Baru saja saya berkunjung ke Amplaz dengan tujuan nonton, setelah berbulan2 puasa nonton. Teman saya, Djeng Nett, kebetulan pas pulang dari pengembaraannya di benua Eropa.
Ini kali kedua kami ke Amplaz dalam bulan ini. Dan kami masih saja terpana dengan semakin banyaknya pria2 yang menurut kami ‘tidak berperilaku sebagaimana seharusnya seorang pria’. Ada pria yang memakai rok tutu (rok untuk menari balet) berwarna shocking pink, full make-up, wig pirang panjang, topi tinggi seperti yang digunakan oleh si kucing dalam The Cat in The Hat. Ada pula yang memakai pakaian wanita super seksi, meskipun muka, potongan rambut dan badannya sangat pria. Lalu ada juga dua orang pria, yang satu sangat tampan, satunya lagi biasa saja. Sekilas tampak baik2 saja. Tapi kemudian kami melihat sikap mereka yang mesra, saling menggelitiki tangan, dan jari kelingking pun bertautan. Wah!
Saya sudah sering membahas hal ini dengan si Djeng Nett. Mengapa fenomena ini semakin banyak saja di Jogja? Salah siapa mereka jadi demikian? Apakah para wanita memang tidak menarik lagi di mata mereka? Susahkah menjadi laki-laki sejati? Bagaimana caranya menjaga anak2 kita kelak? Bagaimana menjawab berbagai pertanyaan anak2 kita kelak? Ada sejuta pertanyaan yang belum bisa terjawab pasti.
Biasanya diskusi kami akan ditutup dengan kalimat, “Aku takut..”
Takut tidak mendapat suami karena pria2 lebih tertarik pada sesamanya. Takut tidak mampu menjaga keluarga kelak. Dan terutama, takut Allah akan segera menjatuhkan azabnya.
Mungkinkah ini hanya paranoia belaka? Ataukah memang sudah sewajarnya kami khawatir?

haduh haduh… gak mau ke amplas lagi ah mbak, kekeke…. em ya mungkin itu hanya sebagian kecil dari kaum lelaki sajah…
Comment by Dimas — April 12, 2008 @ 7:20 pm |
MadaM iVan…
Comment by djengwidz — April 14, 2008 @ 6:15 pm |
@ djengwidz: flexible.. kalo lagi ndut jadi Madam, kalo kurusan jadi Mister kan?
@ dimas: knp? jangan2 yang pake tutu itu kamu? uwaa.. :p ah, benernya kami tu sirik aja. kok masnya yang ganteng mesra2an sama mas yang tidak ganteng, kok gak sama kami aja sih.. gitu..
*mupeng*
Comment by yuti — April 20, 2008 @ 6:52 pm |
Sebenarnya fenomena itu dari jaman batu kayaknya udah ada deh. Tertulis juga di Al Qur’an (surat apa lupa aku…). Cuma, waktu itu tidak terekspose atau mereka lebih malu2 untuk menunjukkan pada dunia. Saat kelumrahan dan keterbukaan sudah bukan barang tabu lagi, mereka lebih leluasa untuk mengekspresikannya.
Kadang-kadang aku bingung juga, mau dibawa kemana pola pikir ini oleh sang jaman? Suatu saat nanti jangan kaget kalo jalan-jalan ke amplaz ketemu ama cowo yang gandengan trus cium-ciuman sama kambing…
Comment by iwantolet — April 20, 2008 @ 9:15 pm |
kalo cium2an sama kambing belum pernah lihat, tapi kalo cium2an sama anjing pernah lihat. hehehe.. makanya pake XL.. ’sampeee puuaaaasss..’ *njuk ngiklan*
Comment by yuti — April 21, 2008 @ 5:00 pm |
Sodom dan Gomorah ya maksudnya mas Iwantolet?
yeah… me sebagai yang namanya terbawa2 juga mau ikut urun rembug disini.(?)
Urun rembug apa?
Urun rembug kalo dunia ini memang semakin menakutkan. *halaaaahh*
I am soooo afraid that everything is not gonna be allright.
but then, sebagai makhluk beriman, we have to do our best in this world.
Iya kan, Jeng?
(dengan tatapan mata nanar)
Comment by queen varda — April 28, 2008 @ 7:23 pm |