syubidubidudamdam.. cuap!!

September 23, 2008

Absurd Tapi Nyata

Filed under: Uncategorized — yuti @ 8:29 pm

Ngakak saya baca ini..

***

Jadi inget peristiwa di Solo..

Senior: Mbak, bedanya sirloin sama tenderloin apa? (ngetes waitress-nya)

Pelayan: Kalau sirloin digoreng pakai tepung, kalau tenderloin nggak pakai tepung..

Dinner di sebuah resto di dekat Bengawan Solo, didengar oleh sekelompok lulusan & mahasiswa Food Science yang merasa gagal mencerdaskan kehidupan bangsa.

***

*Thanks for the link Nett..*

September 14, 2008

Daging Sampah

Filed under: Uncategorized — yuti @ 1:32 am

Sekarang ini sedang heboh kasus daging sampah yang beredar di pasaran. Selamat buat aparat yang berhasil melacak peredaran daging tersebut. Semoga gregetnya tidak hanya saat mendekati lebaran saja.

Banyak yang dapat dijadikan pelajaran dari kasus ini. Semua mengutuk pelaku pengolah daging sampah itu. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak serta merta menyalahkan si pemulung dan pelaku usaha itu. Mari kita introspeksi..

Siapa sih pelakunya?

Orang miskin & bodoh.. Yang menampung dan mengolah daging sampah hasil kumpulan para pemulung karena tidak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan uang.

Siapa pembelinya?

Well, saya yakin yang baca blog ini tidak akan membeli daging dengan harga Rp 8000,- per kilo. Jadi, lagi-lagi orang miskin dan bodoh.

Oke, buka UUD 45 pasal 34. Apa bunyinya anak-anak?

Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Nah, aneh kan kalau orang lapar, miskin, dan bodoh yang terpaksa memulung makanan sampah terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun atau denda 300 juta rupiah. Hukuman koruptor aja nggak segitunya..

Next, siapa yang membuang sampah daging?

Hotel berbintang dan restoran. Kalau sampahnya sampai bisa menciptakan suatu bisnis kelas kutu, berarti ada yang salah dengan supply chain management-nya kan? Kok bisa sampai sisa daging sebanyak itu? Bisakah diusahakan ke arah zero waste management?

Jika hotel dan restoran berkilah, sisa makanan itu adalah sisa makanan pengunjung, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang makannya nggak habis?? *saya jadi ingat anak-anak pre-school*

Di rumah, di pesta, di restoran, di manapun.. Mbok ya kalau ambil makanan itu secukupnya saja. Kalau terlanjur ambil banyak, be responsible, HABISKAN!! Saya paling gemes kalau melihat orang di suatu acara mengambil makanan hingga menggunung di piringnya, kemudian hanya dicicip sedikit, dan ditinggalkan begitu saja. Rasanya pengen saya elus-elus pake kompor spritus..

Ada yang aneh dengan negara ini..

Kalau punya anak, didiklah untuk menghargai makanan. Hal-hal besar terbentuk dari kebiasaan kecil.

Ignorance is no longer a bliss. It is a sin.

September 13, 2008

Adorable Girl..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 9:52 pm

Klip lama, tapi saya baru lihat. Cleopatra Stratan is so CUTE, don’t you think??

*Cleo, tukeran kacamata sama mbak yuukk…*

Ghita:

Tapi jadi penasaran. Mamanya dimana yah? Kok foto2 di internet & video klipnya cuma sama si Tati?

Klip Cleopatra & Tati-nya utk iklan (handphone?) di tahun baru 2007:

September 11, 2008

Anak Semua Bangsa

Filed under: Uncategorized — yuti @ 5:03 pm

Saya baru saja membaca novel Child of All Nations, buku kedua dari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sangat bagus!! Menyesal saya tidak membacanya sejak dahulu. Padahal buku itu sudah mendiami rak buku di ruang tamu kurang lebih sejak 15 tahun yang lalu.

Saya melewatkan asal muasal cerita karena memang belum membaca buku pertamanya. Tapi seperti komentar yang ada di sampulnya: buku ini dapat dibaca sendiri dan kita dapat dengan mudah mengikuti jalan ceritanya.

***

Dengan latar belakang jaman pra-kemerdekaan, buku ini bercerita tentang Minke, seorang pribumi lulusan HBS yang telah menerima ilmu pengetahuan dunia melalui pendidikan Eropa. Tidak mau menulis dalam bahasa Melayu karena kurang prestigius dibandingkan dengan bahasa Belanda atau Inggris yang dikuasainya. Kurang rasa nasionalisme. Tapi mungkin pada tahun 1890-an, kata nasionalisme belum masuk dalam kosa kata bangsa kita.

