syubidubidudamdam.. cuap!!

July 20, 2008

Kisah Sedih di Hari Minggu..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 10:14 pm

Lagi2 curhat..

***

Saya bernasib naas hari ini. Sejak utuk-utuk in the morning. Malamnya saya lupa pause game Virtual Villager sehingga paginya saya menemukan salah satu warga suku Kapichi Gonzales mati. Yah, m.a.t.i. Tinggal tengkoraknya. Padahal dikit lagi udah jadi Elder, master dalam 3 bidang.

Terus, karena pagi ini dinginnya luar biasa (24′C sih.. Nett, don’t kill me. Please understand that this friend of yours has thinner skin ;p) saya memanaskan air di heater. Heater murahan yang saya beli beberapa tahun yang lalu di Mirota Kampus seharga 13ribu rupiah. Heater yang dibeli dengan tujuan memanaskan air mandi supaya Mamah menyangka anak wedoknya ini selalu mandi pakai air dingin, tidak seperti adik laki2nya yang manja. Waktu kabelnya mau dicabut, lho’e..lho’e.., kabelnya lengket Kapten! Masih untung nggak korslet. Yah, heater murahan itu harus pensiun. Entah bagaimana nasibnya kelak. Saya belum memutuskan apakah benda itu akan menjelma jadi toples snack, tempat pensil, pot bunga Mamah, atau untuk membonsai kucing tetangga. ;p

Terus, saya harus menemani Papah ke suatu acara keluarga di kampung halamannya, sebuah desa terpelosok di Boyolali. Tadinya kami semua diwajibkan ikut. Lalu adik laki2 berkelit, katanya sedang sibuk persiapan pameran fotografinya. Adik perempuan memang ke Boyolali, tapi bersama teman2nya dalam rangka wisata kuliner, berangkat sehari sebelumnya, dan tidak akan berkunjung ke rumah Nenek. Mamah yang tadinya akan menemani Papah pun tampak malas2an. Akhirnya menemukan alasan yang dianggap sempurna. “Itu simbah tetangga kan dah kritis. Nanti kalo ada apa2 kan biar Mamah bisa bantu2.”

“Wah, kalo gak ada temannya aku males Mah. Aku gak ikut aja. Apalagi Papah pengen naik kereta.”

Dan Mamah mengeluarkan jurus andalannya: membuat saya merasa bersalah.

“Benernya Mamah kasian kalo Papah sendiri. Mamah pengen nemenin, tapi…”
“Papah tu ngantukan. Kalo nyetir juga sembarangan..”
“Wah, Papah pasti capek, sendirian, nggak ada temen ngobrolnya..”

Tidur tak lelap, makan tak kenyang. Mamah memang paling jago merayu di rumah.

“Kamu temani Papah ya. Kasian.. Bawa mobil koq.. Tapi kamu yang nyetir.”

Jam 7 saya dan Papah berangkat. Ban belakang gembos, dan Papah nggak mau mompa di sembarang tempat. Jadi baru dipompa di Jalan Solo, timur ringroad timur. Padahal rumah saya di barat ringroad barat. Dan nyetir dengan Papah sebagai co-drivernya itu VERY STRESSFUL. Satu jerawat baru tumbuh dengan sukses..

Sampai rumah nenek, saya kaget, sedih, haru. Perasaan campur aduk. Rumah nenek tinggal lantai semen. Tembok, atap, keramik sudah tidak ada. Terlihat rumput liar tumbuh di sela2 lantai yang retak. Oh God, kapan terakhir kalinya aku kesini? Setahun? 2 tahun? Tidak.. Lebaran 2005. Saya bahkan tidak disana ketika nenek meninggal dunia.

Nostalgia. Saya mengelilingi rumah itu. Tempat nenek saya duduk sambil bercerita tiada hentinya kini ditumbuhi bayam liar. Saya petik bunganya, saya ambil bijinya. Mungkin akan saya tanam di belakang rumah. Mungkin akan mengawetkan kenangan saya akan rumah nenek. Entah kapan saya akan kesana lagi. 10 tahun? Or never, for there is nothing left..

