syubidubidudamdam.. cuap!!

February 27, 2008

Bis #15 yang kutunggu…

Filed under: Uncategorized — yuti @ 7:21 pm

Kemarin adik saya cerita bahwa seorang temannya berniat untuk mencoba Trans Jogja. Bis itu penuh dengan anak2 sekolah. Si teman menjadi dongkol, malas menunggu dan akhirnya batal mencoba sarana transportasi Jogja yang baru itu. Komentar saya, sebagai pengguna bis umum sejak SD hingga awal SMA,

“Penting mana? Dipakai jalan2 nggak jelas apa dipakai untuk pulang pergi sekolah?”

***

SD saya di tengah kota yang cukup jauh dari rumah. Pergi ke sekolah tidak menjadi masalah karena saya bisa berangkat bersama Papah, diantar sopir kantor Mamah, ikut antar-jemput, atau nebeng tetangga. Pulang sekolah, mulanya Papah menjemput saya, mengantarkan pulang lalu beliau kembali ke kantor, atau kadang2 mengajak saya ke kantornya. Lama2 proses itu dirasa merepotkan sehingga orangtua mempercayakan jasa antar-jemput untuk membawa saya pulang. Namun karena antar-jemput itu harus menjemput anak2 lainnya dari berbagai sekolah dan berbagai jam pulang sekolah, serta mengantarkan mereka ke rumah masing2 di berbagai penjuru kota, maka saya baru akan sampai di rumah 2-3 jam dari waktu saya dibebaskan dari kelas. Dan sejak akhir kelas 2 SD, saya pun menjadi pelanggan tetap bis jalur 15.

Banyak sekali kenangan di bis jalur 15 itu. Jika anggaplah saya rutin naik bis itu 6 hari dalam seminggu selama 8 tahun, 5 tahun hanya 1 kali per hari, 3 tahun 2 kali sehari, sekali perjalanan sekitar 40 menit, maka saya telah menghabiskan hidup saya di dalam bis jalur 15 selama 126720 menit, atau 2112 jam, atau 88 hari, atau 2 bulan 28 hari. *fyuh..* Kurang lebih 1% dari umur saya yang hampir seperempat abad ini. Kalau ada ungkapan

Life is 1% inspiration and 99% perspiration”,

maka saya bisa bilang,

My life is 1% on the bus #15 transportation”. :D

***

Di dalam bus ini, saya pernah melanggar janji saya pada Mamah untuk tidak menerima barang dari orang asing. Waktu itu saya merasa sangat pusing sehingga menyandarkan kepala di kursi depan. Tiba2 ada yang menepuk pundak saya, “Adik nggak papa?”

Saya mendongak. Seorang tante cantik mengajak saya berbicara.

Ia bertanya, “Pusing ya?”

Saya pun mengangguk pelan. Saat itu bis sedang ngetem di Bantulan. Waktu berhenti di sana dahulu cukup lama, 5 hingga 20 menit. Sekarang bis #15 tidak lagi berhenti lama di sana.

Tante itu kemudian mengeluarkan kotak snack seperti yang biasa dibawa pulang Mamah sepulang arisan PKK. Ia mengeluarkan Aqua gelas dan memberikannya pada saya. “Ini diminum dulu. Trus ini ntar dibawa adik aja ya..” Ia menyerahkan kotak snack itu.

Saya menerimanya sambil memandangnya kagum, tante ini selain cantik, baik hati pula.. Seperti tokoh putri2 dalam cerita Disney. Malu2 saya bilang, “Makasih Tante..”

Ketika saya akhirnya menceritakan kejadian ini kepada Mamah dengan perasaan takut, Mamah ternyata hanya berkomentar, “Pasti tante itu kasihan lihat muka kamu.”

Ya, masa2 SD dan SMP memang masa2 kegelapan dalam hal penampilan saya: kurus, item, keringetan, mahal senyum pula.