Yang menghantui saya adalah kenyataan bahwa bangsa kita, dalam berbagai hal, tidak banyak berubah dari jaman Minke tersebut. Korupsinya, pola pikirnya.. *Benarkah manusia berevolusi? Kalau ovulasi sih iya..*

Minke yang mendapat pendidikan Eropa menjadi asing dari bangsanya sendiri. Jika saja teman-temannya, Jean Marais & Kommer, tidak menyadarkannya, mungkin dia sama saja menjadi bangsa Eropa, mengabdi pada surat kabar milik kolonial Belanda dan menulis untuk kepentingan asing.

Hampir sama dengan sekarang. Banyak kaum muda Indonesia yang pandai dan menempuh pendidikan tinggi dibajak oleh bangsa asing. Bahkan ‘pembajakan’ ini dimulai sejak masa ABG. Berapa jumlah manusia Indonesia yang mendapatkan beasiswa luar negeri dan kini menjadi permanen resident di sana, bahkan pindah warga negara? Ratusan.. Lebih! Dan bukan salah mereka sepenuhnya karena negara tersebut menawarkan hal-hal yang lebih baik, yang mungkin tidak ditawarkan di Indonesia.

Yang tinggal di Indonesia pun demikian.. Saya jadi ingat perkataan seorang alumni ketika saya masih anak ingusan di kampus: ”Biasanya ya, lulusan terbaik akan direkrut perusahaan-perusahaan asing atau multinasional, bekerja dengan gaji besar untuk membuat perusahaan semakin kaya. Lulusan dengan nilai di bawahnya menjadi dosen dan di bawahnya lagi menjadi PNS. Sedangkan yang nilainya jelek, karena melamar pekerjaan dimana-mana tidak diterima, biasanya akan jadi pengusaha dan akhirnya jadi alumni yang paling kaya.”

Mungkinkah negara ini tidak bisa menjadi yang terbaik karena tidak diatur oleh orang-orang yang terbaik? Saya nggak bilang mereka (guru, PNS, dsb.) tidak berkualitas lho.. But admit it, sometimes they are not the best. Berapa kali percakapan dengan teman membahas tentang si Anu yang jenius dan menurut kami cocok menjadi dosen namun kini berkarir di perusahaan A sebagai karyawan biasa, atau si Itu yang prestasinya biasa-biasa saja namun kini menjadi dosen di perguruan B. Ingin rasanya menukar posisi mereka, padahal belum tentu mereka mau.

Tapi definisi ‘terbaik’ itu sendiri memang sedikit absurd ya? Apakah ‘orang-orang terbaik’ ini hanya dinilai berdasarkan pada kemampuan dan kepandaiannya? Bagaimana dengan dedikasi dan komitmennya terhadap bangsa ini? Belum lagi faktor kesempatan dan keberuntungan.. Hmm..

***

Generasi kita adalah ‘anak semua bangsa’. Bukan berarti harus tinggal di berbagai negara dan selalu keliling dunia (itu namanya ‘semua anak harta’, as in Su-harta ;p). Tapi memiliki wawasan dan cara pandang yang luas, menyadari perannya sebagai warga dunia. Mendapatkan pengetahuan dari segala penjuru dunia bukan lagi hal yang sulit. Kemajuan teknologi telah menyajikan isi dunia ke depan mata.Yang susah adalah selalu mengingat asal dan tujuan kita. Apa kita hanya akan menjadi manusia egois, yang puas ketika kebutuhan diri sendiri tercukupi? Nggak kan? Kita punya tanggung jawab moral memperbaiki kehidupan bangsa dan dunia, bagaimanapun caranya. Seperti kata Pakdhenya Spider-Man: “With great power comes great responsibility”. Semakin kita pintar dan tahu banyak hal, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk membagi dan menerapkan pengetahuan kita.

*Hehehe.. pantas saja orang gila dan orang bodoh itu selalu terlihat lebih bahagia.*

***

Ada beberapa bagian di mana saya menemukan kemiripan dengan Minke. (Nggak mungkin kan saya memirip-miripkan diri dengan Annelies. Pertama, saya ini blasteran Solo-Jogja, bukan Jawa-Belanda. Kedua, di buku ini Annelies mati di bagian awal cerita, jadi saya belum sempat mengenalnya lebih jauh.) Dalam buku ini tokoh Jean Marais berkata pada Minke: “You study the languages of Europe to understand Europe. Through Europe you can learn to understand your own people.”

Ironis, karena saya mengetahui sejarah Indonesia dalam novel karya Pramoedya ini melalui novel terjemahannya (bahasa Inggris) yang ditulis oleh Max Lane, orang Australia.

***

Wah, sudah lama saya tidak membaca buku yang membuat saya berpikir ngalor-ngidul seperti ini. Melalui buku ini, Pramoedya seolah-olah bertanya: Apa yang telah kamu lakukan untuk bangsa ini?

Uhm.. nothing Sir..

***

PS: For my friends abroad, please go back home after you finish your study! Let’s build Indonesia Raya!! *padune golek kanca dolan..* :p

August 10, 2008

Berhasil..!!!

