke Amplaz dalam bulan ini. Dan kami masih saja terpana dengan semakin banyaknya pria2 yang menurut kami ‘tidak berperilaku sebagaimana seharusnya seorang pria’. Ada pria yang memakai rok tutu (rok untuk menari balet) berwarna shocking pink, full make-up, wig pirang panjang, topi tinggi seperti yang digunakan oleh si kucing dalam The Cat in The Hat. Ada pula yang memakai pakaian wanita super seksi, meskipun muka, potongan rambut dan badannya sangat pria. Lalu ada juga dua orang pria, yang satu sangat tampan, satunya lagi biasa saja. Sekilas tampak baik2 saja. Tapi kemudian kami melihat sikap mereka yang mesra, saling menggelitiki tangan, dan jari kelingking pun bertautan. Wah!

Saya sudah sering membahas hal ini dengan si Djeng Nett. Mengapa fenomena ini semakin banyak saja di Jogja? Salah siapa mereka jadi demikian? Apakah para wanita memang tidak menarik lagi di mata mereka? Susahkah menjadi laki-laki sejati? Bagaimana caranya menjaga anak2 kita kelak? Bagaimana menjawab berbagai pertanyaan anak2 kita kelak? Ada sejuta pertanyaan yang belum bisa terjawab pasti.

Biasanya diskusi kami akan ditutup dengan kalimat, “Aku takut..”

Takut tidak mendapat suami karena pria2 lebih tertarik pada sesamanya. Takut tidak mampu menjaga keluarga kelak. Dan terutama, takut Allah akan segera menjatuhkan azabnya.

Mungkinkah ini hanya paranoia belaka? Ataukah memang sudah sewajarnya kami khawatir?

March 13, 2008

Blogging..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 11:21 am

Papah sekarang punya BLOG!!

Ahahahaha.. Anak-wedok-sing-paling-ayu (menurut saya lho ini, kalau menurut adik perempuan saya sih beda) berhasil meracuni si Papah untuk mau dibuatkan blog.

Untuk apa? Biar Papah jadi banci cerita/curhat seperti anaknya?

Hehe..untuk mengupload tugas2 kuliahnya dong.. Saya kan pengen membantu memperlancar hubungan antara Pak Dosen dengan adik2 yang masih kuliah itu. Mulia sekali ya niat saya..

Tentu saja saya akan berperan dalam me-maintain blog tersebut. Gaya sekali ya saya, jadi mengelola 3 blog. Kesannya saya gak punya kerjaan banget.. Ya iya lah! Status saya sekarang adalah pengangguran leha2 gitu loh.. (beda dikit sama teman saya, si pengangguran foya2)

Saya mulai ngeblog dengan blogger pada April tahun lalu. Semacam hadiah ulang tahun untuk diri sendiri. Sebelumnya saya ngeblog di Friendster, tapi itu sering nggak bisa dibuka, sampai pernah ganti 2 kali trus akhirnya menyerah dan pindah. Di blog baru itu saya nulis pake bahasa Inggris. Bukan mau sok, wong bahasa Inggris saya grammarnya ya nggak karuan gitu. Tapi lebih sebagai latihan. Lha di mana lagi saya mau latihan nulis pakai bahasa Inggris? Kuliah saya bukan kelas internasional. Les mahal dan saya itu hobinya bolos les. Ya sudahlah, ngeblog aja..

Blog yang tadinya diniatkan untuk curhat itu akhirnya lebih menjadi ajang pameran. Pamer makanan, pamer jahitan, pamer mainan, pamer Indonesia.. Saya jadi tidak sampai hati menulis tentang Indonesia yang bersifat kritikan, misalnya: jalan macet, banjir, CS yang tidak ramah, dll. Nama negara kita sudah cukup jelek bagi mereka yang belum mengenalnya. Akhirnya saya hanya menulis hal2 yang menarik saja. Gara2 kurang bebas itu, saya jadi tergoda untuk bikin blog baru. Maka dibuatlah blog ini.