Dalam bis #15 itu pula saya sering tertidur hingga kebablasan. Saya memang gampang sekali terbuai oleh goyangan bis umum, asalkan bis itu tidak sedang dalam rollercoaster-mode. Begitu naik, bis itu seolah langsung meninabobokkan saya laksana bayi dalam buaian. Saya bahkan bisa tidur sambil berdiri. Jika kebablasannya terlewat jauh, biasanya saya akan naik bis dengan arah berlawanan. Tapi pernah lama sekali saya menunggu bis itu sehingga saya memutuskan untuk berjalan. Dan bis sialan itu baru datang 15 menit kemudian, setelah saya sampai di mulut jalan kompleks.

***

Entah #15 adalah angka keramat bagi bis umum, atau mungkin memang jodoh bagi para manusia di daerah Jogja barat. Ketika saya kerja rodi belajar di negara Paman Lee, bis yang bisa mengantar saya ke sekolah salah satunya adalah bis #15. Demikian juga dengan teman saya yang menimba euro ilmu di negeri Paman Ahern. Bis yang menjadi jodohnya adalah bis #15 juga. Adoh2 numpake jalur 15 juga..

Sampai sekarang pun kadang2 saya naik bis #15; kalau kendaraan rusak, kalau pas nggak terburu2, atau sekedar kangen naik bis. Bis #15 dari dulu hingga sekarang tidak banyak berubah, kecuali bertambah tua seperti sopir2 dan kondektur2nya, beberapa diantaranya adalah sopir dan kondektur yang sama ketika saya masih SD. Meskipun kadang2 penampilan bis #15 berubah dengan aplikasi cat dan stiker iklan, bagian dalamnya tetap sama, mungkin malah semakin jelek saja.

Sementara itu di negeri seberang, ketika saya kembali naik bis #15 selang waktu 5 tahun sejak saya sekolah di sana, bis itu sudah banyak berubah. Cara pembayarannya lebih canggih, dari kartu TransitLink magnet sistem telan-lepeh, menjadi kartu ez-link dengan sistem scan. Trus, bis #15 itu sekarang ada TV layar datar-nya.. Itu lebih dari 2 tahun yang lalu, mungkin sekarang sudah ada perubahan lagi..(?)

Huhuhuuu… Bis #15-ku.. kok kamu belum bisa kayak gitu yaa..??

February 26, 2008

TOEFL, oh TOEFL..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 12:03 am

Jangan tanya gimana TOEFL saya tadi! Tanpa ditanya pun saya akan cerita.

Teman saya khawatir kejadian kemarin akan mengganggu performa saya dalam mengerjakan TOEFL. Mulanya sih saya optimis bahwa kejadian kemarin tidak akan mempengaruhi kinerja saya. Saya lupa bahwa saya ini suka telat mikir alias telmi. Hal yang terjadi kemarin (yang semula tidak begitu saya pikirkan), baru saya pikirkan hari ini. Dan seharusnya saya menyadari bahwa segala bentuk ujian akan melibatkan belajar. Proses belajar melibatkan membaca dan menulis. Membaca dan menulis, untuk saya, pasti melibatkan daydreaming atau plesir-nya pikiran saya entah kemana, yang jelas diluar topik yang sedang dipelajari. Well, one thing led to another..

Yang terjadi tadi:

1.      Saya datang mepet, jam 18.30 lebih sedikit. Ini karena adzan Maghrib baru dikumandangkan jam 18.05, sehingga saya baru berangkat dari rumah Om (yang dekat dengan tempat ujian) jam 18.20. Meskipun belum mulai, tapi melihat banyak orang sudah duduk manis dan petugas mulai membagi buku petunjuk cukup membuat saya nervous.

2.      Mood saya jelek. Rasanya pengen marah terus & susah konsentrasi. Mungkin juga ini gara2 jerawat yang seolah2 berlomba2 untuk muncul di muka saya, dan harga obat jerawat yang melambung tinggi sejak terakhir kali saya ke salon (yaitu ketika dinosaurus masih merajai dunia, dan radja belum mendinosauruskan dunia).