Filed under: Uncategorized — yuti @ 11:04 pm

Seminggu ini saya sibuk banget. Sibuk cari kesempatan ngobrol berdua dengan bos. Benernya PDKTnya sudah dimulai bulan lalu sih.. Tapi karena si bos sibuk luar biasa, saya baru berhasil makan siang dengannya 1 kali, plus dapat tebengan pulang. Dan itu sudah lumayan banget, mengingat bos saya cukup unapproachable. Stafnya saja jarang ngobrol dan partner kerja saya bahkan belum pernah ngobrol dengan beliau.

OhmyGOD..!! Yuti cari affair sama bosnya!!

No..no..no.. Itu semata-mata untuk mendapatkan rekomendasi dan nominasi dari beliau. Yah, saya mengajukan diri untuk menjadi wakil bumi dalam ajang pemilihan Miss Galactica. Saya siap mengharumkan nama bumi dan bersaing dengan Miss Mars, Miss Pluto, serta Miss-Miss lainnya.. Dukung saya ya! Ketik REG (spasi) MAMA, dan kirim ke 9090. Ingat, ketik REG (spasi) MAMA, kirim ke 9090! Mama Laurent akan memberi ramalan apakah saya menang atau tidak. *ok, you should see a psychologist if you believe every words I wrote -djengwidz, dah bisa nerima klien to?*

Aniway, berhubung waktunya semakin mepet, saya jadi semakin sering mondar-mandir di depan ruang bos. Hanya mbak sekretaris cantik (SC) yang paham maksud saya, selalu senyum-senyum setiap kali saya lewat.

Udah mbak, masuk aja..

Haduu.. PDKTnya masih kurang mbak. Bisa2 dimentahkan.

Akhirnya suatu hari yang mendung, dari rumah saya sudah berniat pulang nebeng bos. Saya nggak bawa kendaraan. Pulang sengaja disore2kan, padahal biasanya jam 2 udah semangat berkemas-kemas. Saya pun menuju tempat menunggu bis. Melirik ke arah parkiran mobil si bos. Wah, aman.. Mobilnya masih ada.

Bis pertama datang. Saya cuekin.

Bis kedua datang. Saya balik ke ruangan, pura-pura ambil map yang ketinggalan.

Bis ketiga datang. Saya cuekin lagi.

Bis keempat datang. Pura-pura kebelet pipis. Berpapasan dengan teman kantor.

Lho, kok belum jadi pulang mbak?

Belum dapet bis Pak..” *liar..liar..liar..*

Bis kelima datang. Saya cuekin lagi.

30 menit berlalu. Akhirnya saya mendengar suara ‘beup..‘, pintu mobil ditutup. Nah, itu dia.. Saya pura2 asyik mendengarkan mp3, padahal baterenya abis.

Pas melewati pintu gerbang, mobil berhenti. Yes!! Jendela dibuka, sebentar lagi bos akan melongokkan kepalanya dan berkata, Bareng Mbak..”

Tapi ternyata… “Mbak, saya mau ke lapangan..

Motherf*@%er..!!

*sik, jangan nuduh saya misuh dulu to.. saya bilang mother-father kok.. atau biyung-bapak dalam bahasa Jawa!*

Angin berhembus kencang, suhu udara turun drastis, dan saya tiba-tiba lapar.

Dan bis-bis yang tadinya berkeliaran dengan rajin itu tiba2 lenyap. Saya harus menunggu 10 menit hingga bis datang. Untung masih ada yang lewat. Setengah jam lagi mungkin saya terpaksa nginep di kantor.

***

Lalu Sabtu kemarin saya beranikan diri menemuinya di kantor. Mbak SC pas nggak datang.

Tok..tok..tok.. Gak ada suara. Saya buka pintunya. Clingak..Clinguk.. Kok gak ada? Apakah beliau ada di kursi di balik tiang itu?

Karena gak yakin, saya keluar saja. Baru beberapa langkah, ada yang memanggil.

Mbak Yuti.. Cari saya?

Eh.. bapak.. Maaf, nggak kelihatan pak..“, sambil tersipu-sipu.

Saya langsung diseret masuk dan disuruh ngosek kamar mandi.

Nggak ding..

Saya utarakan maksud saya. Bla..bla..bla.. Disertai beberapa interupsi dari bos: “Kamu kan bukan PNS..” dll. Hingga akhirnya saya keluar ruangan dengan senyum lebar.. Syalalalala… Intinya, saya berhasil..!

Berhasil..! Berhasil..! HORE..!! *sambil bernyanyi a’la Dora the Explorer yah..*

August 6, 2008

Do what you like.. or do what you must?

Filed under: Uncategorized — yuti @ 1:24 pm

Tidak cuma satu orang yang pernah mengatakan bahwa mencari kerja itu seperti mencari jodoh. Dan saya setuju, dua-duanya susah. Maksud saya, mencari yang benar-benar pas, seperti peribahasa Jawa “tumbu oleh tutup” (bener nggak sih, tumbu apa sumbu ya?). Kalau asal kerja sih banyak, tapi belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Begitu juga dengan pacar, nggak asal bilang ‘iya’ ketika ada yang nembak (meskipun saya tahu ada beberapa cewek yang ‘tidak bisa menolak’).

