syubidubidudamdam.. cuap!!

March 13, 2008

Blogging..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 11:21 am

Papah sekarang punya BLOG!!

Ahahahaha.. Anak-wedok-sing-paling-ayu (menurut saya lho ini, kalau menurut adik perempuan saya sih beda) berhasil meracuni si Papah untuk mau dibuatkan blog.

Untuk apa? Biar Papah jadi banci cerita/curhat seperti anaknya?

Hehe..untuk mengupload tugas2 kuliahnya dong.. Saya kan pengen membantu memperlancar hubungan antara Pak Dosen dengan adik2 yang masih kuliah itu. Mulia sekali ya niat saya..

Tentu saja saya akan berperan dalam me-maintain blog tersebut. Gaya sekali ya saya, jadi mengelola 3 blog. Kesannya saya gak punya kerjaan banget.. Ya iya lah! Status saya sekarang adalah pengangguran leha2 gitu loh.. (beda dikit sama teman saya, si pengangguran foya2)

Saya mulai ngeblog dengan blogger pada April tahun lalu. Semacam hadiah ulang tahun untuk diri sendiri. Sebelumnya saya ngeblog di Friendster, tapi itu sering nggak bisa dibuka, sampai pernah ganti 2 kali trus akhirnya menyerah dan pindah. Di blog baru itu saya nulis pake bahasa Inggris. Bukan mau sok, wong bahasa Inggris saya grammarnya ya nggak karuan gitu. Tapi lebih sebagai latihan. Lha di mana lagi saya mau latihan nulis pakai bahasa Inggris? Kuliah saya bukan kelas internasional. Les mahal dan saya itu hobinya bolos les. Ya sudahlah, ngeblog aja..

Blog yang tadinya diniatkan untuk curhat itu akhirnya lebih menjadi ajang pameran. Pamer makanan, pamer jahitan, pamer mainan, pamer Indonesia.. Saya jadi tidak sampai hati menulis tentang Indonesia yang bersifat kritikan, misalnya: jalan macet, banjir, CS yang tidak ramah, dll. Nama negara kita sudah cukup jelek bagi mereka yang belum mengenalnya. Akhirnya saya hanya menulis hal2 yang menarik saja. Gara2 kurang bebas itu, saya jadi tergoda untuk bikin blog baru. Maka dibuatlah blog ini.

Kenapa pakai nama samaran Yuti? Kenapa tidak pakai nama asli saya?

Well, pertama, saya suka bercerita. Tapi saya sering merasa kurang nyaman bercerita kepada orang yang belum begitu saya kenal. Oleh sebab itu saya menyamar. ;-) Meskipun nama asli saya juga sangat mudah untuk diketahui. *njuk ngopo?* Yang penting teman2 dekat saya tahu dan blog bisa menjadi sarana untuk bertukar kabar, mengingat kami semakin jarang bertemu.

Kedua, saya memakai nama Yuti untuk membedakan tokoh blog ini dengan tokoh blog satunya. Hihihi.. saya senang memisahkan sifat2 dalam diri saya menjadi beberapa karakter. Hmm.. si alter ego saya sebagai anak SD 7 tahun itu belum punya blog. Kapan2 saya buat ah: blog mewarnai dan cara menggunting rambut Barbara Millicent Robert alias Barbie. ;-)

Ketiga, Yuti itu tidak sepenuhnya nama samaran. Di rumah, adik perempuan saya memanggil saya dengan nama tersebut, setelah pelarangan penggunaan nama si alter ego itu oleh Mamah. Maunya Mamah sih kembali ke nama asli, tapi kami malah bikin nama baru. Lama2, sapaan sayang kami menjadi yutikutikulala, beibeh.. Dan saya pun memanggilnya dengan nama Kuti. Sedangkan Lala adalah nama panggilan alternatif adik laki2 saya, pengembangan dari nama panggilan sebelumnya yang berbeda jauh dari nama aslinya. (‘ku‘ adalah kata sambung, berasal dari kata ‘kutikula’)

Lalu bagaimana adik saya bisa memanggil saya dengan nama Yuti? Hehehe.. Pernah nonton film Perancis berjudul RRRrrrr!!!? Film konyol tentang suku rambut kotor dan suku rambut bersih. Yuti adalah anjingmut milik Pak Dukun. :-D (dalam terjemahan bahasa Indonesia, semua nama binatang diberi akhiran -mut)

Tadinya saya ingin blog ini bernuansa serius, lebih berbobot, dan ditulis dengan EYD. Tapi ternyata susah ya? Bukan jiwa saya. Atau karena saya kurang berbobot?

