syubidubidudamdam.. cuap!!

August 6, 2008

Do what you like.. or do what you must?

Filed under: Uncategorized — yuti @ 1:24 pm

Tidak cuma satu orang yang pernah mengatakan bahwa mencari kerja itu seperti mencari jodoh. Dan saya setuju, dua-duanya susah. Maksud saya, mencari yang benar-benar pas, seperti peribahasa Jawa “tumbu oleh tutup” (bener nggak sih, tumbu apa sumbu ya?). Kalau asal kerja sih banyak, tapi belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Begitu juga dengan pacar, nggak asal bilang ‘iya’ ketika ada yang nembak (meskipun saya tahu ada beberapa cewek yang ‘tidak bisa menolak’).

***

Saya termasuk orang yang ‘susah’. Kalau saya tidak suka dengan sesuatu, biasanya saya tinggalkan. Hidup hanya sekali, buat apa disia-siakan dengan melakukan hal yang tidak kita sukai.

Saya pernah meninggalkan ujian. Sudah sampai di depan ruang ujian, membaca denah tempat duduk, dan tiba-tiba saya nggak pengen ujian. Saya nggak suka dosen & mata kuliahnya. Pikir saya, “Ah, buat apa ujian kalau saya toh harus mengulang?” Akhirnya saya tidak masuk ruangan. Saya melambaikan tangan pada teman-teman yang sudah duduk manis di kursi masing-masing dan memandang saya penuh keheranan. Mulut salah satu teman membentuk kata “Gila lo, Yut!”

Kekanak-kanakan memang, tapi begitulah adanya. Beberapa tahun kemudian, ketika mengulang mata kuliah itu, saya menyesali tindakan bodoh tersebut. “Buat apa mengulang kalau saya tahu saya nggak bakal dapat nilai yang lebih baik?” Hehe.. Intinya saya sadar pendirian ini tidak baik, sangat egois, dan saya mencoba untuk memahami arti ‘kompromi’, sebagaimana sahabat saya selalu setia menjejalkannya ke telinga saya. Tetap saja, perubahan itu tidak mungkin terjadi serta-merta.

***

Tadi pagi Mamah bilang, “Mau ada ujian CPNS, sekitar 3000-an. Pokoknya kamu harus ikut lho!”

Huiiiihh… “pokoknya kamu harus…” adalah kata-kata sakti untuk mengaktifkan sifat pemberontak dalam diri saya. Jika saya Hulk, mungkin saya akan berubah jadi raksasa ijo jelek begitu mendengar kata-kata itu.

“Kenapa harus? Kalau aku nggak suka gimana? Kalau kerjaannya nggak cocok gimana?” Saya tidak mengucapkannya, tapi pasti sudah tersampaikan melalui ekspresi wajah saya karena adik saya berkata, “Coba dulu napa!!”

Bukannya saya menolak jadi PNS. Tapi membayangkan ikut ujian CPNS dengan ribuan orang di suatu auditorium sudah membuat saya malas, perut mulas dan bibir pecah-pecah. Seandainya saya jadi PNS kelak, saya ingin itu terjadi dalam suatu rangkaian kejadian yang tidak disengaja. Serendipity.. (Haiyahh.. After all this years, kenapa saya masih juga mengharapkan serendipity ya?) Misalnya: saya membantu bos menyebrang jalan, kemudian bos menyadari kemuliaan hati saya dan melamar saya menjadi pegawainya (PNS, bukan kontrak seperti sekarang), dan kemudian saya akan berkata, “Baiklah, demi kepentingan bangsa ini..” *langit dihiasi pelangi, bunga-bunga bermekaran, dan musik dangdut India mengalun kencang*. Jadi bukan karena mengikuti ujian dengan peserta yang mengalahkan peserta audisi Indonesian Idol. (hmm, I guess I do have a problem with large crowds)

***

Hidup ini penuh dengan pilihan. Maunya sih saya hanya mengambil pilihan yang saya suka, bukan semata-mata pilihan pertama atau pilihan orang tua. Sadar sih, suatu saat saya akan dihadapkan pada pilihan yang tidak saya suka dan mau tidak mau harus menerimanya.