3.      Saya tidak membawa pensil 2B yang sudah saya siapkan. Tadi siang saya rebutan pensil 2B bergambar kelinci dengan adik. Kurangnya konsentrasi mengakibatkan saya melupakan pensil hijau 2B bertuliskan ‘for computers’ itu. Yang saya bawa adalah pensil kelinci dan pensil otomatis (a.k.a. pensil cethik2), yang kurang efektif untuk menghitamkan lembar jawaban dengan cepat. Plus, saya lupa membawa rautan untuk pensil kelinci.

4.      Saya keliru membawa penghapus. Yang saya bawa adalah penghapus untuk pensil warna pola jahitan, mereknya saja ‘Dressman’. Penghapus ini lebih kasar, mirip penghapus untuk pulpen.

5.      Udara dingin, perut saya kembung. Praktis saya menjadi buntelan kentut angin berjalan. Sayang saya tidak bisa buang gas di ruang ujian. Menurut pustaka, biogas terbukti sebagai senjata yang bisa membuyarkan konsentrasi lawan. Meskipun demikian, saya sempat bersendawa sekali, dan cukup keras.

6.      Karena nama saya yang cukup panjang, ditambah dengan penggunaan pensil cethik2 yang diameternya kecil, kecepatan menulis (dan menghitamkan bulatan) saya rendah. Sehingga ketika yang lain sudah sampai ke pengisian kolom 6, saya masih saja berkutat di kolom 1 (kolom nama). Ini membuat saya tambah nervous.

7.      Di kolom pernyataan dan tanda tangan, ada bagian menyalin tulisan:

I hereby affirm that I am the person whose name is given on this answer sheet.

Lalu di bawahnya tertulis perintah:

Also sign your name on the line provided, and enter today’s date (in numbers).

Yang terjadi adalah saya menulis:

‘I hereby affirm that I am on the line provided, and enter today’s…’

WHAT??!! Buru2 saya hapus dengan penghapus tukang jahit itu..

8.      Proses menghitamkan jawaban saya sangat lama (lihat poin #3). Sehingga di Section 1: Listening Comprehension, saya selalu tertinggal.

9.      Lagi2 karena poin #3, saya belum selesai menghitamkan jawaban Section 2 ketika waktu habis. Untung sudah saya jawab semua meski akhirnya proses penghitaman jawaban Section 2 musti mencuri waktu dari Section 3.

Saya jadi tidak berharap banyak dari TOEFL ini. Tadinya saya mentargetkan score 600 *cih, gayanya..*, atau setidaknya lebih tinggi dari TOEFL sebelumnya. Syukur2 bisa mengalahkan teman saya Diajeng Cahaya Batu Permata.. ;p (hehe, peace Djeng!)

Setelah mandi, pakai minyak kayu putih, minum coklat pahit panas (2 sdm coklat bubuk Van Houten + 1 sdm susu bubuk + 1 sdt gula pasir + 200 ml air panas), dan nge-blog, there is only one more thing in the world that could make me feel better: a good night sleep!

Selamat malam semuanya!

February 24, 2008

It’s over.. Again..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 5:38 pm

Ternyata kisah kasih saya dengan si Mas harus berakhir sampai di sini.. Well, belum jodoh saya..

February 22, 2008

Mbok.. Aku WISUDA Mbok..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 8:18 pm

Finally, setelah luntang-lantung selama 5 tahun 6 bulan di kampus untuk urusan yang jelas maupun yang tidak jelas, akhirnya tgl. 19 kemarin saya diwisuda. Dan karena ini pertama kalinya saya diwisuda di GSP, saya baru tahu bahwa acaranya sungguh penuh dengan fenomena yang unik.

Untuk acara ini saya dandan sendiri. Bangun jam 3 pagi trus mandi, berpakaian, dan pergi ke salon buat make-up itu sangat tidak mencerminkan jiwa saya. Jadi ketika teman saya, sebut saja Mawar, cerita bahwa dia bangun kesiangan (yaitu jam 4 kurang seperempat) saya langsung pamer “Hah, jam segitu kesiangan? Aku dong bangun jam setengah 5 tapi bisa datang 1 jam lebih awal dari kamu. Masih sempat sarapan banyak lagi..

