Sudah lama saya tidak naik kereta jarak jauh. Biasanya terbatas hanya sampai Solo, jadi tiket dapat langsung dibeli di loket beberapa menit sebelum keberangkatan. Bahkan pernah saya numpang kereta tujuan Surabaya karena ketinggalan Prameks, jadi tanpa tiket. Membayar kondektur di atas kereta sesuai dengan harga tiket Prameks.
Kali ini karena saya, Mamah & Papah harus menghadiri pernikahan kakak sepupu di Jakarta pada long weekend akhir bulan ini (yang sudah pasti akan ramai), maka mau tidak mau saya harus berurusan dengan pusat reservasi tiket Stasiun Tugu.
***
Begitu datang, saya langsung mengambil nomor antrian. Di sana tidak ada papan petunjuk mengenai mekanisme pembelian tiket. Jadi saya hanya mengikuti mbak di depan saya. Setelah menunggu cukup lama (karena dari 6 loket yang tersedia, yang dibuka hanya loket 1), akhirnya nomor saya dipanggil. Saya segera ke depan, menyerahkan nomor antrian dan menyebutkan kereta yang ingin saya pesan.
Mbak petugas itu dengan judes dan tanpa menatap saya berkata, “Isi formulir dulu!” sambil menunjuk pojok ruang tempat mengambil formulir.
“Oh, maaf mbak..”
Saya pun bergegas mengambil formulir pemesanan. Rupanya mbak yang tadi mengambil antrian di depan saya juga tidak tahu mekanismenya, jadi sama2 harus kembali mengisi formulir.
Karena mundur, maka saya harus mengambil nomor antrian kembali. Untung kali ini ada 2 loket yang dibuka. Jadi tidak harus menunggu super lama. Sekitar 10 menit menunggu, nomor saya pun dipanggil setelah pemegang nomor sebelumnya tidak segera maju. Sesampainya di depan loket (kali ini loket 4), ternyata mbak petugas masih melayani orang lain. Setelah itu pun jatah ibu yang ternyata nomornya sebelum saya. Rupanya ibu itu tidak mendengar, jadi ia baru maju ketika melihat monitor. Saya tidak keberatan menunggu lebih lama di depan loket itu. Yang saya sayangkan adalah sikap petugas terhadap ibu tersebut.
Ibu itu sudah tua, umurnya saya taksir lebih dari 65 tahun. Jalannya pelan dan tampaknya ia tidak biasa membeli tiket sendiri. Beliau menulis di formulir pemesanan:
Kereta : Fajar
Kelas : Eksekutif
Mbak petugas mencetak tiket untuk kereta Fajar Utama, menyerahkan tiket itu sambil berkata, “Seratus ribu.”
Wah, tak kalah judes dengan mbak petugas di loket 1..
Ibu itu tampak bingung lalu bertanya, “Seratus ribu? Ini kelas apa? Apa ada kereta yang lain?”
Mbak petugas mengasumsikan ibu itu ingin tiket yang lebih murah. Dengan nada yang tidak bisa saya bilang halus, mbak petugas itu berkata, “Ini udah tiket paling murah bu, kelas bisnis. Yang lain malah 180 ribu, berangkat jam 10. Kalau mau yang ekonomi di Lempuyangan.”
“Oh, iya itu, saya mau yang 180 ribu. Masih bisa ganti kan mbak?”
Ingin sekali saya menertawakan mbak petugas itu.
Tapi mbak petugas itu rupanya tengsin, sudah terlanjur judes dan merendahkan. Jadi ia lanjutkan saja aksinya. “Ibu ini gimana?! Ibu kan nulis Fajar. Ini sudah terlanjur saya print.”
Ia mendecak sebal dan mendengus, “Ibu nulis formulir baru sana!”
Ibu itu menanyakan nomor antriannya, “Mbak, nomor saya gimana?”
“Udah ibu nulis formulir dulu!”, kata mbak petugas tanpa menjelaskan apakah ibu itu boleh langsung datang ke loket yang sama ataukah harus mengambil nomor antrian baru.
Hmmm… Very helpful, isn’t she?
Akhirnya mbak petugas melayani pembelian tiket saya, tanpa sepatah kata selain menyebut harga tiket saya. Usai transaksi, saya mencoba beramah-tamah, “Terima kasih, mbak.”
Mbak itu tetap cuek. Yo wis..
Beginikah pelayanan publik kota yang katanya berhati nyaman itu?
Jika petugas tidak ingin diganggu dengan orang2 yang menginginkan informasi, bagaimana jika mereka memberikan informasi tersebut dalam bentuk tulisan atau gambar yang jelas, dipasang di dekat pintu masuk?
Harga tiket eksekutif ditulis “diatur tersendiri“, namun ketika calon penumpang bertanya kepada petugas, mereka bersikap tidak ramah. Kami salah apa to mbak??
Trus sikap mbak petugas terhadap ibu itu.. Show some respect kenapa mbak? Senior citizen lho.. Bukannya dapat potongan harga, malah dibentak2. Mungkin aja kan ibu itu terakhir membeli tiket sendiri jaman sebelum ada Taksaka, Argolawu, dan Argo2 lainnya; jaman kereta cuma ada Fajar Utama untuk pagi dan Senja Utama untuk sore.
***
Saya jadi ingat ketika menggambar kereta bersama keponakan saya. Ketika saya menggambar muka galak pada kereta itu, “Nah, ini Thomas sedang marah karena kamu nggak mau makan.”
“Tante, itu bukan Thomas. Kalau Thomas pasti senyum. Yang mukanya marah itu Gordon.” Dia memang tergila-gila pada Thomas the Tank Engine & Friends.
Rupanya PERUMKA kita juga masih seperti Gordon, belum bisa selalu tersenyum seperti Thomas.