***

Saya termasuk orang yang ‘susah’. Kalau saya tidak suka dengan sesuatu, biasanya saya tinggalkan. Hidup hanya sekali, buat apa disia-siakan dengan melakukan hal yang tidak kita sukai.

Saya pernah meninggalkan ujian. Sudah sampai di depan ruang ujian, membaca denah tempat duduk, dan tiba-tiba saya nggak pengen ujian. Saya nggak suka dosen & mata kuliahnya. Pikir saya, “Ah, buat apa ujian kalau saya toh harus mengulang?” Akhirnya saya tidak masuk ruangan. Saya melambaikan tangan pada teman-teman yang sudah duduk manis di kursi masing-masing dan memandang saya penuh keheranan. Mulut salah satu teman membentuk kata “Gila lo, Yut!”

Kekanak-kanakan memang, tapi begitulah adanya. Beberapa tahun kemudian, ketika mengulang mata kuliah itu, saya menyesali tindakan bodoh tersebut. “Buat apa mengulang kalau saya tahu saya nggak bakal dapat nilai yang lebih baik?” Hehe.. Intinya saya sadar pendirian ini tidak baik, sangat egois, dan saya mencoba untuk memahami arti ‘kompromi’, sebagaimana sahabat saya selalu setia menjejalkannya ke telinga saya. Tetap saja, perubahan itu tidak mungkin terjadi serta-merta.

***

Tadi pagi Mamah bilang, “Mau ada ujian CPNS, sekitar 3000-an. Pokoknya kamu harus ikut lho!”

Huiiiihh… “pokoknya kamu harus…” adalah kata-kata sakti untuk mengaktifkan sifat pemberontak dalam diri saya. Jika saya Hulk, mungkin saya akan berubah jadi raksasa ijo jelek begitu mendengar kata-kata itu.

“Kenapa harus? Kalau aku nggak suka gimana? Kalau kerjaannya nggak cocok gimana?” Saya tidak mengucapkannya, tapi pasti sudah tersampaikan melalui ekspresi wajah saya karena adik saya berkata, “Coba dulu napa!!”

Bukannya saya menolak jadi PNS. Tapi membayangkan ikut ujian CPNS dengan ribuan orang di suatu auditorium sudah membuat saya malas, perut mulas dan bibir pecah-pecah. Seandainya saya jadi PNS kelak, saya ingin itu terjadi dalam suatu rangkaian kejadian yang tidak disengaja. Serendipity.. (Haiyahh.. After all this years, kenapa saya masih juga mengharapkan serendipity ya?) Misalnya: saya membantu bos menyebrang jalan, kemudian bos menyadari kemuliaan hati saya dan melamar saya menjadi pegawainya (PNS, bukan kontrak seperti sekarang), dan kemudian saya akan berkata, “Baiklah, demi kepentingan bangsa ini..” *langit dihiasi pelangi, bunga-bunga bermekaran, dan musik dangdut India mengalun kencang*. Jadi bukan karena mengikuti ujian dengan peserta yang mengalahkan peserta audisi Indonesian Idol. (hmm, I guess I do have a problem with large crowds)

***

Hidup ini penuh dengan pilihan. Maunya sih saya hanya mengambil pilihan yang saya suka, bukan semata-mata pilihan pertama atau pilihan orang tua. Sadar sih, suatu saat saya akan dihadapkan pada pilihan yang tidak saya suka dan mau tidak mau harus menerimanya.

Yang bikin saya uring-uringan terus nulis nggak jelas ini karena akhir-akhir ini Mamah terlalu demanding sehingga saya semakin keras kepala. Saat saya sudah membuat rencana, tiba-tiba Mamah punya rencana lain. Bukan rencana sih, karena Mamah mungkin terpengaruh kondisi di sekitarnya. Misalnya ketika anak Pak Anu bekerja di PT Anu, lantas Mamah langsung menyuruh saya mencari lowongan di PT Anu. Mungkin saya bisa mengerti kalau saja sekarang ini saya menganggur, leyeh-leyeh di rumah. Tapi saya kan sudah bekerja! Trus ketika anaknya Bu Ini menikah, lantas Mamah langsung menyuruh saya mencari calon suami, as if calon suami bisa ditemukan di supermarket terdekat. Dan ketika saya berkata, “Mah, aku belum mau nikah sekarang.” (yang sebenarnya guyon karena jelas saya nggak mungkin nikah SEKARANG) Huahahaha… Big mistake! Saya terpaksa mendengarkan kuliah panjang tentang kehidupan dan berkeluarga.

***

Fyuuhh… mungkin saya harus introspeksi diri dan lagi-lagi mencoba berkompromi. Atau mungkin memang sudah saatnya saya pergi dari rumah… (Dicari: rumah penampungan hewan, makannya nggak banyak tapi harus enak.. :p )

July 20, 2008

Kisah Sedih di Hari Minggu..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 10:14 pm

Lagi2 curhat..