Pulangnya, saya kecelakaan. Di depan airport Adisumarmo. Ditabrak dari depan dan belakang, threesome. Yang membuat saya shock, pengemudi sepeda motor yang dibelakang kami (yang justru menabrak kami karena dia terlalu dekat & tidak bisa mengerem) emosi dan hendak memukul Papah dengan helmnya. Untung terhalang jendela yang tertutup sebagian. Dalam kondisi seperti itu, ternyata reaksi saya hanya menatap diam. Tidak teriak, tidak menangis. Saya diam.

Berdasarkan pemeriksaan RS, tidak ada yang terluka parah. Hanya lecet dan memar. Di RS, saya menghubungi Mamah. Bersembunyi dari Papah di balik pilar besar, akhirnya saya menangis di telpon. “Mamah.. takut..” Ajaibnya, setelah itu perasaan saya jadi tenang. Saya bisa rembugan dengan partner tabrakan saya. Yang di depan ternyata masih ABG belum punya SIM. Dia memanggil Omnya yang tentara & Pakdhenya yang polisi. Untungnya si Om & Pakdhe ini menyadari sepenuhnya bahwa keponakan mereka juga salah, jadi tidak berusaha memeras saya. Atau karena kasihan melihat muka saya yang memelas ini ya?

Sedangkan si bapak emosi juga bisa ditenangkan. Intinya semua terselesaikan secara kekeluargaan, berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

Sampai rumah, saya langsung dipeluk Mamah. “Nggak papa, namanya juga musibah. Bukan penyakit menular, dan bukan penyakit keturunan.

Tapi sepertinya saya nggak jadi beli sepatu baru. Sepertinya kali ini saya harus urunan mengganti lampu depan dan bemper yang penyok.

***

PS: Pah, Mah, kalo kalian by any chance baca blogku, maaf ya.. Oiya, sekalian mau ngaku, dulu pas jaman SMA itu bemper & lampu belakang mobil pecah bukan karena ditabrak truk pas parkir di Panti Rapih. *Did you believe that?* Tapi karena nabrak tiang telpon pas mau mundur parkir di kostnya Era. I Love You.. Please don’t disown me.. *mmuuuaaccchhh*

July 10, 2008

Sedia batere sebelum mati

Filed under: Uncategorized — yuti @ 11:39 am

Sore kemarin listrik padam di Jogja barat. Di rumah hanya ada Mamah, dan saya sedang kurang mesra dengan Mamah (entah urusan kamar, listrik, kerjaan, atau perjodohan yang tidak berhasil itu). Oh, tambah lagi ketika saya membawa lilin ke kamar, Mamah teriak “Jangan naruh lilin sembarangan!” Mungkinkah Mamah telah menyadari bahwa saya hampir membakar rumah pada pemadaman listrik yang lalu?

[Waktu itu saya meletakkan lilin dalam gelas plastik di atas lemari kayu dan saya tinggal ber-candle-lite-shower-ria. Ketika keluar kamar mandi, lilin itu hilang beserta gelas plastiknya! Wow! Bukan sulap, bukan sihir.. Saya sempat mencari2 kalau lilin itu terjatuh, sebelum akhirnya menyadari seperempat permukaan lemari kayu itu sudah menjadi arang. Saya tutup saja dengan kertas & pigura, berharap bekas kebakaran itu tidak akan ditemukan selama saya masih bernafas di rumah ini.]

Lalu saya sms Kuti. (Btw, kami punya nama panggilan baru: Kapicha & Kapichi.)

Cha, listrik rumah mati ni..Ak pengen dolan aja. Dirumah sepi. Hauu.. T.T
Kamu dimana? Ga usah pulang dulu, tak susulnya..

Daannn.. saya kirim ke nomor yang salah. Ternyata sms itu mereply sms sebelumnya. Gini deh kalau kirim sms sambil memanfaatkan cahaya layar HP untuk nyari kacamata..