Kenapa pakai nama samaran Yuti? Kenapa tidak pakai nama asli saya?

Well, pertama, saya suka bercerita. Tapi saya sering merasa kurang nyaman bercerita kepada orang yang belum begitu saya kenal. Oleh sebab itu saya menyamar. ;-) Meskipun nama asli saya juga sangat mudah untuk diketahui. *njuk ngopo?* Yang penting teman2 dekat saya tahu dan blog bisa menjadi sarana untuk bertukar kabar, mengingat kami semakin jarang bertemu.

Kedua, saya memakai nama Yuti untuk membedakan tokoh blog ini dengan tokoh blog satunya. Hihihi.. saya senang memisahkan sifat2 dalam diri saya menjadi beberapa karakter. Hmm.. si alter ego saya sebagai anak SD 7 tahun itu belum punya blog. Kapan2 saya buat ah: blog mewarnai dan cara menggunting rambut Barbara Millicent Robert alias Barbie. ;-)

Ketiga, Yuti itu tidak sepenuhnya nama samaran. Di rumah, adik perempuan saya memanggil saya dengan nama tersebut, setelah pelarangan penggunaan nama si alter ego itu oleh Mamah. Maunya Mamah sih kembali ke nama asli, tapi kami malah bikin nama baru. Lama2, sapaan sayang kami menjadi yutikutikulala, beibeh.. Dan saya pun memanggilnya dengan nama Kuti. Sedangkan Lala adalah nama panggilan alternatif adik laki2 saya, pengembangan dari nama panggilan sebelumnya yang berbeda jauh dari nama aslinya. (‘ku‘ adalah kata sambung, berasal dari kata ‘kutikula’)

Lalu bagaimana adik saya bisa memanggil saya dengan nama Yuti? Hehehe.. Pernah nonton film Perancis berjudul RRRrrrr!!!? Film konyol tentang suku rambut kotor dan suku rambut bersih. Yuti adalah anjingmut milik Pak Dukun. :-D (dalam terjemahan bahasa Indonesia, semua nama binatang diberi akhiran -mut)

Tadinya saya ingin blog ini bernuansa serius, lebih berbobot, dan ditulis dengan EYD. Tapi ternyata susah ya? Bukan jiwa saya. Atau karena saya kurang berbobot?

Tadi pagi saya YM-an dengan seorang teman yang mengganti blog-nya karena terdapat kesalahan penulisan ejaan. Yang seharusnya blackcurrant ditulis blackcurrent.

wib __: eh, dik yuti..
Yuti: ada apa dik?
Yuti: hihihi

wib __: blogku pindah lho
Yuti: merasa sok tua
Yuti: heeee???
Yuti: knp?
Yuti: gak krasan ya?

wib __: gara2 dprotes, tulisannya salah
Yuti: ehhh??
Yuti: salah apa?
Yuti: salah siapa?
Yuti: kita jadi pintar.. menulis dan membaca.. salah siaaaapaaa…????
Yuti: *dinyanyiin ya..*

wib __: jadi tehblackcurrant.wordpress.com
wib __: haha
wib __: dodol

Yuti: =))
Yuti: jadi cuma ganti 1 hurup ya?
wib __: iya
wib __: hehe
wib __: yang laen sama kok
wib __: buka deh

Yuti: kok sama
Yuti: persis..
Yuti: aku merasa dejavu

wib __: emang
wib __: haha
wib __: aq delahoya

Yuti: ntar ada yg komen ‘mas wib, kok kayaknya aku pernah liat blog ini di tpt lain yaaa…’
wib __: haha
Yuti: aku deyuti
wib __: haha
wib __: dodol

Padahal tadinya saya kira dia sengaja lho.. Jadi punya double meaning. Bunyinya seperti blackcurrant biasa, tapi artinya jadi arus hitam. Hehe.. Tapi ini menunjukkan betapa pedulinya dia terhadap blognya dan pendapat orang2 yang membacanya.