Tadi pagi saya YM-an dengan seorang teman yang mengganti blog-nya karena terdapat kesalahan penulisan ejaan. Yang seharusnya blackcurrant ditulis blackcurrent.

wib __: eh, dik yuti..
Yuti: ada apa dik?
Yuti: hihihi

wib __: blogku pindah lho
Yuti: merasa sok tua
Yuti: heeee???
Yuti: knp?
Yuti: gak krasan ya?

wib __: gara2 dprotes, tulisannya salah
Yuti: ehhh??
Yuti: salah apa?
Yuti: salah siapa?
Yuti: kita jadi pintar.. menulis dan membaca.. salah siaaaapaaa…????
Yuti: *dinyanyiin ya..*

wib __: jadi tehblackcurrant.wordpress.com
wib __: haha
wib __: dodol

Yuti: =))
Yuti: jadi cuma ganti 1 hurup ya?
wib __: iya
wib __: hehe
wib __: yang laen sama kok
wib __: buka deh

Yuti: kok sama
Yuti: persis..
Yuti: aku merasa dejavu

wib __: emang
wib __: haha
wib __: aq delahoya

Yuti: ntar ada yg komen ‘mas wib, kok kayaknya aku pernah liat blog ini di tpt lain yaaa…’
wib __: haha
Yuti: aku deyuti
wib __: haha
wib __: dodol

Padahal tadinya saya kira dia sengaja lho.. Jadi punya double meaning. Bunyinya seperti blackcurrant biasa, tapi artinya jadi arus hitam. Hehe.. Tapi ini menunjukkan betapa pedulinya dia terhadap blognya dan pendapat orang2 yang membacanya.

Jika bahasa menunjukkan bangsa, maka blog menunjukkan penulisnya, ya nggak?

Jadi penasaran, sampai kapan saya akan terus ngeblog ya?

March 10, 2008

Hero vs Giant

Filed under: Uncategorized — yuti @ 6:31 pm

Belum lama ini Hero jalan Godean digantikan oleh Giant supermarket. Tentu saja saya sebagai manusia yang lebih suka jalan2 di supermarket daripada di butik, segera melakukan kunjungan.

Yang terlihat berubah tentu saja papan namanya. *duh..* Begitu masuk, suasananya terasa berbeda. Dapur roti yang ada di sebelah kanan jadi pindah di sebelah kiri. Sepele ya? Bahkan semasa masih jadi Hero, perubahan ini sangat mungkin terjadi. Tapi entah mengapa saya merasa terganggu dengan perubahan ini. Seolah2 Giant adalah anak baru di kelas yang langsung mengatur2 tempat duduk teman2nya.

Meskipun posisi refrigerator tidak berubah, susunan barangnya ditukar. Tempat keju dan susu menjadi tempat tahu dkk. Tempat tahu yang lama jadi tempat produk minuman, dan tempat minuman diisi oleh keju. Jadi mereka hanya menggeser display barang2 tersebut ke kiri, persis perputaran tempat duduk kita jaman SMP dulu. Lagi2 saya merasa terganggu dengan perubahan itu.

Saya merasa lorong2nya semakin sempit. Display barangnya yang berbeda dengan Hero membuat saya kesulitan mencari tempat produk2 tersebut. Hero selama tinggal di jalan Godean hampir tidak pernah mengubah posisi penempatan barangnya sehingga saya sudah hafal dimana tempat gula, kopi, sabun, es krim, dll.

Klimaksnya terjadi pada saat mereka memutar jingle Giant. Telinga yang sudah terbiasa mendengar “Hero memberi lebih kesegaran untuk anda.. Hero.. HERO..!!” kurang bisa menerima jingle Giant yang masih asing. Tiba2 saja ada rasa sedih yang menyergap saya. Rasanya seperti kehilangan teman dekat. Padahal saya nggak selalu belanja di Hero, mengingat harga di sana yang relatif lebih mahal, kecuali pantyliner-nya. :-P

Aneh rasanya.. Saya yang mengaku cepat bosan dan tidak suka rutinitas ini ternyata merasa terganggu dengan perubahan display barang dan jingle supermarketnya. Rupanya Hero telah membentuk suatu pola dalam diri saya. Dan saya sadar bahwa ternyata saya punya pola2 lainnya. Saya selalu lewat jalan yang sama ketika berangkat kuliah (jl. Godean-Magelang-Pakuningratan-AM Sangaji-Sarjito-Yacaranda) dan kurang sreg jika harus mengambil rute lain. Saya selalu parkir di tempat yang sama selama di kampus (daerah dekat pintu masuk) dan akan merasa sebal bukan kepalang kalau ada yang motor yang telah menempatinya.

