Lagi2 curhat..
***
Saya bernasib naas hari ini. Sejak utuk-utuk in the morning. Malamnya saya lupa pause game Virtual Villager sehingga paginya saya menemukan salah satu warga suku Kapichi Gonzales mati. Yah, m.a.t.i. Tinggal tengkoraknya. Padahal dikit lagi udah jadi Elder, master dalam 3 bidang.
Terus, karena pagi ini dinginnya luar biasa (24′C sih.. Nett, don’t kill me. Please understand that this friend of yours has thinner skin ;p) saya memanaskan air di heater. Heater murahan yang saya beli beberapa tahun yang lalu di Mirota Kampus seharga 13ribu rupiah. Heater yang dibeli dengan tujuan memanaskan air mandi supaya Mamah menyangka anak wedoknya ini selalu mandi pakai air dingin, tidak seperti adik laki2nya yang manja. Waktu kabelnya mau dicabut, lho’e..lho’e.., kabelnya lengket Kapten! Masih untung nggak korslet. Yah, heater murahan itu harus pensiun. Entah bagaimana nasibnya kelak. Saya belum memutuskan apakah benda itu akan menjelma jadi toples snack, tempat pensil, pot bunga Mamah, atau untuk membonsai kucing tetangga. ;p
Terus, saya harus menemani Papah ke suatu acara keluarga di kampung halamannya, sebuah desa terpelosok di Boyolali. Tadinya kami semua diwajibkan ikut. Lalu adik laki2 berkelit, katanya sedang sibuk persiapan pameran fotografinya. Adik perempuan memang ke Boyolali, tapi bersama teman2nya dalam rangka wisata kuliner, berangkat sehari sebelumnya, dan tidak akan berkunjung ke rumah Nenek. Mamah yang tadinya akan menemani Papah pun tampak malas2an. Akhirnya menemukan alasan yang dianggap sempurna. “Itu simbah tetangga kan dah kritis. Nanti kalo ada apa2 kan biar Mamah bisa bantu2.”
“Wah, kalo gak ada temannya aku males Mah. Aku gak ikut aja. Apalagi Papah pengen naik kereta.”
Dan Mamah mengeluarkan jurus andalannya: membuat saya merasa bersalah.
“Benernya Mamah kasian kalo Papah sendiri. Mamah pengen nemenin, tapi…”
“Papah tu ngantukan. Kalo nyetir juga sembarangan..”
“Wah, Papah pasti capek, sendirian, nggak ada temen ngobrolnya..”
Tidur tak lelap, makan tak kenyang. Mamah memang paling jago merayu di rumah.
“Kamu temani Papah ya. Kasian.. Bawa mobil koq.. Tapi kamu yang nyetir.”
Jam 7 saya dan Papah berangkat. Ban belakang gembos, dan Papah nggak mau mompa di sembarang tempat. Jadi baru dipompa di Jalan Solo, timur ringroad timur. Padahal rumah saya di barat ringroad barat. Dan nyetir dengan Papah sebagai co-drivernya itu VERY STRESSFUL. Satu jerawat baru tumbuh dengan sukses..
Sampai rumah nenek, saya kaget, sedih, haru. Perasaan campur aduk. Rumah nenek tinggal lantai semen. Tembok, atap, keramik sudah tidak ada. Terlihat rumput liar tumbuh di sela2 lantai yang retak. Oh God, kapan terakhir kalinya aku kesini? Setahun? 2 tahun? Tidak.. Lebaran 2005. Saya bahkan tidak disana ketika nenek meninggal dunia.
Nostalgia. Saya mengelilingi rumah itu. Tempat nenek saya duduk sambil bercerita tiada hentinya kini ditumbuhi bayam liar. Saya petik bunganya, saya ambil bijinya. Mungkin akan saya tanam di belakang rumah. Mungkin akan mengawetkan kenangan saya akan rumah nenek. Entah kapan saya akan kesana lagi. 10 tahun? Or never, for there is nothing left..
