Saya baru saja membaca novel Child of All Nations, buku kedua dari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sangat bagus!! Menyesal saya tidak membacanya sejak dahulu. Padahal buku itu sudah mendiami rak buku di ruang tamu kurang lebih sejak 15 tahun yang lalu.
Saya melewatkan asal muasal cerita karena memang belum membaca buku pertamanya. Tapi seperti komentar yang ada di sampulnya: buku ini dapat dibaca sendiri dan kita dapat dengan mudah mengikuti jalan ceritanya.
***
Dengan latar belakang jaman pra-kemerdekaan, buku ini bercerita tentang Minke, seorang pribumi lulusan HBS yang telah menerima ilmu pengetahuan dunia melalui pendidikan Eropa. Tidak mau menulis dalam bahasa Melayu karena kurang prestigius dibandingkan dengan bahasa Belanda atau Inggris yang dikuasainya. Kurang rasa nasionalisme. Tapi mungkin pada tahun 1890-an, kata nasionalisme belum masuk dalam kosa kata bangsa kita.
Yang menghantui saya adalah kenyataan bahwa bangsa kita, dalam berbagai hal, tidak banyak berubah dari jaman Minke tersebut. Korupsinya, pola pikirnya.. *Benarkah manusia berevolusi? Kalau ovulasi sih iya..*
Minke yang mendapat pendidikan Eropa menjadi asing dari bangsanya sendiri. Jika saja teman-temannya, Jean Marais & Kommer, tidak menyadarkannya, mungkin dia sama saja menjadi bangsa Eropa, mengabdi pada surat kabar milik kolonial Belanda dan menulis untuk kepentingan asing.
Hampir sama dengan sekarang. Banyak kaum muda Indonesia yang pandai dan menempuh pendidikan tinggi dibajak oleh bangsa asing. Bahkan ‘pembajakan’ ini dimulai sejak masa ABG. Berapa jumlah manusia Indonesia yang mendapatkan beasiswa luar negeri dan kini menjadi permanen resident di sana, bahkan pindah warga negara? Ratusan.. Lebih! Dan bukan salah mereka sepenuhnya karena negara tersebut menawarkan hal-hal yang lebih baik, yang mungkin tidak ditawarkan di Indonesia.
Yang tinggal di Indonesia pun demikian.. Saya jadi ingat perkataan seorang alumni ketika saya masih anak ingusan di kampus: ”Biasanya ya, lulusan terbaik akan direkrut perusahaan-perusahaan asing atau multinasional, bekerja dengan gaji besar untuk membuat perusahaan semakin kaya. Lulusan dengan nilai di bawahnya menjadi dosen dan di bawahnya lagi menjadi PNS. Sedangkan yang nilainya jelek, karena melamar pekerjaan dimana-mana tidak diterima, biasanya akan jadi pengusaha dan akhirnya jadi alumni yang paling kaya.”
Mungkinkah negara ini tidak bisa menjadi yang terbaik karena tidak diatur oleh orang-orang yang terbaik? Saya nggak bilang mereka (guru, PNS, dsb.) tidak berkualitas lho.. But admit it, sometimes they are not the best. Berapa kali percakapan dengan teman membahas tentang si Anu yang jenius dan menurut kami cocok menjadi dosen namun kini berkarir di perusahaan A sebagai karyawan biasa, atau si Itu yang prestasinya biasa-biasa saja namun kini menjadi dosen di perguruan B. Ingin rasanya menukar posisi mereka, padahal belum tentu mereka mau.
Tapi definisi ‘terbaik’ itu sendiri memang sedikit absurd ya? Apakah ‘orang-orang terbaik’ ini hanya dinilai berdasarkan pada kemampuan dan kepandaiannya? Bagaimana dengan dedikasi dan komitmennya terhadap bangsa ini? Belum lagi faktor kesempatan dan keberuntungan.. Hmm..
***
Generasi kita adalah ‘anak semua bangsa’. Bukan berarti harus tinggal di berbagai negara dan selalu keliling dunia (itu namanya ‘semua anak harta’, as in Su-harta ;p). Tapi memiliki wawasan dan cara pandang yang luas, menyadari perannya sebagai warga dunia. Mendapatkan pengetahuan dari segala penjuru dunia bukan lagi hal yang sulit. Kemajuan teknologi telah menyajikan isi dunia ke depan mata.Yang susah adalah selalu mengingat asal dan tujuan kita. Apa kita hanya akan menjadi manusia egois, yang puas ketika kebutuhan diri sendiri tercukupi? Nggak kan? Kita punya tanggung jawab moral memperbaiki kehidupan bangsa dan dunia, bagaimanapun caranya. Seperti kata Pakdhenya Spider-Man: “With great power comes great responsibility”. Semakin kita pintar dan tahu banyak hal, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk membagi dan menerapkan pengetahuan kita.
*Hehehe.. pantas saja orang gila dan orang bodoh itu selalu terlihat lebih bahagia.*
***
Ada beberapa bagian di mana saya menemukan kemiripan dengan Minke. (Nggak mungkin kan saya memirip-miripkan diri dengan Annelies. Pertama, saya ini blasteran Solo-Jogja, bukan Jawa-Belanda. Kedua, di buku ini Annelies mati di bagian awal cerita, jadi saya belum sempat mengenalnya lebih jauh.) Dalam buku ini tokoh Jean Marais berkata pada Minke: “You study the languages of Europe to understand Europe. Through Europe you can learn to understand your own people.”
Ironis, karena saya mengetahui sejarah Indonesia dalam novel karya Pramoedya ini melalui novel terjemahannya (bahasa Inggris) yang ditulis oleh Max Lane, orang Australia.
***
Wah, sudah lama saya tidak membaca buku yang membuat saya berpikir ngalor-ngidul seperti ini. Melalui buku ini, Pramoedya seolah-olah bertanya: Apa yang telah kamu lakukan untuk bangsa ini?
Uhm.. nothing Sir..
***
PS: For my friends abroad, please go back home after you finish your study! Let’s build Indonesia Raya!! *padune golek kanca dolan..* :p