syubidubidudamdam.. cuap!!

November 30, 2007

Blah.. Cinta!

Filed under: Uncategorized — yuti @ 6:25 pm

Apa itu cinta? Acha-Irwansyah mungkin bakal bilang Love is Cinta. Dian Sastro mungkin bakal balik nanya Ada Apa dengan Cinta?

Setelah YM-an dengan seorang sahabat semalaman, mencoba merumuskan CINTA sampai jam 3 dini hari dan saya hampir tertidur di depan komputer, saya malah semakin bingung..

Hari ini nggak sengaja saya nemu artikel ini, dari www.dudung.net. Mari kita bahas yuk..

MISKONSEPSI

“Manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. ….. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan deal kelompok dari mana kita berasal.” –> Betul banget! Persepsi cinta seorang wanita tentunya akan sangat dipengaruhi oleh orang-orang terdekatnya. Kalau saya sih jelas: Mama dan sahabat2 saya. Beberapa hal tidak sama dan mungkin malah bertentangan. Makanya saya bingung..

“Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks.” –> Sangat kompleks pak! Dan jangan lupa cinta bisa menyusut dan mati pula..

CINTA BUTUH WAKTU

“Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu.” –> Dan waktu pula yang bisa menyusutkan dan membunuh cinta.

“Dalam kasus “cinta pada pandangan pertama”, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri.” –> Hmm, gimana dengan cinta pada chattingan pertama ya? ;)

CINTA BERBAGI, TIDAK MENGONTROL

“Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi. Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan.” –> Saya tidak menguasai. Saya tidak mengalah. Tapi saya juga tidak berbagi. Gimana dong?

BUATLAH CINTA ITU KONSTRUKTIF

“Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari.” –> Mana pernah saya kehilangan selera makan? Tapi kalau kehilangan ambisi, cita2, dan mimpi.. Kayaknya saya jagonya!

CINTA TIDAK MELENYAPKAN SEMUA MASALAH

“….cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah.” –> Dan apakah cinta membuat sepasang kekasih takut menghadapi masalah?

CINTA CENDERUNG KONSTAN

“Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam.” –> Mampus nih aku..

CINTA TIDAK BERTUMPU PADA DAYA TARIK FISIK

“Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam.” –> Nah, sekarang saya bener2 bingung bedanya cinta dan afeksi.

CINTA TIDAK BUTA

–> Ya jelas lah..

CINTA MEMPERHATIKAN KELANJUTAN HUBUNGAN

“Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih.” –> Gimana kalau orang itu berpedoman ‘whatever will be, will be’?

“….usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar.” –> Nah lo..!!

CINTA BERANI MENYATAKAN HAL YANG TIDAK DISUKAI

–> Gimana ya? Pada dasarnya kan saya bukan pemberani..

 

Kesimpulan: Saya tetap masih bingung.. Kenapa nggak semudah yang anak2 ini bilang ya?

Apakah Indonesia masih kurang asap?

Filed under: Uncategorized — yuti @ 5:06 pm

What's in a cigarette?Gambar dari sini.

Saya nggak suka asap rokok. Saya nggak suka hampir semua jenis asap: asap knalpot, asap sampah bakar, asap ban bakar, asap obat nyamuk, bahkan asap sate ayam Madura Cak Hasan. Saya nggak suka lab Rekayasa karena di sana selalu ada penelitian tentang asap cair dan juga asap bubuk. Tapi yang paling bikin saya mual adalah asap rokok.

Beruntung saya dibesarkan di lingkungan bebas rokok. Ayah saya tidak merokok. Mungkin sekali dua kali setahun, pada acara tertentu atau sekedar menemani tamu. Pernah seorang tamu membawakan oleh2 rokok 1 boks besar. Kemasannya mewah, dari luar negri dan pastinya mahal. Tapi rokok itu baru habis setelah lebih dari setahun kemudian, itu pun sebagian besar dibagi2kan.

Pernah saya bertanya, “Papa ngerokok nggak sih?”

Dijawabnya, “Papa bisa menghabiskan 1 kotak sehari, tapi juga bisa tidak merokok bertahun2. Lagipula, mama nggak suka papa merokok..”