Kuti tak kunjung membalas. Saya tetap keluar rumah juga, mau mengembalikan VCD yang sudah telat 3 minggu dan belum saya tonton sebagian. Ketika mampir ATM, sms dari Kuti datang.

Aq skrng dkmpuz Chi.. Ni nntonin tmn2Q pd badminton.. Td sore c dJus janda jumatan*.. Km drmh aj.. Ben ngenthung.. Hahahaa..

Ealah, dasar adik durhaka! Siapa yang sedjak kemarin doeloe ngajak jalan2 yah??

[*Jus Janda Jum’atan (JJJ) adalah warung jus & smoothie enak di timur percetakan Kanisius. Nama sebenarnya saya lupa (DDP or something). Yang jelas, dulu setiap Jum’at siang, tempat itu penuh dengan cewek2 yang menunggu pasangannya sholat Jum’at. Makanya saya beri nama JJJ itu.]

Akhirnya saya sms-an dengan teman saya yang tidak terpercaya: Uut Markentut, ngajakin dolan. Bodo amat ceweknya marah2 lagi! Pokoknya saya lagi pengen cerita2..

Ut, km dimana? Main yuuk.. ngupi2 gitu. Jogja barat lagi kena jatah pemadaman ni..

Dimana? Tp ni mo makan bentar sama temen. Gimana?

Yuti lg balikin CD di tpt biasa. Uuh.. ga jd aja. Ntar nunggunya lama..

Duh ngambek :[ sabar yah, cuma makan bentar..

Yaudah, saya juga agak lama di rentalan CD, ngobrol2 sama masnya, yang saya baru tahu ternyata punya tato dipunggungnya. Bukan apa2, kaget aja karena masnya punya tampang anak kuliahan yang nggak neko2. Tapi setelah dipikir2, tidak mengherankan karena di dekat rentalan itu ada butik tato. *Lesson1: Don’t judge a book by its cover. Lesson2: I have poor observation.*

Yut…

Dimana?

Seperti biasa dia langsung membalas. Tapi baru beep..beep.. Blep, HP saya mati. Aaaarrrggghhhh…

Aduh..kalau saya nggak sempat nanya ‘dimana’, mungkin saya santai2 saja. Paling2 dia mengira saya masih ngambek. (which is highly unlikely, karena kejadian seperti ini sudah sangat tipikal) Tapi mengingat sms yang seharusnya saya terima itu adalah jawaban pertanyaan ‘dimana?’, saya akan merasa bersalah kalau ternyata dia menunggu saya di suatu tempat, kedinginan, trus akhirnya mengalami hipotermia. Jadi saya muter2 mencari counter HP yang kira2 punya charger. Tapi ternyata semua counter HP yang menetap sudah tutup, tinggal counter di pinggir jalan yang nggak punya colokan. Akhirnya saya ke rumah tante saya di Pogung, numpang buka 1 sms.

Dan ternyata..

Masih maem…yuti marah?

Owhh..
Saya matikan lagi HP saya dan pulang dengan tenang.

***

Pernah saya janjian ketemu dengan teman saya Mister di suaru airport. Rencana semula, Mister yang datang lebih awal akan menunggu saya yang datang siang, lalu kami akan menunggu orang yang akan menjemput kami. Kok ya sampai sana batere HP saya ngedrop. Berulang kali saya pakai jasa paging system untuk memanggil Mister. Tapi sepertinya mbak petugas itu agak buta alfabet, yang dia bunyikan itu sama sekali nggak mirip dengan nama Mister. Saya nggak tahu siapa yang akan menjemput saya, nggak tahu daerah tempat workshop yang akan kami ikuti, nggak bisa membaca tulisan cacing, dan nggak mudeng bahasanya. Saya membuat tulisan identitas diri, saya tempelkan di koper, dan saya bawa sa’i antara Terminal1 dan Terminal2 sampai kaki saya lecet.

