PLAN
Satu kata yang sangat familiar (karena dulu Mamah bekerja di NGO dengan nama yang sama) tapi jarang diterapkan. Saya dulu paling malas membuat rencana. Pokoknya que sera sera.. Whatever will be, will be..
Mau kemana setelah SMA? Ah, liat aja ntar masuk yang mana..
Kapan selesai kuliah? Ah, ntar juga pasti selesai..
Kapan mau nikah? Ah, jalanin aja dulu.. (kalimat yang kata Mamah “sok ngartis banget”)
Orang Jawa mungkin terkadang memandang tabu mengungkapkan keinginan2 atau rencana2. Takut kalau nggak kesampaian dan akhirnya malu. Tapi bukan itu alasan saya tidak membuat rencana. Memang dasarnya MALAS, piye meneh?
Terbukti skripsi saya lama selesainya. Semua adalah akibat tidak adanya perencanaan. Saya mulai skripsi karena kepepet. The clock is ticking.. Benar2 asal sehingga saya banyak menemukan kendala akibat kurang rencana itu. Misalnya: mau pakai spektrofotometer tapi alatnya dipakai mahasiswa lain karena waktu ngelab saya nggak disesuaikan dengan jadwal praktikum, bahan untuk penelitian habis dan harus menunggu waktu panen berikutnya (yang masih beberapa bulan lagi), dll. It’s a wonder I could pass..
Setelah akhirnya lulus pun saya belum punya pegangan. Ikut Job Fair dan memasukkan surat lamaran ke setiap perusahaan yang menerima lulusan dari jurusan saya. Dari 7 lamaran yang saya masukkan (ada yang untuk perusahaan taksi Blue Bird pula – I really have no idea..), terjaring 2 bank. Kerja di bank itu ‘bukan-saya-banget’, tapi waktu itu sepertinya keren. Pada saat yang sama, dosen pembimbing saya menyarankan agar saya melamar lowongan di sebuah kantor pemerintah di sebuah kota kecil yang terbelakang. She thought it’d be good for my mental health development. Dengan berat hati saya memasukkan lamaran ke sana, sambil misuh2 di jalan yang panjang dan gronjalan, demi menyenangkan hati kedua ibu saya (Mamah dan ibu dosen itu..). Saya berkata ke Mamah, “Pokoknya kalau lolos bank X, aku cabut dari sana lho ya.. Pokoknya kalo kena denda Mamah ganti!”
A day.. a week.. a month.. passed. Lama2 saya mulai suka dengan pekerjaan saya. Meskipun di sana nggak ada mall, meskipun jauhnya puooolll, meskipun setiap hari kumpulnya dengan petani2 yang nggak keren, meskipun harus sering2 ke gunung, meskipun internet baru masuk setelah 2-3 bulan saya di sana, dan meskipun2 lainnya.. Ibu dosen benar, pekerjaan itu baik untuk saya. Saya jadi lebih bersyukur, lebih bisa menghargai dan mendengarkan orang lain, lebih berempati, dan lebih lancar berbahasa Jawa..
Saya juga lebih percaya diri. Ilmu saya insyaAllah bermanfaat, bahkan yang sering saya anggap sebagai ‘pengetahuan sepele’ (misalnya photoshop & blogging). Wajar saja, dari lingkungan kampus yang berisi profesor2 dan doktor2, ke tempat yang kurang akses teknologi gitu loh.. Jadi merasa lebih pintar lah.. Anyway, pekerjaan di kota kecil itu hanya temporary. Kontrak 10 bulan yang kini akan segera habis dalam hitungan hari.
Pada bulan pertama saya bekerja, saya sempat berdiskusi dengan Om. (Saya jarang diskusi masalah semacam ini dengan Papah – an older-fashioned dad.)
Om : Yuti, start planning what you’re gonna do next!!
Y : Yaelah Om, baru juga masuk kerja..
Om : Salah itu! Mulai sekarang kamu harus apply lowongan2 atau bikin business plan apalah! Kamu tau, adikmu (sepupu yang kerja di Jepang -red) mengirim ratusan lamaran berbulan2 sebelum lulus. Bikin banyak plan, kalau perlu sampai plan Z! Jangan tunggu sampai jobless!!
Akhirnya saya mulai juga bertindak: cari2 beasiswa & lowongan kerja. Om selalu memonitor, menelpon untuk menanyakan kemajuan. “Gimana, udah sampai mana? Ayo semangat!”
Hasilnya: saya gagal dapat beasiswanya, tapi berhasil lolos CPNS. Alhamdulillah.. Saya bersyukur nggak nunggu kerjaan saya sekarang selesai kemudian baru menyerbu jobfair.
Nah, sekarang karena ’sekolah lagi’ turun peringkat dalam skala prioritas saya, otomatis ‘cari calon suami’ jadi menempati posisi atas (meski bukan yang teratas). Udah kalah nih sama mantan, dia udah mau nikah & saya belum dapat pacar. *damn!!* Situasi & kondisi 10 bulan belakangan ini benar2 tidak kondusif..
Si Om pun mulai mengirimkan email address bujangan2 yang beliau approve dengan pesan “Coba kamu kontak dulu alamat ini..” Gyahahaha…
Ayo..ayo.. Wahai wife-seeker & mak comblang from all over the world, ayo berpartisipasi..!!
Memang Tuhan yang menentukan, tapi manusia kan wajib berencana dan berusaha.. Setuju???