Pulangnya, saya kecelakaan. Di depan airport Adisumarmo. Ditabrak dari depan dan belakang, threesome. Yang membuat saya shock, pengemudi sepeda motor yang dibelakang kami (yang justru menabrak kami karena dia terlalu dekat & tidak bisa mengerem) emosi dan hendak memukul Papah dengan helmnya. Untung terhalang jendela yang tertutup sebagian. Dalam kondisi seperti itu, ternyata reaksi saya hanya menatap diam. Tidak teriak, tidak menangis. Saya diam.
Berdasarkan pemeriksaan RS, tidak ada yang terluka parah. Hanya lecet dan memar. Di RS, saya menghubungi Mamah. Bersembunyi dari Papah di balik pilar besar, akhirnya saya menangis di telpon. “Mamah.. takut..” Ajaibnya, setelah itu perasaan saya jadi tenang. Saya bisa rembugan dengan partner tabrakan saya. Yang di depan ternyata masih ABG belum punya SIM. Dia memanggil Omnya yang tentara & Pakdhenya yang polisi. Untungnya si Om & Pakdhe ini menyadari sepenuhnya bahwa keponakan mereka juga salah, jadi tidak berusaha memeras saya. Atau karena kasihan melihat muka saya yang memelas ini ya?
Sedangkan si bapak emosi juga bisa ditenangkan. Intinya semua terselesaikan secara kekeluargaan, berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
Sampai rumah, saya langsung dipeluk Mamah. “Nggak papa, namanya juga musibah. Bukan penyakit menular, dan bukan penyakit keturunan.“
Tapi sepertinya saya nggak jadi beli sepatu baru. Sepertinya kali ini saya harus urunan mengganti lampu depan dan bemper yang penyok.
***
PS: Pah, Mah, kalo kalian by any chance baca blogku, maaf ya.. Oiya, sekalian mau ngaku, dulu pas jaman SMA itu bemper & lampu belakang mobil pecah bukan karena ditabrak truk pas parkir di Panti Rapih. *Did you believe that?* Tapi karena nabrak tiang telpon pas mau mundur parkir di kostnya Era. I Love You.. Please don’t disown me.. *mmuuuaaccchhh*

Terharu, tapi pas baca endingnya koq… “OO.. kamu ketahuan…”
Comment by iwantolet — July 21, 2008 @ 6:46 pm |
i really hate you for posting this one.
i don’t believe in supertitious, BUT..
1. i also had accident near Klaten.. (you already knew that uh?)
)
2. bemper belakang dan lampu belakangnya abe juga pecah gara2… you know what
so… please..please.. please… don’t make me so afraid to drive..
errr… ok.. that was selfish me..
now.. it’s the kind me
how are you? hope you don’t suffer the post-accident driving syndrome. coz if you have.. who will drive with me.. errrr… next year? *hugs hugs hugs*
Comment by varda — July 25, 2008 @ 3:54 pm |
wow…
keren…
mengkin perasaan si pengendara motor sama dengan perasaan saya waktu kecelakaan dulu, bedanya saya punya SIM dan gak marah2, hehe…
Comment by wib — August 1, 2008 @ 9:19 am |
@iwantolet:
hehehe, ditulis di sini karena kemungkinan mereka baca ini kecil.. hopefully gak ketauan.. ;p
@varda:
don’t worry, I’m not suffering from that post-accident driving syndrome whatever..
kalo dah jadi pejabat kan pasti disupirin, plus dikawal selusin mobil polisi pake ‘nguing-nguing’ *ndeso..*
@wib:
bedanya lagi Wib, si pengendara motor nggak nabrak karena lihat baliho gambar Astrid ;p
Comment by yuti — August 10, 2008 @ 4:38 pm |
sial…
Comment by wib — August 11, 2008 @ 9:31 am |