Yang bikin saya uring-uringan terus nulis nggak jelas ini karena akhir-akhir ini Mamah terlalu demanding sehingga saya semakin keras kepala. Saat saya sudah membuat rencana, tiba-tiba Mamah punya rencana lain. Bukan rencana sih, karena Mamah mungkin terpengaruh kondisi di sekitarnya. Misalnya ketika anak Pak Anu bekerja di PT Anu, lantas Mamah langsung menyuruh saya mencari lowongan di PT Anu. Mungkin saya bisa mengerti kalau saja sekarang ini saya menganggur, leyeh-leyeh di rumah. Tapi saya kan sudah bekerja! Trus ketika anaknya Bu Ini menikah, lantas Mamah langsung menyuruh saya mencari calon suami, as if calon suami bisa ditemukan di supermarket terdekat. Dan ketika saya berkata, “Mah, aku belum mau nikah sekarang.” (yang sebenarnya guyon karena jelas saya nggak mungkin nikah SEKARANG) Huahahaha… Big mistake! Saya terpaksa mendengarkan kuliah panjang tentang kehidupan dan berkeluarga.

***

Fyuuhh… mungkin saya harus introspeksi diri dan lagi-lagi mencoba berkompromi. Atau mungkin memang sudah saatnya saya pergi dari rumah… (Dicari: rumah penampungan hewan, makannya nggak banyak tapi harus enak.. :p )

6 Comments »

  1. yaahhh..
    susah emang kalo udah menyangkut orang tua…

    Comment by wib — August 8, 2008 @ 9:24 am | Reply

  2. Sejauh pemahaman saya, mereka (orang tua) selalu menginginkan yang terbaik buat kita dari “sudut pandang mereka”.

    Comment by iwantolet — August 8, 2008 @ 5:14 pm | Reply

  3. Saya maH teTap berPeGang teGuh paDa “Profit after big effort is great, but profit with less effort is SUPERGREAT”
    So I will work smarter, not harder. I’ll do something that allows me to work smart and doesn’t require HARD work.
    Jadi sebenarnya banyak haL yg sebenernYa g giTu aQ sukain, taPi aQ teteP menikMaTi proSeSnya, ya kaRna itu taDi,, aQ melakukan sesuatu yg bisa kulakukan dgn ‘cerdas’ tanpa harus terlalu membanting tulang,, Hahaaaa… (aGak2 g nyamBung yah??? BgituLah… saKing seRingnYa berLaku ‘carDas’ aQ mPe LeLah oTak…)

    Comment by djengwidz — August 9, 2008 @ 11:48 pm | Reply

  4. @wib:
    masih untung cuma kesangkut, nggak diborgol..

    @iwantolet:
    tapi tanpa mereka, tak ada kita juga kan.. hooh, aku yo sering mikir gitu. yet, thousands times, I made mistakes and thought “I wish I had listened to my parents..”

    @djengwidz:
    iya.. but no matter big or small the effort is, it’ll be greater if we do it with happy feeling.. sambil nyanyi “happy working song”-nya film Enchanted.. :D

    Comment by yuti — August 10, 2008 @ 4:53 pm | Reply

  5. beib, *i wish*; *what if*… IMHO, 2 kata itu termasuk kata2 paling ajaib dalam sejarah peradaban. mungkin sebenernya bukan “i wish i had listened to my parents.” BUT “i wish i didn’t do that”. parents or no parents… you just wish that didn’t happen.

    but EVERY single THING happen for a (some) cause(s). no worry beibeh. kalo saja waktu jaman ujian dulu itu ada seorang dosen yang tiba2 berdiri di belakangmu, pasti kamu masuk ruangan ujian itu kan? so.. why bother? looking back is only for seeing what kind of path that we already taken and smile to know that the future is still there, tempting us to be discovered. ^___^ and who knows on the way, as a bonus, we’ll get friend(s) for life. hah hah hah…

    errrrr.. kenapa sih mau jadi PNS aja susahnya bukan main. padahal abis gitu gaji kecil, terancam godaan korupsi (karena gajinya kecil), terancam diperiksa KPK (karena temen kantor ada yang korupsi)…dst dsb lhaaaa… batin mana tenang kapten!!! mmm.. tapi paspor hitam (yeah at least biru deh) juga cukup tempting hah hah hah hah

    Comment by varda — September 15, 2008 @ 3:59 pm | Reply

  6. @varda:
    paspor hitam memang menggoda… gimana dong? ambisi jadi ibu pejabat.. :D

    iya, ky kuliah kehidupan dari Dr Iaquinta pas malem2 ngrumpi sambil minum bir (dia, bukan aku), meanwhile kamu mbuh-PMS-mbuh-jet-lag di kamar, “Every problems may not have the solutions, but every actions will always have consequences.”
    yoh, something like that lah.. dan akhir2 ini kata2 itu menghantuiku..

    btw, kalo waktu itu ada dosen di belakangku, mungkin aku bilang, “Bapak terlambat. Silakan duduk.. Kursi bapak di sana, nomor XX..” sambil nunjuk kursiku..

    Comment by yuti — September 15, 2008 @ 10:19 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.