***

Saya bernasib naas hari ini. Sejak utuk-utuk in the morning. Malamnya saya lupa pause game Virtual Villager sehingga paginya saya menemukan salah satu warga suku Kapichi Gonzales mati. Yah, m.a.t.i. Tinggal tengkoraknya. Padahal dikit lagi udah jadi Elder, master dalam 3 bidang.

Terus, karena pagi ini dinginnya luar biasa (24′C sih.. Nett, don’t kill me. Please understand that this friend of yours has thinner skin ;p) saya memanaskan air di heater. Heater murahan yang saya beli beberapa tahun yang lalu di Mirota Kampus seharga 13ribu rupiah. Heater yang dibeli dengan tujuan memanaskan air mandi supaya Mamah menyangka anak wedoknya ini selalu mandi pakai air dingin, tidak seperti adik laki2nya yang manja. Waktu kabelnya mau dicabut, lho’e..lho’e.., kabelnya lengket Kapten! Masih untung nggak korslet. Yah, heater murahan itu harus pensiun. Entah bagaimana nasibnya kelak. Saya belum memutuskan apakah benda itu akan menjelma jadi toples snack, tempat pensil, pot bunga Mamah, atau untuk membonsai kucing tetangga. ;p

Terus, saya harus menemani Papah ke suatu acara keluarga di kampung halamannya, sebuah desa terpelosok di Boyolali. Tadinya kami semua diwajibkan ikut. Lalu adik laki2 berkelit, katanya sedang sibuk persiapan pameran fotografinya. Adik perempuan memang ke Boyolali, tapi bersama teman2nya dalam rangka wisata kuliner, berangkat sehari sebelumnya, dan tidak akan berkunjung ke rumah Nenek. Mamah yang tadinya akan menemani Papah pun tampak malas2an. Akhirnya menemukan alasan yang dianggap sempurna. “Itu simbah tetangga kan dah kritis. Nanti kalo ada apa2 kan biar Mamah bisa bantu2.”

“Wah, kalo gak ada temannya aku males Mah. Aku gak ikut aja. Apalagi Papah pengen naik kereta.”

Dan Mamah mengeluarkan jurus andalannya: membuat saya merasa bersalah.

“Benernya Mamah kasian kalo Papah sendiri. Mamah pengen nemenin, tapi…”
“Papah tu ngantukan. Kalo nyetir juga sembarangan..”
“Wah, Papah pasti capek, sendirian, nggak ada temen ngobrolnya..”

Tidur tak lelap, makan tak kenyang. Mamah memang paling jago merayu di rumah.

“Kamu temani Papah ya. Kasian.. Bawa mobil koq.. Tapi kamu yang nyetir.”

Jam 7 saya dan Papah berangkat. Ban belakang gembos, dan Papah nggak mau mompa di sembarang tempat. Jadi baru dipompa di Jalan Solo, timur ringroad timur. Padahal rumah saya di barat ringroad barat. Dan nyetir dengan Papah sebagai co-drivernya itu VERY STRESSFUL. Satu jerawat baru tumbuh dengan sukses..

Sampai rumah nenek, saya kaget, sedih, haru. Perasaan campur aduk. Rumah nenek tinggal lantai semen. Tembok, atap, keramik sudah tidak ada. Terlihat rumput liar tumbuh di sela2 lantai yang retak. Oh God, kapan terakhir kalinya aku kesini? Setahun? 2 tahun? Tidak.. Lebaran 2005. Saya bahkan tidak disana ketika nenek meninggal dunia.

Nostalgia. Saya mengelilingi rumah itu. Tempat nenek saya duduk sambil bercerita tiada hentinya kini ditumbuhi bayam liar. Saya petik bunganya, saya ambil bijinya. Mungkin akan saya tanam di belakang rumah. Mungkin akan mengawetkan kenangan saya akan rumah nenek. Entah kapan saya akan kesana lagi. 10 tahun? Or never, for there is nothing left..

Pulangnya, saya kecelakaan. Di depan airport Adisumarmo. Ditabrak dari depan dan belakang, threesome. Yang membuat saya shock, pengemudi sepeda motor yang dibelakang kami (yang justru menabrak kami karena dia terlalu dekat & tidak bisa mengerem) emosi dan hendak memukul Papah dengan helmnya. Untung terhalang jendela yang tertutup sebagian. Dalam kondisi seperti itu, ternyata reaksi saya hanya menatap diam. Tidak teriak, tidak menangis. Saya diam.

Berdasarkan pemeriksaan RS, tidak ada yang terluka parah. Hanya lecet dan memar. Di RS, saya menghubungi Mamah. Bersembunyi dari Papah di balik pilar besar, akhirnya saya menangis di telpon. “Mamah.. takut..” Ajaibnya, setelah itu perasaan saya jadi tenang. Saya bisa rembugan dengan partner tabrakan saya. Yang di depan ternyata masih ABG belum punya SIM. Dia memanggil Omnya yang tentara & Pakdhenya yang polisi. Untungnya si Om & Pakdhe ini menyadari sepenuhnya bahwa keponakan mereka juga salah, jadi tidak berusaha memeras saya. Atau karena kasihan melihat muka saya yang memelas ini ya?

