Tidak cuma satu orang yang pernah mengatakan bahwa mencari kerja itu seperti mencari jodoh. Dan saya setuju, dua-duanya susah. Maksud saya, mencari yang benar-benar pas, seperti peribahasa Jawa “tumbu oleh tutup” (bener nggak sih, tumbu apa sumbu ya?). Kalau asal kerja sih banyak, tapi belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Begitu juga dengan pacar, nggak asal bilang ‘iya’ ketika ada yang nembak (meskipun saya tahu ada beberapa cewek yang ‘tidak bisa menolak’).
***
Saya termasuk orang yang ‘susah’. Kalau saya tidak suka dengan sesuatu, biasanya saya tinggalkan. Hidup hanya sekali, buat apa disia-siakan dengan melakukan hal yang tidak kita sukai.
Saya pernah meninggalkan ujian. Sudah sampai di depan ruang ujian, membaca denah tempat duduk, dan tiba-tiba saya nggak pengen ujian. Saya nggak suka dosen & mata kuliahnya. Pikir saya, “Ah, buat apa ujian kalau saya toh harus mengulang?” Akhirnya saya tidak masuk ruangan. Saya melambaikan tangan pada teman-teman yang sudah duduk manis di kursi masing-masing dan memandang saya penuh keheranan. Mulut salah satu teman membentuk kata “Gila lo, Yut!”
Kekanak-kanakan memang, tapi begitulah adanya. Beberapa tahun kemudian, ketika mengulang mata kuliah itu, saya menyesali tindakan bodoh tersebut. “Buat apa mengulang kalau saya tahu saya nggak bakal dapat nilai yang lebih baik?” Hehe.. Intinya saya sadar pendirian ini tidak baik, sangat egois, dan saya mencoba untuk memahami arti ‘kompromi’, sebagaimana sahabat saya selalu setia menjejalkannya ke telinga saya. Tetap saja, perubahan itu tidak mungkin terjadi serta-merta.
***
Tadi pagi Mamah bilang, “Mau ada ujian CPNS, sekitar 3000-an. Pokoknya kamu harus ikut lho!”
Huiiiihh… “pokoknya kamu harus…” adalah kata-kata sakti untuk mengaktifkan sifat pemberontak dalam diri saya. Jika saya Hulk, mungkin saya akan berubah jadi raksasa ijo jelek begitu mendengar kata-kata itu.
“Kenapa harus? Kalau aku nggak suka gimana? Kalau kerjaannya nggak cocok gimana?” Saya tidak mengucapkannya, tapi pasti sudah tersampaikan melalui ekspresi wajah saya karena adik saya berkata, “Coba dulu napa!!”
Bukannya saya menolak jadi PNS. Tapi membayangkan ikut ujian CPNS dengan ribuan orang di suatu auditorium sudah membuat saya malas, perut mulas dan bibir pecah-pecah. Seandainya saya jadi PNS kelak, saya ingin itu terjadi dalam suatu rangkaian kejadian yang tidak disengaja. Serendipity.. (Haiyahh.. After all this years, kenapa saya masih juga mengharapkan serendipity ya?) Misalnya: saya membantu bos menyebrang jalan, kemudian bos menyadari kemuliaan hati saya dan melamar saya menjadi pegawainya (PNS, bukan kontrak seperti sekarang), dan kemudian saya akan berkata, “Baiklah, demi kepentingan bangsa ini..” *langit dihiasi pelangi, bunga-bunga bermekaran, dan musik dangdut India mengalun kencang*. Jadi bukan karena mengikuti ujian dengan peserta yang mengalahkan peserta audisi Indonesian Idol. (hmm, I guess I do have a problem with large crowds)
***
Hidup ini penuh dengan pilihan. Maunya sih saya hanya mengambil pilihan yang saya suka, bukan semata-mata pilihan pertama atau pilihan orang tua. Sadar sih, suatu saat saya akan dihadapkan pada pilihan yang tidak saya suka dan mau tidak mau harus menerimanya.
Yang bikin saya uring-uringan terus nulis nggak jelas ini karena akhir-akhir ini Mamah terlalu demanding sehingga saya semakin keras kepala. Saat saya sudah membuat rencana, tiba-tiba Mamah punya rencana lain. Bukan rencana sih, karena Mamah mungkin terpengaruh kondisi di sekitarnya. Misalnya ketika anak Pak Anu bekerja di PT Anu, lantas Mamah langsung menyuruh saya mencari lowongan di PT Anu. Mungkin saya bisa mengerti kalau saja sekarang ini saya menganggur, leyeh-leyeh di rumah. Tapi saya kan sudah bekerja! Trus ketika anaknya Bu Ini menikah, lantas Mamah langsung menyuruh saya mencari calon suami, as if calon suami bisa ditemukan di supermarket terdekat. Dan ketika saya berkata, “Mah, aku belum mau nikah sekarang.” (yang sebenarnya guyon karena jelas saya nggak mungkin nikah SEKARANG) Huahahaha… Big mistake! Saya terpaksa mendengarkan kuliah panjang tentang kehidupan dan berkeluarga.
***
Fyuuhh… mungkin saya harus introspeksi diri dan lagi-lagi mencoba berkompromi. Atau mungkin memang sudah saatnya saya pergi dari rumah… (Dicari: rumah penampungan hewan, makannya nggak banyak tapi harus enak.. :p )