Ternyata meskipun kita adalah orang yang (katanya) cepat bosan atau selalu ingin merasakan hal2 baru, hal2 yang sudah terlanjur jadi kebiasaan itu susah untuk diubah. Semoga saja berbagai kegiatan bertema ‘malas’ pasca wisuda ini belum terlanjur jadi kebiasaan ya..

Btw, kemarin saya menulis bahwa di pasar tradisional, ayam mentah dijejerkan dengan pakaian dalam. Ternyata di supermarket modern pun pengaturan barang sering kacau juga. Gilingan kopi Excelso diletakkan di tengah2 lorong deterjen dan pembersih rumah tangga.

Btw #2, score TOEFL saya sudah keluar. Alhamdulillah, target tercapai.. :-D Namun besok pagi saya harus tes TOEFL lagi dalam rangka seleksi penerimaan pegawai suatu perusahaan. Hehe.. tentu saja saya akan mengajak si pensil kelinci turut serta.. ;-)

March 9, 2008

Jalan-jalan pagi ini..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 2:15 pm

Tadi pagi, karena dipaksa, saya & adik laki2 mengikuti jalan pagi bersama para manula orangtua. Adik perempuan berhasil kabur karena mau hunting foto bersama seorang teman prianya.

Tujuan kami ke sebuah pasar tradisional yang tidak begitu jauh dari rumah. Banyak hal lucu yang kami temui di sepanjang jalan dan di pasar, termasuk kelakuan aneh dari orangtua. Untung kami tidak seperti Malin Kundang si anak durhaka; kami tidak meninggalkan orangtua kami di jalan hingga tersesat dan tak bisa pulang ke rumah. Jadi Mamah tidak akan muncul di acara infotainment meneriakkan, “ANAK DURHAKA!!” seperti ibunda artis berinisial KF. ;-)

Memasuki wilayah persawahan menuju pasar, kami melihat tanaman padi yang roboh. Apakah ini merupakan fenomena crop circle (meskipun bentuknya bukan lingkaran)? Apakah UFO telah menyerang Jogja barat? Tidaaakkk…

*biasa aja kenapa sih? cuma kena angin ini..*

Crop (not)circle?

Kami juga cukup terpana oleh karya seni di tembok kuburan ini:

Mempertanyakan fungsi sapu
the Butherfly loh jinawi…
But-her-fly.. fly away so high.. (terjemahan: tapi dia terbang, terbang jauh sangat tinggi..) :-P

Ada ibu2 peternak babi yang memakai kostum aneh: kaos lengan pendek, celana almost-hotpants, dan jilbab.. Sayang saya tidak berani mengabadikan gambarnya karena ibu itu sedang membawa bendho, sejenis parang yang biasa dipakai untuk memecah kelapa. Kenapa ibu2 di pedesaan/pasar suka membawa senjata tajam ya?

Pasar tradisional memang benar2 tradisional. Kita tidak mungkin bisa menemukan ayam mentah potong dijual bersebelahan dengan pakaian dalam dan buah dijejerkan dengan pakan ternak di supermarket. Di pasar itu kami membeli aneka jajanan pasar: martabak manis, ketan hitam, geblag, bakpao, es cincau (a.k.a. es cao), jipang (rice puff yang disatukan dengan karamel), dll. Dalam tiap kemasan jipang terdapat kartu mainan. Hehehe.. mengingatkan kita pada jajanan SD bukan?

Jipang
Lucunya, dari 1 paket jipang yang berisi kartu bertema sinetron ‘Kasih’ itu, ada satu kartu bergambar alpukat. Hmm.. apa peran alpukat dalam sinetron itu ya?

Dan coba lihat kartunya! Bagi yang berambisi kaya, mungkin bisa meniru gambar ‘Nalla yang angkuh’ di kartu itu. Atau barangkali ada yang ingin menikah SIRIH?

Kartu bonus jipang

Dalam perjalanan pulang, Mamah mengajak berhenti di pinggir kolam dekat stasiun KA untuk makan jajanan yang kami beli.

Kolam di dekat stasiun
Beberapa pekerja pembangunan rel KA mengamati tingkah laku kami. Bukan keluarga kami jika merasa malu dan menyingkir dari situ.