Sedangkan si bapak emosi juga bisa ditenangkan. Intinya semua terselesaikan secara kekeluargaan, berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

Sampai rumah, saya langsung dipeluk Mamah. “Nggak papa, namanya juga musibah. Bukan penyakit menular, dan bukan penyakit keturunan.

Tapi sepertinya saya nggak jadi beli sepatu baru. Sepertinya kali ini saya harus urunan mengganti lampu depan dan bemper yang penyok.

***

PS: Pah, Mah, kalo kalian by any chance baca blogku, maaf ya.. Oiya, sekalian mau ngaku, dulu pas jaman SMA itu bemper & lampu belakang mobil pecah bukan karena ditabrak truk pas parkir di Panti Rapih. *Did you believe that?* Tapi karena nabrak tiang telpon pas mau mundur parkir di kostnya Era. I Love You.. Please don’t disown me.. *mmuuuaaccchhh*

July 10, 2008

Sedia batere sebelum mati

Filed under: Uncategorized — yuti @ 11:39 am

Sore kemarin listrik padam di Jogja barat. Di rumah hanya ada Mamah, dan saya sedang kurang mesra dengan Mamah (entah urusan kamar, listrik, kerjaan, atau perjodohan yang tidak berhasil itu). Oh, tambah lagi ketika saya membawa lilin ke kamar, Mamah teriak “Jangan naruh lilin sembarangan!” Mungkinkah Mamah telah menyadari bahwa saya hampir membakar rumah pada pemadaman listrik yang lalu?

[Waktu itu saya meletakkan lilin dalam gelas plastik di atas lemari kayu dan saya tinggal ber-candle-lite-shower-ria. Ketika keluar kamar mandi, lilin itu hilang beserta gelas plastiknya! Wow! Bukan sulap, bukan sihir.. Saya sempat mencari2 kalau lilin itu terjatuh, sebelum akhirnya menyadari seperempat permukaan lemari kayu itu sudah menjadi arang. Saya tutup saja dengan kertas & pigura, berharap bekas kebakaran itu tidak akan ditemukan selama saya masih bernafas di rumah ini.]

Lalu saya sms Kuti. (Btw, kami punya nama panggilan baru: Kapicha & Kapichi.)

Cha, listrik rumah mati ni..Ak pengen dolan aja. Dirumah sepi. Hauu.. T.T
Kamu dimana? Ga usah pulang dulu, tak susulnya..

Daannn.. saya kirim ke nomor yang salah. Ternyata sms itu mereply sms sebelumnya. Gini deh kalau kirim sms sambil memanfaatkan cahaya layar HP untuk nyari kacamata..

Kuti tak kunjung membalas. Saya tetap keluar rumah juga, mau mengembalikan VCD yang sudah telat 3 minggu dan belum saya tonton sebagian. Ketika mampir ATM, sms dari Kuti datang.

Aq skrng dkmpuz Chi.. Ni nntonin tmn2Q pd badminton.. Td sore c dJus janda jumatan*.. Km drmh aj.. Ben ngenthung.. Hahahaa..

Ealah, dasar adik durhaka! Siapa yang sedjak kemarin doeloe ngajak jalan2 yah??

[*Jus Janda Jum’atan (JJJ) adalah warung jus & smoothie enak di timur percetakan Kanisius. Nama sebenarnya saya lupa (DDP or something). Yang jelas, dulu setiap Jum’at siang, tempat itu penuh dengan cewek2 yang menunggu pasangannya sholat Jum’at. Makanya saya beri nama JJJ itu.]

Akhirnya saya sms-an dengan teman saya yang tidak terpercaya: Uut Markentut, ngajakin dolan. Bodo amat ceweknya marah2 lagi! Pokoknya saya lagi pengen cerita2..

Ut, km dimana? Main yuuk.. ngupi2 gitu. Jogja barat lagi kena jatah pemadaman ni..

Dimana? Tp ni mo makan bentar sama temen. Gimana?

Yuti lg balikin CD di tpt biasa. Uuh.. ga jd aja. Ntar nunggunya lama..

Duh ngambek :[ sabar yah, cuma makan bentar..

Yaudah, saya juga agak lama di rentalan CD, ngobrol2 sama masnya, yang saya baru tahu ternyata punya tato dipunggungnya. Bukan apa2, kaget aja karena masnya punya tampang anak kuliahan yang nggak neko2. Tapi setelah dipikir2, tidak mengherankan karena di dekat rentalan itu ada butik tato. *Lesson1: Don’t judge a book by its cover. Lesson2: I have poor observation.*

Yut…

Dimana?