Karena masa penantian masuk ke GSP cukup lama (agak nyesel saya, kenapa nggak datang telat aja..), saya jadi sempat mengamati keadaan sekitar. Wuiihh.. uedan.. ada yang pake sanggul tradisional sebesar caping sehingga toganya harus dijepit sana-sini. Ada yang make-upnya full glitter sehingga jika saja dia nggak pakai toga pasti sudah saya sangka penyanyi campur sari. Tapi ada juga yang memperlakukan hari wisuda ini seperti hari biasa. Si Mbak ini pakai kemeja semi-jaket, celana panjang, no make-up, dan I-just-wake-up hair, alias acak2an. Hebat! Barangkali si Mbak ini berniat kuliah seperti biasa, trus sampai kampus ketemu temannya, “Heh, kamu kan wisuda hari ini.. Ni pake toga!” trus menuju ke GSP deh..

Ternyata banyak yang merasa tidak cukup hanya membawa dua pendamping wisuda, entah itu orangtua atau pasangannya. Beberapa membawa satu pleton pendamping wisuda. Seperti ketika wisudawan/wisudawati berbaris menuju dalam GSP, ada yang sibuk menelpon kerabatnya, “Paklik, yang masuk Ibu’e & Bapak’e saja.. Iya, masuk sekarang. Paklik, Bulik, sama Simbah nggak bisa masuk.. Iya, cuma boleh dua orang. Diluar sama adik2 nggih..

Uwaaa.. Padahal Mamah nanti datang sendirian karena Papah memilih untuk lebih mengutamakan tugas menyelamatkan dunia mengajar dan adik2 dilarang membolos kuliah (oleh Mamah).

Tadinya saya malas ikut wisuda. Come on.. Ada apa dengan wisuda dan segala keribetannya? Membayangkan datang ke GSP utuk-utuk in the morning dan menghabiskan setengah hari disana memakai toga-gombrong-item-jelek-tanpa-motif dengan ribuan orang itu sudah bikin gerah duluan. Nggak bisakah dilakukan dengan lebih simpel? Maksud saya, nggak cuma pas hari wisudanya saja, tapi juga segala urusan administrasinya yang ribet. Mau masuk universitas ini susah, ternyata mau keluar juga susah. Entahlah, mungkin pada dasarnya saya malas dan kurang antusias saja. Tapi karena dorongan dari teman2 (mulai dari “Kasian Mamamu to, kan beliau berharap melihat anaknya diwisuda” sampai “Karepmu, paling kowe ra entuk ijazah.. Wis, golek ijab-sah wae kono!” yang sungguh menyentuh hati, akhirnya saya ikut wisuda juga.

Ketika menuju ke dalam GSP itu pula saya melihat seorang ibu yang mungkin berasal dari daerah Indonesia Timur. Ibu itu memakai kebaya dan kain songket khas daerah sana. Wajahnya berbinar2 memandang anaknya yang ada di dalam barisan, tampak sangat bangga. Saya langsung merasa terharu.. Langsung saya sms Mamah, “Mah, udah sampai belum? Jangan sampai telat ya..

Upacara di dalam menurut saya sih ultimate boring. Saya partially tertidur hingga penyerahan ijazah mahasiswa Fakultas Teknik hampir berakhir (FT meluluskan 380 orang). Setelah FT selesai, rasanya nggak terlalu lama menunggu hingga fakultas saya dipanggil. Hal yang saya perhatikan: IP tertinggi 3,93 dari FT; nama terpendek: Hana (tadinya saya dengernya ‘Hanya’); nama terpanjang: Raden Mas Radite Kumara Anindhita Mahendraswara Widagda Widyaswendra alias Raden Mas Kumara Widyaswendra.. *fyuh..* yang merupakan teman SD saya. (Hi, Wen!)

Setelah selesai, saya bertemu Mamah di tangga, ambil konsumsi, dan langsung menuju Fakultas, menghindari suasana di GSP yang seperti pasar tiban. Di jalan Mamah bercerita.

Mamah : “Mamah tadi nangis pas pembacaan do’a.”