Oooohhh… sooo sweet… I love you so much Pa…

Saya memang terkesan kurang bersahabat terhadap perokok. Di kantin, nggak cuma sekali saya menegur orang yang asapnya kemana-mana. Kalau di tempat umum, biasanya saya akan batuk2 sampai si perokok sadar dan mematikan rokoknya. Tapi kalau masih bisa pindah, lebih baik saya menyingkir. Kalau sedang kumpul dengan teman2 dan di antara mereka ada yang merokok, biasanya saya kasih pilihan, “Matikan, kamu pindah, atau aku yang pindah?” (teman dekat lho.. kalau teman baru kenal saya biasanya ngalah, kan saya agak penakut juga..). Ketika sedang kumpul2 Lebaran, saya pernah hampir kena marah Pakde gara2 saya menertawakan Pakde yang sedang di’nasehati’ oleh cucunya yang masih TK, “Eyang, kata guruku, merokok itu nggak boleh lho Yang. Bikin cepet mati.” *gubrak..*

Tapi pernah juga saya ‘menyelamatkan’ perokok. Om saya salah satu korban kecelakaan Garuda. Di RS, rokok dan korek api yang ada di sakunya pun dipindahkan ke meja. Trus ketika tante yang baru datang dari Jakarta sedang membenahi meja, beliau bertanya, “Ini rokok siapa?”

Om diam saja. Kakak sepupu saya langsung tanggap, “Punyaku tante.” Saya yang tahu fakta sebenarnya ingin sekali memberi tahu tante. Tapi melihat om tergeletak tak berdaya, mukanya diplester sana-sini, jadi kasihan juga.. Ya sudah lah, saya pun diam saja.

Jangan dikira saya tidak mencoba memahami perokok. Saya mengambil mata kuliah Teknologi Karet & Tembakau (dimana kami mengubek2 masalah ban, kondom, cerutu & sigaret). Mr. Jack, dosennya yang ganteng mirip Doni Damara itu juga seorang perokok. Jadi beliau hebat jika diminta memberikan 1001 alasan kenapa merokok. Bahkan saya juga disuruhnya mencoba merokok!

Pada satu kuliah, saya yang duduk di baris depan ditanya, “Adik pernah merokok?” Saya kaget, terpesona, lalu menggeleng. “Wah, sekali2 perlu dicoba ya. Kalau pas bapak dan ibunya nggak ada. Di kamar aja, pintu dikunci, jendela dibuka.” Hwaah, hampir saja saya menjawab, “Anything for you, Sir..”

Dan untungnya sampai detik ini saya berhasil menahan diri untuk tidak terbujuk rayuannya. Eman-eman.. Apalagi setelah nonton film Thank You For Smoking. Eh, saya udah nyobain sheesha ding. Tapi itu kan beda, tidak mengandung unsur tembakau kan yaa..??

Nah, lha kok ya saya dapet ‘Mas’ yang perokok. Pas awal2 dolan bareng, saya tidak banyak komentar. Bukan masalah sok gak mau ngatur dan sok jaim, selama ini sang angin masih menyelamatkan saya. Asap rokoknya selalu ditiup menjauhi saya. Nah, sekarang saya sudah mulai berani menyuarakan pendapat nih. Kemarin sempat bersorak2 karena korek api si Mas ketinggalan. Tapi kemudian, kami mampir ke rumah temannya. Mas merokok, temannya juga. Dan asap pun berputar2 di ruangan itu. Saya pun terbatuk2 dan segera keluar mencari udara segar.

Batuknya tidak hilang2. Di mobil, Mas tanya, “Mau sakit ya?”

“Gara2 rokok Mas nih..”

“Yah, biasakan dengan orang yang merokok..”

Lho eh..??!! Jadi saya yang harus membiasakan diri nih??? Kok nggak Mas aja yang berhenti merokok ya??

Saya tahu.. tanpa rokok, ribuan rakyat Indonesia akan kehilangan pekerjaan. Sampoerna Foundation nggak akan bisa bagi2 beasiswa dan bikin konser simfoni seharga 10ribu.

Tapi rokok juga menyiksa orang2 macam saya yang benci dengan asapnya. Menyiksa anak2 yang tidak punya wewenang (atau pun keberanian) untuk menyuruh ayah mereka berhenti merokok. Menyiksa istri2 yang terpaksa menjadi perokok pasif karena suaminya yang aktif. Eh, saya kok jadi seolah2 menyatakan semua perokok adalah laki2 ya..

Untuk perokoknya sendiri, mereka berani merokok tentu tahu resikonya bahwa suatu hati nanti mereka akan memetik hasilnya: darah tinggi, bronkitis, kanker, etc. Semoga saja mereka sudah menabung banyak untuk membiayai akibat2 yang akan datang itu. Kasihan keluarganya kan? Sudahlah dipaksa menjadi perokok pasif, masih harus membayar ‘efek merokok’ pula..

Gambar dari sini.

Merokoklah sekarang, menderitalah 20 tahun kemudian!