Seperti biasa dia langsung membalas. Tapi baru beep..beep.. Blep, HP saya mati. Aaaarrrggghhhh…

Aduh..kalau saya nggak sempat nanya ‘dimana’, mungkin saya santai2 saja. Paling2 dia mengira saya masih ngambek. (which is highly unlikely, karena kejadian seperti ini sudah sangat tipikal) Tapi mengingat sms yang seharusnya saya terima itu adalah jawaban pertanyaan ‘dimana?’, saya akan merasa bersalah kalau ternyata dia menunggu saya di suatu tempat, kedinginan, trus akhirnya mengalami hipotermia. Jadi saya muter2 mencari counter HP yang kira2 punya charger. Tapi ternyata semua counter HP yang menetap sudah tutup, tinggal counter di pinggir jalan yang nggak punya colokan. Akhirnya saya ke rumah tante saya di Pogung, numpang buka 1 sms.

Dan ternyata..

Masih maem…yuti marah?

Owhh..
Saya matikan lagi HP saya dan pulang dengan tenang.

***

Pernah saya janjian ketemu dengan teman saya Mister di suaru airport. Rencana semula, Mister yang datang lebih awal akan menunggu saya yang datang siang, lalu kami akan menunggu orang yang akan menjemput kami. Kok ya sampai sana batere HP saya ngedrop. Berulang kali saya pakai jasa paging system untuk memanggil Mister. Tapi sepertinya mbak petugas itu agak buta alfabet, yang dia bunyikan itu sama sekali nggak mirip dengan nama Mister. Saya nggak tahu siapa yang akan menjemput saya, nggak tahu daerah tempat workshop yang akan kami ikuti, nggak bisa membaca tulisan cacing, dan nggak mudeng bahasanya. Saya membuat tulisan identitas diri, saya tempelkan di koper, dan saya bawa sa’i antara Terminal1 dan Terminal2 sampai kaki saya lecet.

Saya duduk, melihat sekeliling kalau saja ada colokan listrik. Saya cuma menemukan satu:
colokan vending machine
*bayangkan mesinnya bersinar, di tengah2 lingkungan yang jadi hitam-putih*.
Hmm, tapi ada dua kemungkinan kalau saya nekat mencabut kabel vending machine dan nge-charge HP saya:

  1. benda2 dalam vending machine itu rusak dan setelah proses pengadilan yang panjang saya harus membayar ganti rugi,
  2. vending machine-nya baik2 saja, tapi charger saya nggak cocok dengan colokannya, menyebabkan korslet dan pemadaman total sehingga pesawat2 tergelincir karena arahan yang kacau dari bandara.

Oke.. resikonya terlalu besar.

Akhirnya saya menuju ke pos polisi wisata, “Excuse me, uhmm…, can I recharge my cellphone here?”

Untung polisinya baik hati, gemar menolong dan tidak sombong. Saya diijinkan nge-charge HP disana, meskipun saya jadi kelihatan seperti turis yang ditahan karena dokumennya tidak lengkap.

Dan sedihnya, sms pertama yang masuk adalah sms dari dosen saya di Jogja yang isinya turut berduka cita atas meninggalnya nenek saya.. *Yah, that’s how I knew my grandma passed away.*

***

Ohh.. mengapa hal bodoh macam ini terjadi lagi? Selain kejadian di atas, sebenarnya sudah sering saya kehabisan batere HP karena lupa nge-charge. Tapi biasanya ada teman yang tulus ikhlas meminjamkan HPnya. And I took it for granted. Mengapa saya tidak mengambil pelajaran dari peristiwa sebelumnya dan membeli batere HP ekstra?
*Oke, saya telah memasukkan batere HP dalam daftar belanja saya.*

***

Sampai rumah, listrik sudah menyala. Adik2 sudah di rumah. Dan ketika HP akhirnya hidup kembali, ada 5 sms dan 2 missed call. Seharusnya saya diamkan saja ya? Tapi karena saya nggak tegaan, saya bales juga.

Nggak marah kok. Td batere abis.

Ckckck… why do I have to be nice?

July 9, 2008

Opera Sabun Mandi

Filed under: Uncategorized — yuti @ 3:04 pm

Beberapa manusia sudah mendesak saya mengupdate blog. So here I am, menulis hal yang tidak penting karena saya sedang nggak mood nulis hal yang penting. *Kapan ya saya nulis hal yang penting?*

***

Beberapa waktu yang lalu, iseng-iseng saya membaca postingan bulletin board FS Kuti, si adik perempuan. Ada semacam kuesioner yang menilai kefemininan anda. Di sana tertulis poin-poin yang menjadi ciri sifat feminin, diantaranya:

o Suka mandi busa

o Pakai sabun cewek

Nah herannya, si Kuti ini tidak memberi tanda silang pada kedua poin tersebut lho.. Padahal selama ini saya kira semua cewek suka mandi busa dan pasti pakai sabun cewek. Oh, apakah Kuti bukan cewek??

