Kemarin adik saya cerita bahwa seorang temannya berniat untuk mencoba Trans Jogja. Bis itu penuh dengan anak2 sekolah. Si teman menjadi dongkol, malas menunggu dan akhirnya batal mencoba sarana transportasi Jogja yang baru itu. Komentar saya, sebagai pengguna bis umum sejak SD hingga awal SMA,
“Penting mana? Dipakai jalan2 nggak jelas apa dipakai untuk pulang pergi sekolah?”
***
SD saya di tengah kota yang cukup jauh dari rumah. Pergi ke sekolah tidak menjadi masalah karena saya bisa berangkat bersama Papah, diantar sopir kantor Mamah, ikut antar-jemput, atau nebeng tetangga. Pulang sekolah, mulanya Papah menjemput saya, mengantarkan pulang lalu beliau kembali ke kantor, atau kadang2 mengajak saya ke kantornya. Lama2 proses itu dirasa merepotkan sehingga orangtua mempercayakan jasa antar-jemput untuk membawa saya pulang. Namun karena antar-jemput itu harus menjemput anak2 lainnya dari berbagai sekolah dan berbagai jam pulang sekolah, serta mengantarkan mereka ke rumah masing2 di berbagai penjuru kota, maka saya baru akan sampai di rumah 2-3 jam dari waktu saya dibebaskan dari kelas. Dan sejak akhir kelas 2 SD, saya pun menjadi pelanggan tetap bis jalur 15.
Banyak sekali kenangan di bis jalur 15 itu. Jika anggaplah saya rutin naik bis itu 6 hari dalam seminggu selama 8 tahun, 5 tahun hanya 1 kali per hari, 3 tahun 2 kali sehari, sekali perjalanan sekitar 40 menit, maka saya telah menghabiskan hidup saya di dalam bis jalur 15 selama 126720 menit, atau 2112 jam, atau 88 hari, atau 2 bulan 28 hari. *fyuh..* Kurang lebih 1% dari umur saya yang hampir seperempat abad ini. Kalau ada ungkapan
“Life is 1% inspiration and 99% perspiration”,
maka saya bisa bilang,
“My life is 1% on the bus #15 transportation”.
***
Di dalam bus ini, saya pernah melanggar janji saya pada Mamah untuk tidak menerima barang dari orang asing. Waktu itu saya merasa sangat pusing sehingga menyandarkan kepala di kursi depan. Tiba2 ada yang menepuk pundak saya, “Adik nggak papa?”
Saya mendongak. Seorang tante cantik mengajak saya berbicara.
Ia bertanya, “Pusing ya?”
Saya pun mengangguk pelan. Saat itu bis sedang ngetem di Bantulan. Waktu berhenti di sana dahulu cukup lama, 5 hingga 20 menit. Sekarang bis #15 tidak lagi berhenti lama di sana.
Tante itu kemudian mengeluarkan kotak snack seperti yang biasa dibawa pulang Mamah sepulang arisan PKK. Ia mengeluarkan Aqua gelas dan memberikannya pada saya. “Ini diminum dulu. Trus ini ntar dibawa adik aja ya..” Ia menyerahkan kotak snack itu.
Saya menerimanya sambil memandangnya kagum, tante ini selain cantik, baik hati pula.. Seperti tokoh putri2 dalam cerita Disney. Malu2 saya bilang, “Makasih Tante..”
Ketika saya akhirnya menceritakan kejadian ini kepada Mamah dengan perasaan takut, Mamah ternyata hanya berkomentar, “Pasti tante itu kasihan lihat muka kamu.”
Ya, masa2 SD dan SMP memang masa2 kegelapan dalam hal penampilan saya: kurus, item, keringetan, mahal senyum pula.
Dalam bis #15 itu pula saya sering tertidur hingga kebablasan. Saya memang gampang sekali terbuai oleh goyangan bis umum, asalkan bis itu tidak sedang dalam rollercoaster-mode. Begitu naik, bis itu seolah langsung meninabobokkan saya laksana bayi dalam buaian. Saya bahkan bisa tidur sambil berdiri. Jika kebablasannya terlewat jauh, biasanya saya akan naik bis dengan arah berlawanan. Tapi pernah lama sekali saya menunggu bis itu sehingga saya memutuskan untuk berjalan. Dan bis sialan itu baru datang 15 menit kemudian, setelah saya sampai di mulut jalan kompleks.
***
Entah #15 adalah angka keramat bagi bis umum, atau mungkin memang jodoh bagi para manusia di daerah Jogja barat. Ketika saya kerja rodi belajar di negara Paman Lee, bis yang bisa mengantar saya ke sekolah salah satunya adalah bis #15. Demikian juga dengan teman saya yang menimba euro ilmu di negeri Paman Ahern. Bis yang menjadi jodohnya adalah bis #15 juga. Adoh2 numpake jalur 15 juga..
Sampai sekarang pun kadang2 saya naik bis #15; kalau kendaraan rusak, kalau pas nggak terburu2, atau sekedar kangen naik bis. Bis #15 dari dulu hingga sekarang tidak banyak berubah, kecuali bertambah tua seperti sopir2 dan kondektur2nya, beberapa diantaranya adalah sopir dan kondektur yang sama ketika saya masih SD. Meskipun kadang2 penampilan bis #15 berubah dengan aplikasi cat dan stiker iklan, bagian dalamnya tetap sama, mungkin malah semakin jelek saja.
Sementara itu di negeri seberang, ketika saya kembali naik bis #15 selang waktu 5 tahun sejak saya sekolah di sana, bis itu sudah banyak berubah. Cara pembayarannya lebih canggih, dari kartu TransitLink magnet sistem telan-lepeh, menjadi kartu ez-link dengan sistem scan. Trus, bis #15 itu sekarang ada TV layar datar-nya.. Itu lebih dari 2 tahun yang lalu, mungkin sekarang sudah ada perubahan lagi..(?)
Huhuhuuu… Bis #15-ku.. kok kamu belum bisa kayak gitu yaa..??