November 24, 2007

Nonton Musicademia @GPH

Filed under: Uncategorized — yuti @ 11:10 pm

musicademia.jpg

Hari Rabu kemarin saya nonton konser Musicademia-nya Twilite Orchestra. Tiketnya murah banget, cuma 10 ribu. Maklum lah, dalam rangka Dies Natalis UGM plus disponsori Sampoerna Foundation. Tujuannya untuk mengenalkan musik simfoni kepada mahasiswa & anak muda. Graha Pacific Hall yang kapasitasnya 2000 orang itu langsung penuh manusia.

Saya memang suka klasik. Selain musik simfoni, saya suka classic rock juga. Teman saya suka mengejek selera saya emak2 banget gara2 dia tidak menemukan musik yang dia sukai di playlist mp3 saya yang sebenarnya cukup beragam itu (maklumlah, dia sukanya boyband Jepang). Huhh.. padahal emak saya nggak doyan musik rock lho.. Film klasik saya juga suka, misalnya Casablanca dan The Godfather.

Aaarrgghh.. jadi melenceng topiknya.. Balik ke konser itu ..

Saya beli 5 tiket, dengan niat mau nonton sama si Mas, adik laki2, dan mama. Oiya 1 lagi.. ibu tetangga. Tapi ternyata adik gak bisa ikut karena harus bikin tugas. Mama ngajar sampai sore. Dan ibu tetangga ada urusan mendadak (benernya saya bujuk anaknya biar mau jual tiketnya sih..). Jadilah memakai ‘pemeran pengganti’ yang memang kepengen nonton tapi nggak dapet tiket: adik perempuan saya dan 2 adik perempuan Mas. Ada satu lagi yang pengen ikut tapi gak dapet tiket: teman saya si penggemar boyband Jepang. Tapi biarin aja deh.. salah siapa suka menghina selera musik saya.. :p

Karena free-seating dan kami kurang cepet, tempat duduknya dapet di tengah2. Lumayan sih, kalau saja dibelakang kami bukan ABG yang super crigis.. Mereka ribuuuttt banget. Ngobrol terus mulai dari ngantri sampai pas konser, meskipun ada effort untuk mengecilkan volume suara. Haduuu… rasanya kayak nonton konser band aja. Pas Addie MS keluar, mereka langsung “kyaaaa… ganteng…!!”. Judul lagu ditampilkan di screen, mereka langsung “ooohh.. lagu ini..”. Trus pas Levi Gunardi (pianis) keluar, mereka langsung “aaaahh… Kevin.. ganteng banget..!”.

Haduuu… mbak.. mas.. itu Levi! Bukan Kevin anaknya Addie MS.

Sumpah, sebeeeelll banget!

Tambah lagi, yang duduk 2 baris di depan saya suka motret2. Bentar2 ngangkat kamera (atau HP ya?) buat motret. Padahal kan sama aja, mau dipotret awal atau akhir.. Wong ya yang main itu2 aja..

Saya pengen usul ke penyelenggara Musicademia. Yang dikenalkan nggak cuma musik simfoninya aja, tapi juga aturan2 nonton konsernya. Kalau perlu yang detail. Soalnya “para penonton dimohon untuk menjaga ketenangan” bagi sebagian orang ternyata berarti “tidak boleh teriak2 tapi boleh bisik2″.

Trus ya, semoga saja di Jogja segera dibangun concert hall yang keren dan muat banyak. Kalau tempatnya kayak kemarin, di Grand Pacific Hall, leher saya bisa tengeng karena harus mendongak selama pertunjukan. Gak ada tukang pijetnya lagi!!

November 21, 2007

fR!3nd$T3r

Filed under: Uncategorized — yuti @ 10:57 am

Orang Indonesia hare gene gak punya frenster? Entah termasuk dalam 68% atau yang 32%, hampir semua orang yang saya kenal, kecuali emak2 dan bapak2 (sekali lagi orang Indonesia lho..), punya akon FS, Saya sampai pernah bilang ke mamah, “Ma, kalo mama sampai bikin akon FS, kita gak kenal ya..”

(yang gak mudeng kenapa 68%, coba deh cari di google)

Saya sendiri sepertinya termasuk yang 32% lho. Nulis nama aseli, versi kumplit pula. Padahal panjangnya lumayan, 3 kata/9 suku kata/24 huruf. Itu belum nulis nama keluarga lho. Kalo pake nama keluarga, masih tambah 14 huruf lagi. Kenapa mama dan papa gak puas kalo belum ngasih nama anaknya sampai 3 kata ya. Tak sadarkah mereka dahulu bahwa hal itu akan memperlama waktu ‘mewarnai’ kolom nama waktu SPMB?? Untungnya saya ini males, jadi kemungkinan untuk mendapat gelar Prof. lumayan kecil. Kebayang kan kalo mantu, nama saya memenuhi halaman.

