syubidubidudamdam.. cuap!!

October 20, 2008

Sorry seems (not) to be the hardest word..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 12:23 pm

Sebelumnya saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir & bathin atas segala khilaf.

Oh, maaf juga jika saya tidak membalas sms lebaran dari teman2 semuanya. Bukan karena saya telah berhasil menukar sms lebaran dengan sedekah seperti usulan pada blog ini. Bukan pula karena pelit pulsa (sampai ada teman berkomentar, “Urik, aku sms, kamu balas pake YM.”)

Tidak, teman-teman.. Sungguh bukan itu maksud saya.. Saya mulai mengirim sms lebaran pada malam takbiran. Beberapa terkirim, tapi banyak sekali yang statusnya ‘not sent’. Nah, karena saya ini malas memilah2 mana yang sudah dan mana yang belum terkirim, serta banyaknya sms yang masuk dan membuat inbox penuh, akhirnya saya diamkan saja HP saya teronggok di bawah bantal.

Begitulah.. Tapi yakinlah bahwa saya memohon maaf dengan segala kerendahan hati dan budi pekerti yang luhur, berjiwa Pancasila dan mengamalkan Dasadharma Pramuka.. *okay, stop!*

***

Kata maaf memang diobral murah di awal dan akhir bulan Ramadhan, semoga saja bukan karena trend semata. Belum tentu seorang manusia bisa mengucapkan maaf dengan tulus ikhlas. Kata adik perempuan saya, ada 3 kata penting yang memang susah diucapkan: terima kasih, maaf, dan tolong.. Dulu saya sering sakit hati karena perbuatan si adik yang semena-mena ini: jarang berterimakasih, asal main perintah tanpa berkata tolong, dan pelit mengucap maaf. Tapi kemudian saya membaca blog-nya di FS. Dan saya terharu.. Sejak saat itu saya bisa lebih memahaminya. Memang tidak semua manusia seperti saya, suka mengobral kata ‘maaf’ (karena bodoh dan banyak salah..) Adik saya sudah berusaha, dan saya wajib mengingatkannya. Jangan malah nangis bombay karena sakit hati..

Ada beberapa percakapan bertema maaf yang selalu saya ingat:

Saya dan teman ngobrolin tentang ceweknya yang selingkuh.

Teman: *dengan berapi-api* Jadi pas bundanya cewekku bilang ‘Maafin adik ya, dia kan masih kecil, masih belajar.’ Aku bilang ‘Oke, maafin sih maafin. Tapi ibaratnya meja yang dipaku, meskipun pakunya dicabut, bekasnya nggak akan hilang.’ 

Saya: Kok kayak gak ikhlas gitu?? 

***

Saya dan teman lagi jalan, ketemu sama cewek saingan teman saya.

Semua: *cipika-cipiki* Maaf lahir bathin yaa…

Begitu si cewek saingan pergi..

Teman: Huh!! Awas aja kalo dia deketin si X lagi..

Saya: ???

Hehehe.. ternyata maaf di mulut belum tentu maaf di hati..

Belum tentu permintaan maaf dari kita diterima lho.. Banyak orang yang tidak cuma susah minta maaf, tapi juga susah menerima maaf.

Kasus 1:

Suatu hari saya menabrak sepeda tukang leker yang tiba2 nyelonong masuk ke jalan. Sepedanya baik-baik saja, tapi sempat menyerempet mobil sedan di depannya. Sopir sedan langsung menepikan mobilnya dan marah-marah.

Setelah memeriksa sepeda & mobil yang bahkan tidak tergores, saya minta maaf pada sopirnya.

Jawaban sopir: “Maaf.. maaf.. enak aja maaf..!! Mau jadi apa dunia ini kalau apa-apa diselesaikan cuma dengan maaf?’”

Saya bingung menjawabnya. Karena menurut saya, betapa indahnya dunia kalau semua masalah bisa diselesaikan dengan maaf. Mungkin saya naif, tapi bukankah katanya seorang pembunuh saja bisa diampuni jika keluarga korban yang dibunuhnya mau memaafkannya?

Tapi ada pula ‘maaf’ yang dibumbui dengan ’salah paham’ dan justru menghasilkan ‘benci’.

Kasus 2:

Suatu hari di sebuah hotel, ada satu keluarga yang terdiri dari cowok bule kerempeng-jelek, cewek lokal tampang-pas-yang-penting-berani-tampil-sexy (kelihatan kalau saya senewen), dan anak blasterannya yang kira-kira berusia 4-5 tahun. Mereka satu lift dengan saya. Ketika lift berhenti di lantai tujuan mereka, si bapak dan ibu ini keluar duluan, anaknya di belakang . Pintu lift itu ternyata hendak menutup cepat, hampir membuat si anak terjepit. Segera saya pencet tombol ‘open’ dan menahan pintu tersebut. Saya bilang “Sorry..” karena merasa kurang cepat menahan pintu. (Si anak tidak apa-apa, tapi saya sempat khawatir kalau dia takut dan trauma terhadap lift, sebagaimana saya pernah trauma terhadap eskalator)

Dan jawaban dari bule kerempeng-jelek itu: “F*@% you!!” 

Mungkin dia mengira saya sengaja menutup pintu lift pas anaknya sengaja di tengah pintu. Rupanya dia nggak cuma jelek, tapi juga bodoh..

Yah, namanya juga manusia.. Dan mengulang kata Mamah: “Orang yang meminta maaf terlebih dahulu itu lebih mulia, meskipun dirinya tidak bersalah.”

***

Oiya, satu lagi yang bagus:

Satu episode Gossip Girl.

Serena van der Woodsen: I understand. Apology accepted.

Blair Waldorf: That was fast. If I were you I would’ve made me work for it a little bit harder.

Blog at WordPress.com.