Sekarang ini sedang heboh kasus daging sampah yang beredar di pasaran. Selamat buat aparat yang berhasil melacak peredaran daging tersebut. Semoga gregetnya tidak hanya saat mendekati lebaran saja.
Banyak yang dapat dijadikan pelajaran dari kasus ini. Semua mengutuk pelaku pengolah daging sampah itu. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak serta merta menyalahkan si pemulung dan pelaku usaha itu. Mari kita introspeksi..
Siapa sih pelakunya?
Orang miskin & bodoh.. Yang menampung dan mengolah daging sampah hasil kumpulan para pemulung karena tidak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan uang.
Siapa pembelinya?
Well, saya yakin yang baca blog ini tidak akan membeli daging dengan harga Rp 8000,- per kilo. Jadi, lagi-lagi orang miskin dan bodoh.
Oke, buka UUD 45 pasal 34. Apa bunyinya anak-anak?
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
Nah, aneh kan kalau orang lapar, miskin, dan bodoh yang terpaksa memulung makanan sampah terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun atau denda 300 juta rupiah. Hukuman koruptor aja nggak segitunya..
Next, siapa yang membuang sampah daging?
Hotel berbintang dan restoran. Kalau sampahnya sampai bisa menciptakan suatu bisnis kelas kutu, berarti ada yang salah dengan supply chain management-nya kan? Kok bisa sampai sisa daging sebanyak itu? Bisakah diusahakan ke arah zero waste management?
Jika hotel dan restoran berkilah, sisa makanan itu adalah sisa makanan pengunjung, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang makannya nggak habis?? *saya jadi ingat anak-anak pre-school*
Di rumah, di pesta, di restoran, di manapun.. Mbok ya kalau ambil makanan itu secukupnya saja. Kalau terlanjur ambil banyak, be responsible, HABISKAN!! Saya paling gemes kalau melihat orang di suatu acara mengambil makanan hingga menggunung di piringnya, kemudian hanya dicicip sedikit, dan ditinggalkan begitu saja. Rasanya pengen saya elus-elus pake kompor spritus..
Ada yang aneh dengan negara ini..
Kalau punya anak, didiklah untuk menghargai makanan. Hal-hal besar terbentuk dari kebiasaan kecil.
Ignorance is no longer a bliss. It is a sin.