Saya duduk, melihat sekeliling kalau saja ada colokan listrik. Saya cuma menemukan satu:
colokan vending machine
*bayangkan mesinnya bersinar, di tengah2 lingkungan yang jadi hitam-putih*.
Hmm, tapi ada dua kemungkinan kalau saya nekat mencabut kabel vending machine dan nge-charge HP saya:

  1. benda2 dalam vending machine itu rusak dan setelah proses pengadilan yang panjang saya harus membayar ganti rugi,
  2. vending machine-nya baik2 saja, tapi charger saya nggak cocok dengan colokannya, menyebabkan korslet dan pemadaman total sehingga pesawat2 tergelincir karena arahan yang kacau dari bandara.

Oke.. resikonya terlalu besar.

Akhirnya saya menuju ke pos polisi wisata, “Excuse me, uhmm…, can I recharge my cellphone here?”

Untung polisinya baik hati, gemar menolong dan tidak sombong. Saya diijinkan nge-charge HP disana, meskipun saya jadi kelihatan seperti turis yang ditahan karena dokumennya tidak lengkap.

Dan sedihnya, sms pertama yang masuk adalah sms dari dosen saya di Jogja yang isinya turut berduka cita atas meninggalnya nenek saya.. *Yah, that’s how I knew my grandma passed away.*

***

Ohh.. mengapa hal bodoh macam ini terjadi lagi? Selain kejadian di atas, sebenarnya sudah sering saya kehabisan batere HP karena lupa nge-charge. Tapi biasanya ada teman yang tulus ikhlas meminjamkan HPnya. And I took it for granted. Mengapa saya tidak mengambil pelajaran dari peristiwa sebelumnya dan membeli batere HP ekstra?
*Oke, saya telah memasukkan batere HP dalam daftar belanja saya.*

***

Sampai rumah, listrik sudah menyala. Adik2 sudah di rumah. Dan ketika HP akhirnya hidup kembali, ada 5 sms dan 2 missed call. Seharusnya saya diamkan saja ya? Tapi karena saya nggak tegaan, saya bales juga.

Nggak marah kok. Td batere abis.

Ckckck… why do I have to be nice?

July 9, 2008

Opera Sabun Mandi

Filed under: Uncategorized — yuti @ 3:04 pm

Beberapa manusia sudah mendesak saya mengupdate blog. So here I am, menulis hal yang tidak penting karena saya sedang nggak mood nulis hal yang penting. *Kapan ya saya nulis hal yang penting?*

***

Beberapa waktu yang lalu, iseng-iseng saya membaca postingan bulletin board FS Kuti, si adik perempuan. Ada semacam kuesioner yang menilai kefemininan anda. Di sana tertulis poin-poin yang menjadi ciri sifat feminin, diantaranya:

o Suka mandi busa

o Pakai sabun cewek

Nah herannya, si Kuti ini tidak memberi tanda silang pada kedua poin tersebut lho.. Padahal selama ini saya kira semua cewek suka mandi busa dan pasti pakai sabun cewek. Oh, apakah Kuti bukan cewek??

Saya lalu menuju kamar mandi yang hanya digunakan oleh saya dan Kuti. Ternyata.. Dari 7 jenis sabun mandi yang ada di kamar mandi itu ada 6 sabun cair milik saya dan 1 sabun batang Nuvo milik Kuti. Hmm.. Pantas saja beberapa waktu yang lalu Kuti mengatakan saya memiliki obsesi berlebihan terhadap sabun mandi.