Saya lalu menuju kamar mandi yang hanya digunakan oleh saya dan Kuti. Ternyata.. Dari 7 jenis sabun mandi yang ada di kamar mandi itu ada 6 sabun cair milik saya dan 1 sabun batang Nuvo milik Kuti. Hmm.. Pantas saja beberapa waktu yang lalu Kuti mengatakan saya memiliki obsesi berlebihan terhadap sabun mandi.

Saya mengklasifikasikan sabun yang ada di kamar mandi sebagai berikut:

  1. Sabun anti kuman. Saat ini diwakili oleh Dettol Fresh. Alternatif lain: Biore Healthy Plus, Lifebuoy. Penting untuk mandi setelah melakukan aktivitas berat & kotor, seperti nonton petani nyangkul di sawah..
  2. Sabun yang wanginya kuat & long lasting. Saat ini diwakili oleh Biore Active Deodorant. Penting untuk mandi sebelum aktivitas yang memerlukan kewangian ekstra, misalnya ngedate.
  3. Sabun dengan extra moisture. Saat ini diwakili oleh Dove. Alternatif lain: Biore Mild. Penting dipakai saat kulit terasa kering.
  4. Sabun yang bisa meringankan mood swing PMS serta membuat rileks. Sabun jenis ini dapat dibagi menjadi:
    1. Sabun dengan busa melimpah dan lembut, misal: Lux Velvet Touch atau Silky Kiss
    2. Sabun dengan wangi yang menyenangkan, misal: sabun wangi buahnya Body Shop, Lux Green Tea, Lux warna ungu (wangi lavender)
  5. Sabun yang memberi rasa segar. Saat ini diwakili oleh Biore Cool Mint. Alternatif lain: Lux warna biru (lupa judulnya) & Lux Wake Me Up (orange). Biar nggak ngantuk.. hihihi.. Tapi ini sekarang jarang dipakai, dingin sih..

Kenapa harus sedia sabun sebanyak itu?

Well.. Selama ini saya telah berusaha supaya tidak jadi anak manja (mandinya jarang). Tapi tetap saja saya ini anak mama (malas mandi). Untuk menyiasatinya, tentu saja harus ada hal-hal yang membangkitkan semangat mandi. Diantaranya adalah menyediakan berbagai sabun mandi sesuai dengan kondisi jiwa dan raga. Dan ingat, harus sabun cair karena sabun batang tidak bisa memberi kepuasan yang sama sebagaimana sabun cair! *haiyahh..* Saya pakai sabun batang untuk cuci tangan, cebok, dan nyuci underwear. :D

Kuti bilang saya ini aneh. But hey! Mamah punya hobi mengoleksi bebek2an, Kuti mengoleksi aneka gajah2an, boleh dong saya koleksi sabun mandi! Dan bukan saya satu-satunya orang yang memiliki sifat ini. Sahabat saya juga ada yang seperti ini. Hmm.. mungkin kami memang berbagi sifat ya.. Dan saya yakin banyak cewek (mungkin juga cowok?) yang punya obsesi sabun mandi ini. *hayoo ngaku..*

Oiya, selain sabun mandi, ada hal lain yang bisa jadi pendorong semangat mandi lho.. Apakah itu?

TEMAN MANDI, tentu saja!!

Jangan berpikiran mesum dulu! Begini, dulu saya punya teman mandi ikan kecil warna kuning dengan bintik hitam di ekornya yang saya beri nama Binti. Hingga pada suatu hari yang naas, Binti mati karena overdosis kaporit yang dimasukkan ke tangki air oleh Papah.

Terbersit niat untuk memasukkan kura-kura saya ke dalam bak mandi. Untung saya sempat membaca di Wikipedia bahwa kotoran kura-kura mengandung Salmonella sp. yang dapat menyebabkan keracunan. Ouuhh.. tidaaakk…

Dan akhirnya, saya perkenalkan teman mandi saya sekarang: Rebecca Lee!

Hi, friends! My name is Rebecca Lee. Such a beautiful name for a beautiful rubber duck, no? My owner said that it comes from Arek iki bebek adus kali.Hmm.. I don’t speak Javanese so I don’t understand the meaning. Kweekk.. Owner doesn’t want to tell me. Kweekkk…

Owh, my little sister, Rebecca Lee II, is coming from Timbuktu (?) and looking for a bathing mate.

No! MATE, not mat! She can buy a bathing mat anytime at Carrefour. Kweekk..

Her quacking sounds as good as mine. Satisfaction guaranteed! So if you want to keep her as your bathing mate, drop a comment here. My owner will put your name in a drawing, Rebecca Lee II Contest, that is!

Hurry! Or she’ll drown herself in the tub, together with her sorrow and despair for losing Uncle Scrooge McDuck’s fortune in Timbuktu.

***

*Djeng Net, ini bukan judi lhoo!!* :D

June 18, 2008

Postingan baru

Filed under: Uncategorized — yuti @ 4:34 pm

Akhirnya setelah menerlantarkan Kingdom of Kerotia selama 3 bulan lebih, saya memposting sesuatu juga. Old stuff, tapi gapapa lah.. daripada tidak sama sekali..

Go check it out!

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.