Kami melewati suatu daerah yang berbau sangat tidak enak. Ternyata di sana terdapat peternakan anjing untuk dipotong. Kasihan sekali, anjing2 itu dirantai di kandang dan di pohon. Mungkin mereka berharap semoga malam ini mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. Saya hampir memotretnya ketika Mamah mengingatkan, “Jangan difoto! Ada yang punya..” Dan saya melihat sekelompok pria bertampang seram sedang mengamati saya. Hwaaa… jalan cepat grakk!!!

Akhirnya kami sampai di rumah dengan selamat, capek, dan bau keringat. Fyuhh..

March 8, 2008

Sekatenan yuukk..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 10:51 am

Minggu ini saya seperti ketagihan Sekaten. Dalam 1 pekan, tercatat saya telah dua kali menginjakkan kaki di alun2 utara kota Yogyakarta.

Pada Selasa malam, saya, mantan mahasiswi berusia 24 tahun, dan adik laki2 saya, mahasiswa berusia 19 tahun, berhasil melewati lautan manusia demi melihat makhluk laut bernama lumba-lumba dan teman2nya, dengan tiket sponsor dari Mamah. Sebenarnya Mamah mengusulkan agar kami pergi bersama rombongan preschool-nya pada hari Senin sehingga kami bisa berpura2 menjadi pendamping anak2. Tapi apa daya, adik saya harus menjalankan kewajiban kuliahnya..

Meskipun hampir semua penonton dewasa adalah para orangtua yang membawa anaknya, kami tidak gentar. “Apa salahnya berjiwa bayi muda?” pikir kami.

Berikut laporan kami:

Lumba-lumba main hulahop

Di atas adalah foto sepasang lumba2 bernama Puput dan Pipit. Mereka bukan kembar karena lumba2 hanya melahirkan 1 anak per session. In fact, mereka disinyalir merupakan sepasang kekasih berdasarkan bukti foto mereka yang sedang berciuman di depan anak2 manusia di bawah umur.

Kiss me baby..Yeah baby, kiss me one more time!

Kemudian terdapat pertandingan basket 1 0n 1 yang kurang setimbang antara Timbul dan Maryati, berang2 dari Ancol. Wasit tampaknya terlalu berpihak pada Timbul. Ketika Timbul kesusahan memasukkan bola dalam ring, wasit pun menurunkan ring, memuluskan jalan Timbul menjadi juara. Penonton bisa mendengar lengkingan kekesalan Maryati, “Curaaaaanngg..!!

Berang-berang main basket

Dan berikut ini adalah singa laut dari Amerika Selatan. Bukan, namanya bukan Jose Armando dan dia tidak bisa bernyanyi No Me Ames. *penonton kecewa* Meskipun demikian, namanya cukup populer dikalangan penggemar bayam: Popeye.

singa laut

Tidak lupa kami saya mengabadikan foto mas pelatih yg lucu..
Mas pelatihMau dong latihan sama mas..

***

Hari Selasa itu kami hanya menonton lumba2. Saya masih ingin berputar2 melihat atraksi lainnya, namun sayang si adik sudah mengajak pulang. Alasannya karena selain gerimis, dia malu melihat kakaknya yang over-excited melihat aneka hiburan Sekaten.

Akhirnya dengan memanfaatkan teknologi YM, saya dan djengwidz mengajak teman2 KKN bersenang2 di Sekaten pada hari Kamis. Meskipun warga KKN yang nongol cuma 4 orang (plus a friend of a friend), we had fun. Pertama kalinya saya masuk rumah hantu ‘Kerajaan Siluman’, ternyata hantunya sudah capek.. blas gak seru.

***

Sementara itu pada Kamis yang sama, si adik perempuan terpaksa menonton lumba2 sendirian. Kami memang dengan sengaja meninggalkan dirinya yang lebih memilih tidur pada Selasa malam. (hehe.. detention for bad behaviour..)

March 6, 2008

Simbah Gershwin dan Musik Cerianya

Filed under: Uncategorized — yuti @ 2:53 pm

Saya selalu tersenyum jika mendengar Rhapsody in Blue-nya George Gershwin. Bukan karena ingat dorama Jepang nan lucu, Nodame Cantabile, tapi musik tersebut, seperti kebanyakan karya Simbah Gershwin lainnya yang playful, mengingatkan saya pada kekonyolan2 dan drama yang dibumbui dengan tangis serta (banyak) tawa dalam keluarga saya.