Jika bahasa menunjukkan bangsa, maka blog menunjukkan penulisnya, ya nggak?

Jadi penasaran, sampai kapan saya akan terus ngeblog ya?

March 10, 2008

Hero vs Giant

Filed under: Uncategorized — yuti @ 6:31 pm

Belum lama ini Hero jalan Godean digantikan oleh Giant supermarket. Tentu saja saya sebagai manusia yang lebih suka jalan2 di supermarket daripada di butik, segera melakukan kunjungan.

Yang terlihat berubah tentu saja papan namanya. *duh..* Begitu masuk, suasananya terasa berbeda. Dapur roti yang ada di sebelah kanan jadi pindah di sebelah kiri. Sepele ya? Bahkan semasa masih jadi Hero, perubahan ini sangat mungkin terjadi. Tapi entah mengapa saya merasa terganggu dengan perubahan ini. Seolah2 Giant adalah anak baru di kelas yang langsung mengatur2 tempat duduk teman2nya.

Meskipun posisi refrigerator tidak berubah, susunan barangnya ditukar. Tempat keju dan susu menjadi tempat tahu dkk. Tempat tahu yang lama jadi tempat produk minuman, dan tempat minuman diisi oleh keju. Jadi mereka hanya menggeser display barang2 tersebut ke kiri, persis perputaran tempat duduk kita jaman SMP dulu. Lagi2 saya merasa terganggu dengan perubahan itu.

Saya merasa lorong2nya semakin sempit. Display barangnya yang berbeda dengan Hero membuat saya kesulitan mencari tempat produk2 tersebut. Hero selama tinggal di jalan Godean hampir tidak pernah mengubah posisi penempatan barangnya sehingga saya sudah hafal dimana tempat gula, kopi, sabun, es krim, dll.

Klimaksnya terjadi pada saat mereka memutar jingle Giant. Telinga yang sudah terbiasa mendengar “Hero memberi lebih kesegaran untuk anda.. Hero.. HERO..!!” kurang bisa menerima jingle Giant yang masih asing. Tiba2 saja ada rasa sedih yang menyergap saya. Rasanya seperti kehilangan teman dekat. Padahal saya nggak selalu belanja di Hero, mengingat harga di sana yang relatif lebih mahal, kecuali pantyliner-nya. :-P

Aneh rasanya.. Saya yang mengaku cepat bosan dan tidak suka rutinitas ini ternyata merasa terganggu dengan perubahan display barang dan jingle supermarketnya. Rupanya Hero telah membentuk suatu pola dalam diri saya. Dan saya sadar bahwa ternyata saya punya pola2 lainnya. Saya selalu lewat jalan yang sama ketika berangkat kuliah (jl. Godean-Magelang-Pakuningratan-AM Sangaji-Sarjito-Yacaranda) dan kurang sreg jika harus mengambil rute lain. Saya selalu parkir di tempat yang sama selama di kampus (daerah dekat pintu masuk) dan akan merasa sebal bukan kepalang kalau ada yang motor yang telah menempatinya.

Ternyata meskipun kita adalah orang yang (katanya) cepat bosan atau selalu ingin merasakan hal2 baru, hal2 yang sudah terlanjur jadi kebiasaan itu susah untuk diubah. Semoga saja berbagai kegiatan bertema ‘malas’ pasca wisuda ini belum terlanjur jadi kebiasaan ya..

Btw, kemarin saya menulis bahwa di pasar tradisional, ayam mentah dijejerkan dengan pakaian dalam. Ternyata di supermarket modern pun pengaturan barang sering kacau juga. Gilingan kopi Excelso diletakkan di tengah2 lorong deterjen dan pembersih rumah tangga.

Btw #2, score TOEFL saya sudah keluar. Alhamdulillah, target tercapai.. :-D Namun besok pagi saya harus tes TOEFL lagi dalam rangka seleksi penerimaan pegawai suatu perusahaan. Hehe.. tentu saja saya akan mengajak si pensil kelinci turut serta.. ;-)

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.