Kami yang berbahagia

 

XX nama suami XX

Prof. Dr. Yutikut Ikulala Beibehcuap Syubidubdamdam, S.X., M.X

 

XX nama Mr. besan XX

XX nama Mrs. besan XX

XX nama anak XX

XX nama menantu XX

aih…

Kembali ke FS..

Rasanya FS memang dikuasai oleh anak SMA dan ABK (anak baru kuliah). Yang sialnya memang masih lucu2nya. Kadang saya berandai2, seandainya jaman saya SMA dulu sudah ada FS, tentunya saya akan semakin sedikit menghabiskan waktu di kelas dan semakin banyak berkunjung ke warnet Aktive sebelah sekolah itu. Yah.. mungkin itu harus disyukuri.

Dulu, semangat sekali saya main FS. Nambahin foto, ngedit profile, gonta-ganti template, bermurah hati membagi testimonial. Ritual setiap kali buka FS adalah melihat ‘who viewed me’, mengubah setting menjadi ‘view profiles anonymously’, trus memata2i profile the crush: lagi sibuk apa, udah punya cewek belum, siapa yang berani2nya lagi deketin crushy kita. Trus jadi uring2an kalo tiba2 status mereka berubah jadi ‘in a relationship’ atau malah ‘married’. “Aaaaarrrgggghhhh… D*MN..!! Keduluan orang!!”

Hehe, jujur aja sekarang juga masih kaya gitu sih, kadang2.. Memata2i orang dan berburu bahan yang kira2 bisa digosipkan. Cuma caranya beda, lebih sophisticated lah..

Semakin tua (tapi saya belum lagi seperempat abad loh..), rasanya semakin males aja main FS. Sesekali membuka akon, mengecek apakah ada messages atau comments. Dan akhirnya kecewa kalo ternyata nggak ada apa2. Merasa penggemar (hidiiy.. najis bgt istilahnya) sudah berkurang karena mereka lebih terpikat oleh anak2 yang lebih muda dan kinyis2, dan akhirnya semakin sebal dengan anak2 yang lebih muda dan kinyis2 tersebut.

Ada beberapa hal yang bikin sebal ketika berFS ria:

  1. Nggak pake nama asli. Susah nyarinya tauk!! Kalo kita pas butuh kontak2an, mau nyari dia harus ngecekin profile di frenlis satu2. Huuuuhhh!!
  2. Nambahin character -, #, *, dll. dengan maksud biar namanya jadi di halaman pertama frenlis. Contoh: ——–yuti_imut——– Alasan idem dengan yang di atas.
  3. Nggak pake foto asli. Alasan idem.
  4. Gak bisa mbedain angka dan huruf, dan mencampuradukkan pemakaian huruf besar dan kecil, ditambah pemakaian bahasa sok disingkat gak jelas dan imut-ized. c0Nt0h Sp3Rti tUL1s4N 9w iNi l0Wh.. Gak sekalian nulis pake hieroglyph aja?
  5. Pake background dan tulisan dengan warna yang sama. Gak sekalian nulis pake invisible ink aja?
  6. Komen2 bersuara yang akan menghantui kalbu setiap manusia yang singgah di profile tersebut. Untuk hal ini, tersangka utama adalah babaflash dan kapanlagi.com
  7. Ngirim2 komen atau message berantai. Apalagi yang pake ancaman itu.. Misalnya: ‘kalau kamu nggak foward message ini dalam waktu 5 menit ke 20 orang, maka nanti malam tidurmu akan ditemani pocong..’ AAAARRRGGGHHH!!!! Emang sih guling saya bentuknya kaya pocong!! Tapi mbok ya nggak segitunya… Apa sih maksudnya!!??
  8. Posting bulletin yang sama berulang kali.

Huuhh.. bikin males.. Itu belum termasuk orang tidak dikenal yang minta di-add. Kalo dia trus ngajak kenalan dan akhirnya malah jadi temenan sih mending ya.. Lha kalo semata2 biar frenlistnya keliatan banyak.. Hmmppfff…

Tapi.. mengingat 68% data FS itu palsu.. harusnya saya nggak perlu sewot gini ya…

November 20, 2007

Hayhay..

Filed under: Uncategorized — yuti @ 3:41 am

Euh.. bikin wordpress pula. Padahal punya blogspot jarang di-maintain.

Blog at WordPress.com.