Pada Rhapsody in Blue, bagian awalnya yang meninggi mirip sekali dengan teriakan adik perempuan saya ketika ada yang kentut sembarangan. Diikuti dengan peringatan maupun nasihat dari tokoh yang sedang bijak, yaitu saya dan Mamah. Setelah itu disambung dengan drama2 keluarga kami: ada gojek2 kéré maupun gojek2 non-kéré (maksudnya guyonan garing maupun joke yang benar2 lucu). Ada bagian yang mengingatkan saya pada Papah yang tertidur di depan TV menyala dengan mp3 campur sari di telinga, novel di tangannya, dan remote dipangkuannya, sementara Mamah mengendap2 mengambil remote tersebut. Ada pula yang seolah2 menggambarkan percakapan gak nyambung antara saya dengan adik laki2.

Adik: “Kruik..bla..bla..

Saya: “Apaaa???” *pura2 gak dengar*

Adik: “Kruik..bla..bla..

Saya: “Apaaaa???

Adik: “Susah ngomong sama kamu!

Saya: “Apaa??

Adik: “Apaa??” *menirukan saya*

Saya: “Susah ngomong sama kamu!” *menirukan adik saya*

Dan kami pun tertawa bersama.

Hmm.. Mungkin lebih cocok jika judulnya diganti dengan Rhapsody in Blur..

Lalu ada An American in Paris-nya Mbah Gershwin yang mengingatkan saya pada Papah yang setiap kali pulang kantor membunyikan klakson berulang2 minta dibukakan pintu. Eh, salah.. bukan meminta dibukakan pintu, karena kadang2 pintu tersebut memang sudah terbuka, namun minta disambut. Seperti tamu negara saja..

Mendengarkan Promenade (Walking the Dog) membuat saya ingin berjalan2 dengan binatang peliharaan. Tak ada anjing, kura2 pun jadi. Akibatnya, rute jalan2 kami terbatas hanya sampai pintu garasi.

Mbah Gershwin, dengan mengawin-silangkan musik klasik dengan jazz, menghasilkan musik yang mampu membawa nuansa tersendiri. Rasanya saya jadi lebih ceria dan bersemangat. Seolah2 kita bisa meraih bintang. Seolah2 saya pun bisa memainkan musik Gershwin. Tapi setelah menghadap keyboard, saya pun segera sadar bahwa saya buta nada dan satu2nya musik klasik yang bisa saya mainkan adalah Twinkle Twinkle Little Star (Mozart’s Ah! Vous dirai-je, Maman), satu tangan, tanpa variasi, seperti anak TK belajar piano.

Musik sangat mempengaruhi mood. Pernah suatu ketika saya merasa sangat stress dan tertekan. Lha kok ya musik yang saya dengarkan malah Blurry-nya Puddle of Mudd.

Everything’s so blurry, everyone’s so fake..” *jedhog2 kepala ke meja*

Oleh sebab itu, sekarang saya mengusahakan hanya musik2 positif saja yang boleh singgah di playlist saya.

Go away, Eminem!

Life’s hard, don’t make it harder.

Bukan Thomas, tapi Gordon..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 2:06 pm

Sudah lama saya tidak naik kereta jarak jauh. Biasanya terbatas hanya sampai Solo, jadi tiket dapat langsung dibeli di loket beberapa menit sebelum keberangkatan. Bahkan pernah saya numpang kereta tujuan Surabaya karena ketinggalan Prameks, jadi tanpa tiket. Membayar kondektur di atas kereta sesuai dengan harga tiket Prameks.

Kali ini karena saya, Mamah & Papah harus menghadiri pernikahan kakak sepupu di Jakarta pada long weekend akhir bulan ini (yang sudah pasti akan ramai), maka mau tidak mau saya harus berurusan dengan pusat reservasi tiket Stasiun Tugu.

***

Begitu datang, saya langsung mengambil nomor antrian. Di sana tidak ada papan petunjuk mengenai mekanisme pembelian tiket. Jadi saya hanya mengikuti mbak di depan saya. Setelah menunggu cukup lama (karena dari 6 loket yang tersedia, yang dibuka hanya loket 1), akhirnya nomor saya dipanggil. Saya segera ke depan, menyerahkan nomor antrian dan menyebutkan kereta yang ingin saya pesan.

Mbak petugas itu dengan judes dan tanpa menatap saya berkata, “Isi formulir dulu!” sambil menunjuk pojok ruang tempat mengambil formulir.