Saya mengklasifikasikan sabun yang ada di kamar mandi sebagai berikut:

  1. Sabun anti kuman. Saat ini diwakili oleh Dettol Fresh. Alternatif lain: Biore Healthy Plus, Lifebuoy. Penting untuk mandi setelah melakukan aktivitas berat & kotor, seperti nonton petani nyangkul di sawah..
  2. Sabun yang wanginya kuat & long lasting. Saat ini diwakili oleh Biore Active Deodorant. Penting untuk mandi sebelum aktivitas yang memerlukan kewangian ekstra, misalnya ngedate.
  3. Sabun dengan extra moisture. Saat ini diwakili oleh Dove. Alternatif lain: Biore Mild. Penting dipakai saat kulit terasa kering.
  4. Sabun yang bisa meringankan mood swing PMS serta membuat rileks. Sabun jenis ini dapat dibagi menjadi:
    1. Sabun dengan busa melimpah dan lembut, misal: Lux Velvet Touch atau Silky Kiss
    2. Sabun dengan wangi yang menyenangkan, misal: sabun wangi buahnya Body Shop, Lux Green Tea, Lux warna ungu (wangi lavender)
  5. Sabun yang memberi rasa segar. Saat ini diwakili oleh Biore Cool Mint. Alternatif lain: Lux warna biru (lupa judulnya) & Lux Wake Me Up (orange). Biar nggak ngantuk.. hihihi.. Tapi ini sekarang jarang dipakai, dingin sih..

Kenapa harus sedia sabun sebanyak itu?

Well.. Selama ini saya telah berusaha supaya tidak jadi anak manja (mandinya jarang). Tapi tetap saja saya ini anak mama (malas mandi). Untuk menyiasatinya, tentu saja harus ada hal-hal yang membangkitkan semangat mandi. Diantaranya adalah menyediakan berbagai sabun mandi sesuai dengan kondisi jiwa dan raga. Dan ingat, harus sabun cair karena sabun batang tidak bisa memberi kepuasan yang sama sebagaimana sabun cair! *haiyahh..* Saya pakai sabun batang untuk cuci tangan, cebok, dan nyuci underwear. :D

Kuti bilang saya ini aneh. But hey! Mamah punya hobi mengoleksi bebek2an, Kuti mengoleksi aneka gajah2an, boleh dong saya koleksi sabun mandi! Dan bukan saya satu-satunya orang yang memiliki sifat ini. Sahabat saya juga ada yang seperti ini. Hmm.. mungkin kami memang berbagi sifat ya.. Dan saya yakin banyak cewek (mungkin juga cowok?) yang punya obsesi sabun mandi ini. *hayoo ngaku..*

Oiya, selain sabun mandi, ada hal lain yang bisa jadi pendorong semangat mandi lho.. Apakah itu?

TEMAN MANDI, tentu saja!!

Jangan berpikiran mesum dulu! Begini, dulu saya punya teman mandi ikan kecil warna kuning dengan bintik hitam di ekornya yang saya beri nama Binti. Hingga pada suatu hari yang naas, Binti mati karena overdosis kaporit yang dimasukkan ke tangki air oleh Papah.

Terbersit niat untuk memasukkan kura-kura saya ke dalam bak mandi. Untung saya sempat membaca di Wikipedia bahwa kotoran kura-kura mengandung Salmonella sp. yang dapat menyebabkan keracunan. Ouuhh.. tidaaakk…

Dan akhirnya, saya perkenalkan teman mandi saya sekarang: Rebecca Lee!

Hi, friends! My name is Rebecca Lee. Such a beautiful name for a beautiful rubber duck, no? My owner said that it comes from Arek iki bebek adus kali.Hmm.. I don’t speak Javanese so I don’t understand the meaning. Kweekk.. Owner doesn’t want to tell me. Kweekkk…

Owh, my little sister, Rebecca Lee II, is coming from Timbuktu (?) and looking for a bathing mate.

No! MATE, not mat! She can buy a bathing mat anytime at Carrefour. Kweekk..

Her quacking sounds as good as mine. Satisfaction guaranteed! So if you want to keep her as your bathing mate, drop a comment here. My owner will put your name in a drawing, Rebecca Lee II Contest, that is!

Hurry! Or she’ll drown herself in the tub, together with her sorrow and despair for losing Uncle Scrooge McDuck’s fortune in Timbuktu.

***

*Djeng Net, ini bukan judi lhoo!!* :D

Blog at WordPress.com.