Saya : *speechless.. mengira Mamah begitu terharu anaknya
akhirnya lulus*

Mamah : “Mamah sedih, habis semuanya ada pasangannya. Mamah kayak rondho dhadhapan, sendirian nggak ada yang nemenin. Tiap ketemu kenalan pasti ditanyain ‘Kok sendirian, Bapak mana?’ Padahal kan kamu masih punya Papah. Papah kok ya tega..”

Oalah.. itu to sebabnya..

Dan keadaan diperparah ketika kami berjumpa dengan teman Papah sesama dosen yang meninggalkan tugasnya demi menghadiri wisuda anaknya. Beliau malah memanas2i Mamah, “Lho, padahal Bapak itu sudah saya bilangin mbolos saja mengajarnya. Toh anak nggak wisuda tiap hari” (Lha iya lah Pak, mampus aja saya kalau disuruh wisuda tiap hari..)

Ditambah Papah & adik saya telat datang ke acara pelepasan di Fakultas sehingga mereka nggak masuk ruangan, Mamah pun semakin ngambek. Akhirnya Mamah mendiamkan Papah. Baru keesokan harinya acara ngambek diselesaikan.

Saya dan Papah di ruang makan, Mamah di dapur.

Mamah : “Bilangin sama Papah kamu, Mamah kemarin nangis.”

Saya : “Pah, kemarin Mamah nangis lho..”

Papah : “Wo? Nangis? Terharu po?”

Saya : “Karena sendirian, jadi Mamah merasa seperti janda.”

Papah : *memasang muka sok innocent seperti kura2 kami, suatu sikap yang sering ditiru oleh anak2nya*

muka kura2

Mamah : *memulai serangannya* “Aku ini masih punya suami to? Anak2 masih punya bapak to? Masak nggak meluangkan waktu untuk anaknya? Semua teman Papah nanyain kenapa Mamah sendirian.. dst..dst..”

Saya : *kabuuuurrr…* “Ra melu2 ah..”

Anyway, it was a memorable moment.. Tambah lagi karena Mamah lupa bawa kamera, Papah & adik2 nggak datang, sesi pemotretan baru dilakukan kemarin. No kebaya, just daster lapis toga.. ;)

February 16, 2008

Trans Jogja

Filed under: Uncategorized — yuti @ 9:05 pm

Percakapan dengan mas tetangga (MT) di pulau seberang via YM sebulan yang lalu.

MT: saiki neng jgj ana trans jogja po?
Yuti: gosip…
Yuti: adanya jg jogja tv
Yuti: eh, tp embuh ding mas
Yuti: kali aja ada tp kami blum nemu
MT: loh, katanya koridor nya udah mulai dipasang
Yuti: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………
Yuti: aku telmi pangkat 9
Yuti: iya…
Yuti: maksude bis to??
Yuti: iya ada…
Yuti: tak kirain TV je…

Oalah Trans Jogja.. Katanya bakal mulai jalan akhir Desember 2007, trus diralat jadi akhir Januari 2008. Sekarang sudah mendekati akhir Februari, Trans Jogja belum jalan juga.

Kemarin saya sudah melihat bapak2 & ibu2 yang tampaknya sedang bersih2 haltenya, terutama bersih2 coretan oknum “kreatif”. Heran deh Jogja ini, apa aja dirusak. Gek alasannya corat-coret halte bus itu apa to ya? Nggak setuju ada Trans Jogja? Menandai daerah kekuasaan seperti halnya anjing yang mengencingi benda2 di wilayah kekuasaannya? Apa pengen menunjukkan seni & kreativitasnya? Tur kok hasile elek ngono? Mbok nek pancen niat tenan, bikin coretan/lukisan yang bagus sekalian, nggak asal coret2, nggak asal rusak fasilitas umum. Lebih lanjut tentang vandalisme di Jogja tercinta ini, coba lihat blog Mas Ken.