Oh, maaf mbak..

Saya pun bergegas mengambil formulir pemesanan. Rupanya mbak yang tadi mengambil antrian di depan saya juga tidak tahu mekanismenya, jadi sama2 harus kembali mengisi formulir.

Karena mundur, maka saya harus mengambil nomor antrian kembali. Untung kali ini ada 2 loket yang dibuka. Jadi tidak harus menunggu super lama. Sekitar 10 menit menunggu, nomor saya pun dipanggil setelah pemegang nomor sebelumnya tidak segera maju. Sesampainya di depan loket (kali ini loket 4), ternyata mbak petugas masih melayani orang lain. Setelah itu pun jatah ibu yang ternyata nomornya sebelum saya. Rupanya ibu itu tidak mendengar, jadi ia baru maju ketika melihat monitor. Saya tidak keberatan menunggu lebih lama di depan loket itu. Yang saya sayangkan adalah sikap petugas terhadap ibu tersebut.

Ibu itu sudah tua, umurnya saya taksir lebih dari 65 tahun. Jalannya pelan dan tampaknya ia tidak biasa membeli tiket sendiri. Beliau menulis di formulir pemesanan:

 

Kereta : Fajar

Kelas : Eksekutif

 

Mbak petugas mencetak tiket untuk kereta Fajar Utama, menyerahkan tiket itu sambil berkata, “Seratus ribu.

Wah, tak kalah judes dengan mbak petugas di loket 1..

Ibu itu tampak bingung lalu bertanya, “Seratus ribu? Ini kelas apa? Apa ada kereta yang lain?

Mbak petugas mengasumsikan ibu itu ingin tiket yang lebih murah. Dengan nada yang tidak bisa saya bilang halus, mbak petugas itu berkata, “Ini udah tiket paling murah bu, kelas bisnis. Yang lain malah 180 ribu, berangkat jam 10. Kalau mau yang ekonomi di Lempuyangan.

Oh, iya itu, saya mau yang 180 ribu. Masih bisa ganti kan mbak?

Ingin sekali saya menertawakan mbak petugas itu.

Tapi mbak petugas itu rupanya tengsin, sudah terlanjur judes dan merendahkan. Jadi ia lanjutkan saja aksinya. “Ibu ini gimana?! Ibu kan nulis Fajar. Ini sudah terlanjur saya print.

Ia mendecak sebal dan mendengus, “Ibu nulis formulir baru sana!

Ibu itu menanyakan nomor antriannya, “Mbak, nomor saya gimana?

Udah ibu nulis formulir dulu!”, kata mbak petugas tanpa menjelaskan apakah ibu itu boleh langsung datang ke loket yang sama ataukah harus mengambil nomor antrian baru.

Hmmm… Very helpful, isn’t she?

Akhirnya mbak petugas melayani pembelian tiket saya, tanpa sepatah kata selain menyebut harga tiket saya. Usai transaksi, saya mencoba beramah-tamah, “Terima kasih, mbak.

Mbak itu tetap cuek. Yo wis..

Beginikah pelayanan publik kota yang katanya berhati nyaman itu?

Jika petugas tidak ingin diganggu dengan orang2 yang menginginkan informasi, bagaimana jika mereka memberikan informasi tersebut dalam bentuk tulisan atau gambar yang jelas, dipasang di dekat pintu masuk?

Harga tiket eksekutif ditulis “diatur tersendiri“, namun ketika calon penumpang bertanya kepada petugas, mereka bersikap tidak ramah. Kami salah apa to mbak??

Trus sikap mbak petugas terhadap ibu itu.. Show some respect kenapa mbak? Senior citizen lho.. Bukannya dapat potongan harga, malah dibentak2. Mungkin aja kan ibu itu terakhir membeli tiket sendiri jaman sebelum ada Taksaka, Argolawu, dan Argo2 lainnya; jaman kereta cuma ada Fajar Utama untuk pagi dan Senja Utama untuk sore.

***

Saya jadi ingat ketika menggambar kereta bersama keponakan saya. Ketika saya menggambar muka galak pada kereta itu, “Nah, ini Thomas sedang marah karena kamu nggak mau makan.

Tante, itu bukan Thomas. Kalau Thomas pasti senyum. Yang mukanya marah itu Gordon.” Dia memang tergila-gila pada Thomas the Tank Engine & Friends.

Rupanya PERUMKA kita juga masih seperti Gordon, belum bisa selalu tersenyum seperti Thomas.

Blog at WordPress.com.