Baru saja saya berkunjung ke Amplaz dengan tujuan nonton, setelah berbulan2 puasa nonton. Teman saya, Djeng Nett, kebetulan pas pulang dari pengembaraannya di benua Eropa.
Ini kali kedua kami ke Amplaz dalam bulan ini. Dan kami masih saja terpana dengan semakin banyaknya pria2 yang menurut kami ‘tidak berperilaku sebagaimana seharusnya seorang pria’. Ada pria yang memakai rok tutu (rok untuk menari balet) berwarna shocking pink, full make-up, wig pirang panjang, topi tinggi seperti yang digunakan oleh si kucing dalam The Cat in The Hat. Ada pula yang memakai pakaian wanita super seksi, meskipun muka, potongan rambut dan badannya sangat pria. Lalu ada juga dua orang pria, yang satu sangat tampan, satunya lagi biasa saja. Sekilas tampak baik2 saja. Tapi kemudian kami melihat sikap mereka yang mesra, saling menggelitiki tangan, dan jari kelingking pun bertautan. Wah!
Saya sudah sering membahas hal ini dengan si Djeng Nett. Mengapa fenomena ini semakin banyak saja di Jogja? Salah siapa mereka jadi demikian? Apakah para wanita memang tidak menarik lagi di mata mereka? Susahkah menjadi laki-laki sejati? Bagaimana caranya menjaga anak2 kita kelak? Bagaimana menjawab berbagai pertanyaan anak2 kita kelak? Ada sejuta pertanyaan yang belum bisa terjawab pasti.
Biasanya diskusi kami akan ditutup dengan kalimat, “Aku takut..”
Takut tidak mendapat suami karena pria2 lebih tertarik pada sesamanya. Takut tidak mampu menjaga keluarga kelak. Dan terutama, takut Allah akan segera menjatuhkan azabnya.
Mungkinkah ini hanya paranoia belaka? Ataukah memang sudah sewajarnya kami khawatir?