Trans Jogja ini belum lagi beroperasi namun sudah menuai berbagai pro & kontra. Kalau saya sih mencoba berpikir positif saja. Trans Jogja bisa jadi solusi akan polusi udara & kemacetan Jogja lho. Memang sih, beberapa jalan di Jogja ini terlalu sesak untuk dilalui bus besar sehingga mungkin malah tambah macet. Tapi kalau ada transportasi umum yang nyaman dan aman, mungkin pengendara motor & mobil mau beralih naik bus. Yang jelas SAYA MAU!! Sayang jalurnya belum lewat dekat2 rumah saya. Saya berharap program ini sukses & segera dibuat jalur arah Jogja barat.

Saya pengen Jogja punya bus yang bagus. Nggak perlu sekeren SBS-nya Singapore atau Knight Bus-nya Harry Potter lah.. Yang penting nggak bikin jantung copot karena si bus tiba2 berjiwa roller-coaster, nggak banyak copet, dan nggak bikin wangi parfum yang kita pakai berubah jadi bau rokok dan asap kendaraan. Kita bisa tidur sejenak, baca2 (apalagi kalau mau ujian), nggak perlu khawatir kehilangan helm (atau malah kehilangan motornya), nggak perlu bayar parkir, dan nggak perlu ribet cari tempat parkir. Bayangkan.. instead of nyupirin ibu2 arisan berbelanja ke Beringharjo yang notabene adalah di Malioboro yang tingkat ke-stress-an supir tinggi, kita bisa menuju ke UPT UGM, parkir disana, dan mempersilakan ibu2 tersebut untuk ngebis Trans Jogja… ahahahaha…

Ah, cukup berkhayalnya.. Kita lihat saja beberapa bulan lagi bagaimana nasib Trans Jogja ini. Kalau gagal ya mungkin kita bisa memanfaatkan haltenya jadi.. uhm… WC umum? Warung? ATM? Atau tempat berteduh para pengendara motor yang lelah, letih & ngantuk?

February 10, 2008

Nikmatnya Sehat..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 12:08 am

Saya baru saja sakit rada serius. Pusing luar biasa, trus demam tinggi sampai 41°C. Dokternya khawatir, jangan-jangan kena DB. Maklum lagi musim. Setelah cek darah beberapa kali, ternyata positif Salmonella typhii dan Salmonella paratyphii. Ealah.. jebul tipus.

Sumpah baru kali itu saya merasakan sakit kepala hebat semalaman. Rasanya otak saya mengembang diluar kapasitas sehingga kepala ini rasanya mau pecah. Tambah panas tinggi, bisa apa saya ini selain menangis & glundang-glundung di atas kasur.

Pas sakit, makan apa saja rasanya bikin mual. Nggak sampai setengah sendok makanan tertelan, eh.. sudah keluar lagi. Namun karena ancaman dokter “kalau tidak mau makan harus opname di RS”, maka makanan terus saya paksakan masuk. Soalnya gawat kalau sampai masuk RS, bisa2 saya nggak ikut yudisium. Alhamdulillah, hari ke-6 panas & pusing akhirnya mereda. Dan saya pun bisa menonton acara layatan Pak Harto di TV.

Selain meninggalkan bekas jarum suntik di tangan karena 7 kali tes darah dalam 3 hari sehingga mirip junkies, sakit kemarin juga menyebabkan selera makan saya meningkat. Selama sakit, saya nggak doyan makan apa2 sehingga bobot sempat turun 2 kg. Setelah sembuh, rasanya koq pengen balas dendam aja. Sehari bisa makan 4-5 kali. Tambah lagi practically sekarang saya nganggur. Naiklah berat badan ini dengan suksesnya..

Mungkin saya akan menyesal kemudian, ketika berat badan saya naik 5 kg. Tapi saya sekarang benar-benar sedang menikmati sehat. Bisa makan mie surabaya, roti marie celup susu, bakpao, bubur SUN beras merah, bahkan minum air 1 gelas tanpa mual & muntah itu ternyata nikmat luar biasa.

Ternyata sakit itu reminder bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur disaat sehat.

*masih ngidam roti canai RM Sederhana & takoyaki*

Blog at WordPress.com.