Saya selalu tersenyum jika mendengar Rhapsody in Blue-nya George Gershwin. Bukan karena ingat dorama Jepang nan lucu, Nodame Cantabile, tapi musik tersebut, seperti kebanyakan karya Simbah Gershwin lainnya yang playful, mengingatkan saya pada kekonyolan2 dan drama yang dibumbui dengan tangis serta (banyak) tawa dalam keluarga saya.
Pada Rhapsody in Blue, bagian awalnya yang meninggi mirip sekali dengan teriakan adik perempuan saya ketika ada yang kentut sembarangan. Diikuti dengan peringatan maupun nasihat dari tokoh yang sedang bijak, yaitu saya dan Mamah. Setelah itu disambung dengan drama2 keluarga kami: ada gojek2 kéré maupun gojek2 non-kéré (maksudnya guyonan garing maupun joke yang benar2 lucu). Ada bagian yang mengingatkan saya pada Papah yang tertidur di depan TV menyala dengan mp3 campur sari di telinga, novel di tangannya, dan remote dipangkuannya, sementara Mamah mengendap2 mengambil remote tersebut. Ada pula yang seolah2 menggambarkan percakapan gak nyambung antara saya dengan adik laki2.
Adik: “Kruik..bla..bla..”
Saya: “Apaaa???” *pura2 gak dengar*
Adik: “Kruik..bla..bla..”
Saya: “Apaaaa???”
Adik: “Susah ngomong sama kamu!”
Saya: “Apaa??”
Adik: “Apaa??” *menirukan saya*
Saya: “Susah ngomong sama kamu!” *menirukan adik saya*
Dan kami pun tertawa bersama.
Hmm.. Mungkin lebih cocok jika judulnya diganti dengan Rhapsody in Blur..
Lalu ada An American in Paris-nya Mbah Gershwin yang mengingatkan saya pada Papah yang setiap kali pulang kantor membunyikan klakson berulang2 minta dibukakan pintu. Eh, salah.. bukan meminta dibukakan pintu, karena kadang2 pintu tersebut memang sudah terbuka, namun minta disambut. Seperti tamu negara saja..
Mendengarkan Promenade (Walking the Dog) membuat saya ingin berjalan2 dengan binatang peliharaan. Tak ada anjing, kura2 pun jadi. Akibatnya, rute jalan2 kami terbatas hanya sampai pintu garasi.
Mbah Gershwin, dengan mengawin-silangkan musik klasik dengan jazz, menghasilkan musik yang mampu membawa nuansa tersendiri. Rasanya saya jadi lebih ceria dan bersemangat. Seolah2 kita bisa meraih bintang. Seolah2 saya pun bisa memainkan musik Gershwin. Tapi setelah menghadap keyboard, saya pun segera sadar bahwa saya buta nada dan satu2nya musik klasik yang bisa saya mainkan adalah Twinkle Twinkle Little Star (Mozart’s Ah! Vous dirai-je, Maman), satu tangan, tanpa variasi, seperti anak TK belajar piano.
Musik sangat mempengaruhi mood. Pernah suatu ketika saya merasa sangat stress dan tertekan. Lha kok ya musik yang saya dengarkan malah Blurry-nya Puddle of Mudd.
“Everything’s so blurry, everyone’s so fake..” *jedhog2 kepala ke meja*
Oleh sebab itu, sekarang saya mengusahakan hanya musik2 positif saja yang boleh singgah di playlist saya.
Go away, Eminem!
Life’s hard, don’t make it harder.
